Teheran Buka Jalur Selat Hormuz untuk Kapal Non-Musuh
Gambar atau konten salah?
Iran menegaskan pada 26 Maret 2026 bahwa kapal yang tidak bersifat musuh dapat melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul di tengah penurunan drastis lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut, yang memicu krisis energi global terbesar dalam beberapa dekade.
Dalam pernyataan resmi, misi Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa kapal dapat menggunakan jalur aman di perairan Selat Hormuz, asalkan tidak terlibat atau mendukung tindakan agresi terhadap Iran dan mematuhi aturan keselamatan serta keamanan yang berlaku.
Aljazeera melaporkan pada Kamis, 26 Maret 2026, bahwa kapal juga diizinkan melintas dengan koordinasi bersama otoritas Iran yang berwenang. Sebelumnya, Iran telah mengirimkan pernyataan serupa kepada International Maritime Organization (IMO), badan PBB yang bertanggung jawab atas keselamatan pelayaran internasional.
Namun, Teheran tidak merinci aturan apa saja yang harus dipatuhi kapal untuk bisa melintas dengan aman di selat tersebut. Selat Hormuz, yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia, tetap menjadi titik kritis bagi rantai pasokan energi global.
Pernyataan Iran muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Meskipun Teheran sendiri sebelumnya membantah adanya pembicaraan tersebut.
Walaupun masih ada sejumlah kecil kapal yang melintas setiap hari, volume lalu lintas di Selat Hormuz tetap jauh di bawah kondisi normal sebelum perang dimulai pada 28 Februari 2026. Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat hanya lima kapal yang melintas pada Senin, turun drastis dari rata-rata sekitar 120 kapal per hari sebelum konflik.
Di awal konflik, Iran sempat memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintas akan menghadapi serangan. Namun dalam beberapa pekan terakhir, pejabat di Teheran menegaskan bahwa jalur tersebut tetap terbuka, kecuali bagi pihak yang dianggap sebagai musuh.
Anjloknya aktivitas pelayaran di selat tersebut mendorong lonjakan harga energi global. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak bisa naik hingga US$ 150 bahkan US$ 200 per barel jika jalur itu tetap tertutup secara efektif.
Setelah sempat bertahan di atas US$ 100 per barel sepanjang Maret, harga minyak Brent yang menjadi acuan global turun lebih dari 9% pada Rabu, setelah laporan menyebut pemerintahan Trump mengirimkan proposal 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri perang.
Keputusan Iran untuk membuka jalur Selat Hormuz bagi kapal non-musuh, sambil tetap menegaskan batasan bagi pihak musuh, mencerminkan ketegangan politik yang berlanjut dan dampak ekonomi besar yang dirasakan di seluruh dunia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Turun 3,48% di Sesi I, Saham Bank Jatuh Signifikan
Prabowo Tegaskan MBG: Tetap Utuh, Tanpa Korupsi, Porsi Aman
Kenaikan Harga Minyakita Tertinggi Disepakati, Waktu Belum
PHK Januari–Mei 2026 Turun ke 23.470, Proyeksi CORE Naik
MBG Teriak Korupsi: BGN Diputar, Prabowo Tetap Optimis
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Berita Terbaru
