Telur Retak: Kenapa Tidak Aman Dikonsumsi Penting
Gambar atau konten salah?
Telur adalah bahan pokok yang sering dimasak di rumah. Namun, ketika telur tergores atau retak sebelum dibuka, banyak orang bertanya apakah masih aman dikonsumsi. Telur retak dapat menimbulkan risiko kesehatan yang perlu dipahami.
Pakar keamanan pangan asal Washington, Bill Marler, menegaskan bahwa telur yang sudah retak sebelum dipecahkan sebaiknya tidak dikonsumsi. Ia menjelaskan bahwa retakan pada cangkang dapat menjadi pintu masuk bakteri Salmonella ke dalam telur. “Telur yang retak memungkinkan Salmonella masuk dan berkembang biak di dalam telur. Risikonya cukup besar,” ujar Marler, dikutip pada 03 Juni 2026.
Namun pandangan tidak selalu sama. Profesor Ilmu Pangan dari Rutgers University, Donald Schaffner, mengatakan tingkat risiko bergantung pada ukuran retakan dan lamanya telur berada dalam kondisi tersebut. “Jika retakan telur sangat kecil dan baru terjadi, kemungkinan bakteri masuk masih relatif rendah. Sebaliknya, retakan besar atau yang sudah terjadi sejak lama memiliki risiko kontaminasi yang lebih tinggi,” jelas Schaffner.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) tetap merekomendasikan agar telur yang retak atau kotor dibuang. Langkah ini dianggap sebagai cara paling aman untuk mencegah keracunan makanan. CDC menekankan pentingnya kebersihan dan penanganan telur yang tepat.
Schaffner menambahkan bahwa telur yang baru retak masih dapat digunakan untuk masakan yang dimasak hingga matang sempurna. Proses pemanasan yang cukup umumnya mampu membunuh bakteri Salmonella. Ia mengingatkan bahwa meski kecil, tetap ada kemungkinan bakteri lain masuk ke dalam telur dan menghasilkan racun yang tidak hilang saat dimasak.
Salmonella sendiri menjadi salah satu penyebab utama penyakit bawaan makanan. Pakar kebijakan keamanan pangan dari Northeastern University, Darin Detweiler, menjelaskan bahwa bakteri tersebut bahkan bisa berada di dalam telur sebelum cangkang terbentuk. “Salmonella terkadang menginfeksi saluran reproduksi ayam petelur sehingga bakteri dapat masuk ke dalam telur sebelum cangkangnya terbentuk,” jelasnya.
Gejala infeksi Salmonella biasanya berupa demam, diare, dan kram perut. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi adalah anak-anak, ibu hamil, lansia, dan orang dengan sistem imun yang lemah. Menyimpan telur di lemari pendingin dapat memperlambat kerusakan membran alami yang memisahkan putih dan kuning telur, sehingga menghambat pertumbuhan bakteri.
Meskipun ada pendapat bahwa telur yang baru retak masih bisa dimanfaatkan jika dimasak hingga matang, sebagian besar pakar menyarankan untuk tidak mengambil risiko. Menghindari telur retak dan menjaga kebersihan serta suhu penyimpanan tetap menjadi langkah preventif yang paling sederhana.
Dengan memahami risiko dan mengikuti pedoman keamanan pangan, konsumen dapat membuat keputusan yang lebih aman tentang penggunaan telur retak di rumah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kasus COVID-19 China Melonjak Tiga Kali Lipat pada Juni 2026
Alasan Australia Tolak Daun Kelor sebagai Pangan Sehari-hari
Gelombang Panas Tewaskan 2.700 Orang di Inggris & Wales
Menu Makan Harry Kane: Salmon, Nasi, dan Salad
Uji Ketajaman Mata: Temukan Objek Tersembunyi
7 Makanan Atasi Wajah Bengkak Tanpa Diet Ekstrem
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
