Surabaya Tahun Baru Islam 1448: Puasa Muharram 1‑10 Juni

Eko P. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
Surabaya Tahun Baru Islam 1448: Puasa Muharram 1‑10 Juni

Gambar atau konten salah?

Surabaya menapaki tahun baru Islam 1448 Hijriah, dan banyak umat Islam memulai tahun dengan amalan sunah. Salah satu amalan yang paling dianjurkan adalah puasa di bulan Muharram, mulai dari 1 Muharram, Tasu'a pada 9 Muharram, hingga Asyura pada 10 Muharram.

Bulan Muharram termasuk dalam empat bulan haram, yang dimuliakan dalam Islam. Karena keistimewaannya, umat dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk puasa sunah. Buku “Inilah Alasan Rasulullah SAW Menganjurkan Puasa Sunah” karya H Amirulloh Syarbini dan Hj Iis Nur'aeni Afgandi menjelaskan bahwa puasa Muharram adalah puasa sunah paling utama setelah puasa Ramadhan.

Menurut hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baiknya puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadis ini menjadi dasar mengapa banyak orang memanfaatkan awal tahun Hijriah untuk memperbanyak puasa sunah.

Berikut jadwal puasa sunah Muharram 1448 Hijriah menurut Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama RI:

  • 1 Muharram 1448 Hijriah – 16 Juni 2026
  • 9 Muharram 1448 Hijriah – 24 Juni 2026
  • 10 Muharram 1448 Hijriah – 25 Juni 2026

Perlu diketahui bahwa pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai saat maghrib. Malam 1 Muharram sudah dimulai setelah matahari terbenam pada 15 Juni 2026.

Selain 1 Muharram, puasa Tasu'a pada 9 Muharram dan puasa Asyura pada 10 Muharram memiliki keutamaan besar. Sebelum melaksanakan, umat dianjurkan membaca niat puasa Muharram agar ibadah menjadi sempurna.

Berikut niat puasa 1 Muharram, dikutip dari buku “Ternyata Shalat & Puasa Sunah dapat Mempercepat Kesuksesan” karya Ceceng Salamudin:

  • نَوَيْتُ صَوْمَ شَهْرِ مُحَرَّمَ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى Nawaitu shauma syahri Muharram sunnatal lillaahi ta'aala. Artinya: Saya niat puasa Muharram sunnah karena Allah ta'âlâ.

Berikut niat puasa 9 Muharram (Puasa Tasu'a), berdasarkan buku “Lu'lu' al-Mujmi'at” susunan Dr Rajo Bungsu M Pd I:

  • نَوَيْتُ صَوْمَ تَسُعَاءَ سُنَّةً لِلَِّهِ تَعَالَى Nawaitu shauma tasu'aa sunnatan lillâhi ta'âlâ. Artinya: Saya berniat puasa sunnah Tasu'a karena Allah Ta'ala.

Berikut niat puasa 10 Muharram (Puasa Asyura):

  • نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلَِّهِ تَعَالَى Nawaitu shauma 'aasyuraa sunnatan lillâhi ta'âlâ. Artinya: Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta'ala.

Keutamaan puasa Muharram sangat besar. Dari buku “Kumpulan Khotbah Jumat Sepanjang Tahun Hijriyah” karya Reyvan Maulid, salah satu keutamaan puasa di bulan ini adalah puasa Asyura yang dapat menghapus dosa selama setahun.

Hadis yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Qatadah RA menegaskan: “Puasa Asyura melebur dosa setahun yang telah lewat.

Imam al-Qurthubi juga menyebutkan bahwa puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena bulan ini adalah awal tahun baru. Menurut Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ad-Dibaj 'Ala Muslim, “Puasa Muharram menjadi puasa yang paling utama karena Muharram merupakan awal tahun baru, maka pembukaannya adalah puasa yang merupakan amal paling utama.

Itulah alasan mengapa puasa Muharram disebut sebagai puasa terbaik setelah Ramadhan. Para ulama menjelaskan bahwa puasa ini memiliki kedudukan istimewa karena dilakukan pada bulan yang disebut Rasulullah SAW sebagai “Syahrullah” atau bulan Allah.

Rasulullah SAW menganjurkan puasa Tasu'a dan Asyura karena beberapa alasan. Pertama, ia mengikuti jejak syukur Nabi Musa AS. Ketika Nabi Musa AS dan Bani Israil diselamatkan dari Firaun, kaum Yahudi berpuasa pada 10 Muharram sebagai bentuk syukur. Rasulullah kemudian berpuasa pada hari Asyura dan menganjurkan umat untuk melakukannya.

Kedua, ia ingin meneliti tradisi kaum Yahudi. Meski sama berpuasa pada 10 Muharram, Rasulullah tidak menghendaki umat Islam meniru praktik tersebut secara persis. Ia menambahkan puasa pada 9 Muharram, atau Tasu'a, sehingga umat dapat menjaga identitas ibadah mereka.

Ketiga, puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa setahun. Rasulullah bersabda: “Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim). Keutamaan ini membuat puasa Asyura menjadi salah satu amalan sunah paling dianjurkan.

Keempat, puasa Asyura mengingatkan umat akan hari-hari penting dalam sejarah para nabi. Hari Asyura sering dikaitkan dengan keselamatan Nabi Musa AS dari Firaun dan keselamatan Nabi Nuh AS setelah banjir besar. Puasa ini menjadi sarana mengenang perjuangan para nabi dan meneladani keteguhan mereka.

Dengan mengikuti puasa Muharram, khususnya puasa Asyura, umat Islam dapat memperkuat hubungan dengan Allah, menghapus dosa, dan memulai tahun baru dengan amal yang lebih baik. Puasa ini menjadi momentum refleksi diri dan penyesuaian spiritual di awal tahun Hijriah.

SurabayaTahun Baru IslamPuasa MuharramTasu'aAsyuraKeutamaan PuasaKalender Hijriah

Komentar

Memuat komentar...