Surabaya: Empat Stasiun Utama, Sejarah Perkeretaapian Kota
Gambar atau konten salah?
Kereta api tetap menjadi pilihan utama bagi warga Surabaya, baik untuk perjalanan sehari‑hari maupun rute jarak menengah. Karena itu, kota ini memiliki beberapa stasiun penting yang melayani berbagai rute. Berikut adalah empat stasiun utama di Surabaya beserta sejarah singkatnya.
Stasiun Surabaya Kota (Stasiun Semut) merupakan stasiun pertama di kota ini. Pembangunan dimulai pada tahun 1875 oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS) di masa pemerintahan Hindia Belanda. Jalur pertama yang dibangun menghubungkan Surabaya dengan Pasuruan dan Malang, dikenal sebagai lintas Oosterlijnen atau lintas timur. Stasiun ini resmi dibuka pada 16 Mei 1878, bersamaan dengan peresmian jalur Surabaya‑Pasuruan sepanjang 63 kilometer. Upacara tersebut dipimpin oleh Gubernur Jenderal JW van Lansberge dan dihadiri oleh Inspektur Jenderal SS, HG Derx, serta Residen Surabaya.
Bangunan stasiun menampilkan arsitektur Neo‑Klasik ala Yunani Kuno. Pada tahun 1881, stasiun ini direnovasi untuk menyesuaikan kebutuhan lalu lintas yang semakin meningkat. Empat tahun kemudian, SS menambah jalur baru dari Stasiun Semut menuju kawasan Kalimas di Pelabuhan Surabaya. Jalur ini berperan penting dalam mendukung status Surabaya sebagai kota ekspor, khususnya gula, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pusat industri dan perdagangan.
Stasiun ini mendapat nama “Stasiun Semut” karena lokasinya di kawasan Kampung Semut, yang strategis berada di antara Wonokromo dan Pelabuhan Tanjung Perak. Seiring waktu, stasiun ini juga berfungsi sebagai pelabuhan barang. Pada tahun 1996, Pemkot Surabaya mengklasifikasikan bangunan ini sebagai bangunan cagar budaya, dan pada 2007 status tersebut ditingkatkan menjadi cagar budaya tingkat nasional.
Stasiun Wonokromo terletak di Jalan Stasiun Wonokromo No 1 Jagir, Surabaya. Seperti Stasiun Semut, Wonokromo juga merupakan bagian dari jaringan Staatsspoorwegen pada masa kolonial Belanda. Kini, jaringan ini dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan berada di bawah Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya.
Keunikan Wonokromo terletak pada statusnya sebagai bangunan cagar budaya. Penetapan ini didasarkan pada nilai historisnya, mulai dari arsitektur klasik, struktur bangunan, hingga artefak yang mencerminkan perkembangan perkeretaapian di Jawa Timur. Beberapa elemen lama masih dapat ditemukan, seperti bangunan asli, ornamen peron, dan sistem persinyalan yang sudah ada sejak masa kolonial. Meskipun telah mengalami renovasi untuk menyesuaikan kebutuhan modern, nuansa historis stasiun ini tetap terjaga.
Stasiun Gubeng memiliki dua bagian: Stasiun Gubeng Lama dan Stasiun Gubeng Baru. Lokasinya berada di jantung kota Surabaya, di kelurahan Pacar Keling, Tambaksari. Stasiun ini mulai beroperasi pada 16 Mei 1878, namun pembangunan sebenarnya dimulai pada 1868 sebagai bagian dari proyek jalur kereta api Surabaya‑Pasuruan yang dirancang oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Bangunan awal menampilkan gaya chalet khas Staatsspoorwegen, dengan struktur kuat dan jendela berukuran besar. Pada tahun 1928, lobi utama diperluas untuk meningkatkan kenyamanan penumpang. Perubahan signifikan terjadi pada 07 Juni 1996 ketika gedung baru dibangun di sisi timur rel. Pembangunan ini memisahkan area stasiun menjadi Gubeng Lama dan Gubeng Baru, sehingga layanan menjadi lebih terorganisir.
Stasiun Gubeng juga memiliki kaitan sejarah dengan Soekarno, presiden pertama Indonesia. Ia pernah bekerja di stasiun ini saat menempuh pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini dikenal sebagai ITBSuasana. Suasana di Stasiun Gubeng Lama menjadi saksi bisu perjalanan sejarah tersebut.
Stasiun Pasar Turi berlokasi di Surabaya Utara, tepatnya di perbatasan Kelurahan Gundih dengan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. Awalnya, stasiun ini bernama Soerabaja NIS Station. Selanjutnya, nama “Pasar Turi” diadopsi karena lokasinya dekat dengan pasar di Kelurahan Gundih. Nama resmi “Surabaya Pasar Turi” mulai digunakan pada 1950‑an ketika Djawatan Kereta Api melakukan pengarsipan nama stasiun di Indonesia.
Stasiun ini dibangun untuk menghubungkan rute Gundih‑Gambringan‑Bojonegoro‑Surabaya, dengan perluasan ke Gresik hingga Babat‑Merakurak. Seiring perkembangan teknologi, sistem sinyal mekanis di stasiun ini diganti dengan listrik pada tahun 2014 oleh PT Len Industri. Menariknya, stasiun ini merupakan hasil pengembangan perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda, yaitu NIS. Setelah meraih keuntungan besar, NIS memperoleh izin pada 01 September 1879 untuk membangun jalur baru lintas Gundih‑Gambringan‑Bojonegoro‑Surabaya sebagai bagian dari pengembangan jalur utara.
Keempat stasiun ini tidak hanya berfungsi sebagai titik transit, tetapi juga menjadi saksi sejarah perkembangan perkeretaapian di Surabaya. Dari bangunan Neo‑Klasik Stasiun Semut hingga sistem sinyal listrik di Pasar Turi, setiap stasiun mencerminkan fase berbeda dalam perjalanan kota. Mereka tetap menjadi bagian penting dalam mobilitas harian warga, sekaligus warisan budaya yang harus dilestarikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gudang Plastik Bekas di Jabon Tumbang Terbakar, 11.25 WIB
Polres Lamongan Tangkap 21 Kendaraan Brong di Babat
Pameran 'Aku Arek Suroboyo' Surabaya Kenang Jejak Bung Karno
PBNU Siapkan Musyawarah 2026 di Ponpes Al Falah Ploso
PBNU Kunjungi Ponpes Al Falah Ploso, Siapkan Munas 2026
Cuaca Surabaya: Berawan, Suhu 24-32°C, Kelembapan 50-81%
Berita Terbaru
Telur Omega‑3: Kandungan Omega Tinggi, Kolesterol Sedikit
Portugal Tambah 340 Polisi di Bandara Musim Panas Pelancong
Kane Gol Pertama, Inggris Siap Piala Dunia 2026: Menanjak
Marc Marquez Memulai Hungaria 2026 dari Pole, Bahunya Sembuh
Gudang Plastik Bekas di Jabon Tumbang Terbakar, 11.25 WIB
Airbus Uji Terbang A350‑1000ULR: 22 Jam Tanpa Henti
Indonesia U-19 vs Vietnam: Laga Penentu Semifinal AFF 2026
MPLS 2026 Dirilis, Pedoman Sekolah Kenali Murid Baru
