Talkshow Bupati Jember: Sekolah Berdaya Tahan Pernikahan Dini

Andi B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
Talkshow Bupati Jember: Sekolah Berdaya Tahan Pernikahan Dini

Gambar atau konten salah?

Di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Bupati Gus Fawait menggelar talkshow bertema “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” pada Hari Kartini 2026. Acara tersebut diadakan Rabu, 15 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian perayaan nasional.

Gus Fawait menegaskan bahwa pernikahan dini tidak dapat dipisahkan dari tantangan sosial lain. Ia menyebut stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB) sebagai masalah yang saling terkait.

“Masalah pernikahan dini dan persoalan pendidikan lainnya tidak bisa diselesaikan oleh bupati atau kepala dinas saja. Perlu kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga keluarga,” ujar Gus Fawait.

Ia juga menyoroti bahwa batas usia pernikahan telah diatur dalam undang-undang, yang pada dasarnya mempertimbangkan kesiapan kesehatan reproduksi.

“Banyak kasus stunting terjadi karena kehamilan di usia sangat belia, tidak sesuai dengan yang telah dicanangkan pemerintah,” tambahnya.

Sebagai upaya konkret, Pemkab Jember tengah merancang program sekolah berdaya dengan pendekatan berbasis karakteristik wilayah. Program ini mencakup kawasan perkotaan, pedesaan, hingga pesisir.

Najelaa Shihab mengapresiasi langkah Pemkab Jember yang dinilai progresif karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pembangunan pendidikan. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya soal sekolah, tetapi juga keluarga dan isu sosial, termasuk pernikahan anak.

Sebagai informasi, Najelaa Shihab merupakan pendiri Sekolah Cikal, sebuah institusi pendidikan inklusi berbasis kompetensi di Indonesia. Sekolah ini berfokus pada pengembangan diri, minat, dan bakat anak secara unik dari jenjang PAUD hingga SMA. Cikal dikenal menggunakan kurikulum kompetensi 5 Bintang, menerapkan blended learning, serta menyediakan Pendidikan Inklusi Cikal (PIC) bagi anak berkebutuhan khusus.

Pendiri Sekolah Cikal tersebut juga menilai bahwa langkah Jember menunjukkan perubahan paradigma dalam pendidikan, dari yang semula berfokus pada institusi menjadi pendekatan ekosistem. Ia berharap program yang dirintis ini dapat menjadi model praktik baik bagi daerah lain.

“Ini bukan sekadar program, tapi bagaimana semua pihak berkolaborasi untuk menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya.

Acara ini menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan keluarga dalam memerangi pernikahan dini serta masalah kesehatan reproduksi dan pendidikan di Indonesia.

Pernikahan DiniStuntingPendidikan InklusiSekolah CikalKolaborasi PemerintahBlended LearningEkosistem Pendidikan

Komentar

Memuat komentar...