Toko Antik Surabaya Tetap Operasional Meski Kebakaran

Andi B. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
Toko Antik Surabaya Tetap Operasional Meski Kebakaran

Gambar atau konten salah?

Di Surabaya, di Jalan Patmosusastro, masih ada deretan toko barang antik yang menolak arus modernitas. Meski pernah terkena kebakaran beberapa tahun lalu, toko-toko ini tetap beroperasi, walau tidak sepadat dulu.

Di dalam salah satu toko, koleksi benda antik tersusun rapat. Meja kaca menampilkan perangkat minum teh porselen putih bersih, aksen teal pada tutup tekonya, guci-guci, dan keramik krem dengan lukisan tangan motif bunga mawar biru dan oranye. Di samping itu, miniatur becak mini lengkap pedal lampu depan dan kursi penumpang dengan atap penutup, serta radio hitam model lama dengan antena panjang menambah keunikan.

Tak jauh dari sana, pajangan figur bangau dan patung penari tradisional perempuan dengan pakaian adat detail, mahkota, dan kain menjuntai menambah nuansa sejarah. Di sudut lain, jam dinding raksasa menjadi pusat perhatian. Lingkaran jam dibalut bingkai kayu jati ukir gelap, lempeng hitam dengan ukiran kaligrafi Arab berwarna emas mengkilap yang masih berfungsi presisi.

Nuansa mekanik masa lalu terpampang nyata lewat deretan kamera saku analog merek Fujifilm mulai dari seri Cometa hingga ZO, dengan warna hitam dan krem yang dulu kerap diburu. Mesin serut es manual berbahan besi cor hijau tua berdiri kokoh, roda penggerak besar eksentrik di antara patung gajah porselen biru tua. Langit-langit toko dipenuhi lampu lawas, mulai dari strongkeng atau lampu petromaks besi hitam, berfungsi pada tahun 1970-an dan bergantung pada minyak tanah.

Pengelola toko, Aldy, yang telah sepuluh tahun berkecimpung di dunia antik, menjelaskan bahwa bisnis ini merupakan perpaduan warisan keluarga dan kegemaran pribadi. “Ini usaha turun‑temurun, tapi dibilang hobi juga iya,” ujar Aldy pada hari Sabtu, 18 April 2026.

Ia menambahkan bahwa koleksinya mencakup segala lini, termasuk mortir kecil kuningan mengkilap hingga bola dunia (globe) terperangkap dalam balok resin bening. “Kalau jualan barang antik tidak ada yang dominan ya, soalnya tergantung konsumennya saja,” tambahnya.

Untuk mendapatkan barang, Aldy aktif berburu ke berbagai daerah, baik melalui jaringan maupun informasi yang diperoleh. “Barang‑barang ini ada yang memang dijual ke toko, kadang cari‑cari sendiri kalau ada informasi,” jelasnya. Harga barang bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp30 juta, tergantung jenis dan keunikan.

Terkait kebakaran yang pernah terjadi di kawasan Jalan Patmosusastro, Aldy menyebut toko antik relatif tidak terdampak langsung. Ia mengatakan kebakaran lebih banyak mengenai usaha lain di sekitar lokasi. “Ya tetap toko ada dua kalau di sini. Yang kebakar kan ada bekled, abon, dan warung, bukan toko antik saja,” kenangnya.

Meski tetap bertahan, Aldy mengakui minat pembeli terhadap barang antik saat ini mengalami penurunan. “Untuk saat ini ada penurunan ya,” terang Aldy. Namun, tokonya tetap menjadi jujukan bagi konsumen yang tidak menentu, mulai dari kolektor kelas berat hingga anak muda yang mencari nilai estetika untuk mempercantik hunian.

Antik di Jalan Patmosusastro tetap menjadi saksi sejarah Surabaya. Toko-toko ini, meski menghadapi tantangan, terus menampilkan warisan budaya yang kaya, mengundang pengunjung untuk merasakan nuansa masa lalu yang masih hidup di tengah kota modern.

SurabayaToko AntikKebakaranJam Dinding RaksasaKamera Saku AnalogMesin Serut Es ManualLampu LawasWarisan Budaya

Komentar

Memuat komentar...