TKA SMP Denpasar: Siswa Keluhkan Waktu dan Matematika

Vera T. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
TKA SMP Denpasar: Siswa Keluhkan Waktu dan Matematika

Gambar atau konten salah?

Denpasar, Kamis 16 April 2026 – TKA SMP pertama kali diadakan di SMP Negeri 3 Denpasar dan langsung menimbulkan keluhan. Siswa merasa kesulitan mengerjakan soal Matematika karena waktu terbatas dan pemahaman konsep dasar yang lemah akibat PJJ selama pandemi COVID‑19.

“Memang yang dikeluhkan di matematika, terutama masalah waktu,” kata Wakil Ketua Kurikulum, Ayu Astuti, saat ditemui. Ia menekankan bahwa ketidaknyamanan ini tidak terlepas dari dampak pembelajaran jarak jauh.

Format TKA menuntut siswa menyelesaikan 30 soal dalam 75 menit. Kondisi ini membuat banyak siswa kehabisan waktu sebelum seluruh soal terselesaikan.

“Kalau di matematika, karena dia 30 soal dan waktu pengerjaan 75 menit. Ini yang dirasa cukup buat mereka buru‑buru ngerjain soalnya,” jelas Astuti. Ia menilai bahwa kesulitan ini berakar pada pemahaman konsep yang tidak kuat.

Astuti menambahkan bahwa selama PJJ, pembelajaran lebih fokus pada penyelesaian soal daripada pemahaman konsep dasar. “Kalau di sini memang sejak COVID‑19 itu ada lost ya. Bahkan kita dapat anak‑anak kelas 7, perkalian pun nggak bisa,” ucapnya.

“Nah itu kan lost ya, jadi konsep matematikanya itu belum didapat,” tambahnya. Ia menjelaskan bahwa lemahnya pemahaman konsep membuat siswa kesulitan saat menghadapi soal berbasis studi kasus.

“Kalau untuk anak‑anak ini sebenarnya karena pemahaman dasarnya yang belum kuat. Kalau diberikan soal studi kasus, sebenarnya dia nggak bisa memecahkan karena dia nggak megang konsep,” jelasnya.

Menurut pemetaan sekolah, sekitar 45 persen siswa masih belum memiliki pemahaman konsep yang memadai. “Masih ada sekitar 45 persen anak kami yang belum pemahaman konsepnya. Seperti berhitung itu belum mencukupi,” ungkapnya.

Meski begitu, materi dasar seperti aljabar dan SPLDV dinilai lebih mudah dikerjakan. “Aljabar itu kan materi dasar. Malah kalau aljabar dia suka, SPLDV itu dia suka. Kalau misalnya SPLDV atau diskon, karena sudah sering dilakukan, mereka jadi cepat mengerjakan,” ungkapnya.

Sementara itu, materi yang membutuhkan visualisasi seperti geometri menjadi keluhan utama. “Yang dikeluhkan itu kebanyakan materi geometri, bangun ruang. Kalau bangun ruang itu harus membayangkan dulu, jadi nggak bisa langsung,” tambahnya.

Untuk mengantisipasi, sekolah menggelar try out rutin sejak awal tahun. “Kalau dari sekolah kita setiap hari Senin, mulai awal tahun dilaksanakan try out. Jadi mereka sudah melakukan try out sebanyak 12 kali,” ujarnya.

Pemerintah juga telah menggelar simulasi dan gladi bersih sebanyak dua kali. Astuti menambahkan, perbaikan juga perlu menyasar kualitas guru agar pembelajaran lebih merata. “Mungkin pemerintah harus banyak menyasar guru untuk dilakukan penajaman‑penajaman kembali. Jadi dari gurunya dulu ditajamkan kemampuanya, sehingga bisa memberikan pembelajaran yang lebih mendalam ke murid‑muridnya. Kalau ingin pemerataan, dimulai dari gurunya dulu baru ke siswa,” kata Astuti.

Keluhan juga datang dari siswa. I Gede Agastya Putra Bhaskara mengaku kesulitan pada soal cerita dan keterbatasan waktu. “Kesulitannya karena banyak soal cerita. Jadi waktunya terasa pas‑pasan, kita nggak sempet recheck lagi,” ujar Putra.

Putri Putu Wikania Putri menilai soal bersifat menjebak dengan bahasa yang rumit. “Soalnya dibuat tricky dan bahasanya lebih rumit, agak berbelit‑belit,” ujarnya. Ia juga sempat mengalami kendala teknis saat ujian. “Waktu itu sempat error, jadi nggak bisa jawab bagian belakang,” ungkapnya.

Selain soal dan waktu, siswa juga menyoroti ketidakjelasan regulasi TKA. “Enam bulan masih kurang, apalagi regulasinya belum jelas. Karena kami angkatan COVID‑19, jadi dasar kami juga belum kuat,” jelasnya. Ia menambahkan, “Dibilang tidak wajib, tapi dipakai untuk masuk SMA.”

Di depan, siswa berharap durasi persiapan diperpanjang dan regulasi diperjelas sejak awal. Sementara guru dan sekolah berusaha menyesuaikan metode belajar agar konsep dasar dapat dipahami dengan baik. Dengan begitu, siswa dapat menghadapi TKA tanpa terburu‑buruan dan lebih percaya diri dalam menjawab soal‑soal matematika.

TKA SMPSMP Negeri 3 DenpasarPJJ pandemi COVID‑19konsep matematika dasarwaktu terbatasgeometri bangun ruangregulasi TKA

Komentar

Memuat komentar...