Tren TikTok: Video Buah AI Menghidupkan Drama Unik
Gambar atau konten salah?
Di platform media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, muncul tren video yang menampilkan buah‑buah dengan karakter manusia. Video‑video ini diproduksi oleh AI dan seringkali memuat alur drama, mulai dari perselingkuhan hingga konflik emosional.
Contoh paling sering ditemukan adalah perselingkuhan antara stroberi dan pisang, serta kisah konflik yang digambarkan pada durian. Tidak hanya buah, karakter sayuran seperti terong, brokoli, dan tomat juga muncul dalam cerita. Setiap klip singkat ini menampilkan dialog, ekspresi wajah, dan latar yang dibuat menyerupai kehidupan nyata, namun tetap mempertahankan nuansa aneh yang menarik.
Menurut laporan The Conversation (24 April 2026), popularitas video ini berakar pada cara kerja psikologi pengguna media sosial, yang sering disebut “brain rot”. Video pendek dengan alur cepat dan kejutan memicu rasa penasaran. Dalam satu klip, penonton dapat merasakan berbagai emosi: sedih, marah, hingga humor. Pola ini memanfaatkan sistem dopamin di otak, membuat pengguna terus menonton video berikutnya tanpa henti.
Keanehan karakter buah yang menyerupai manusia juga menjadi daya tarik tersendiri. Visual yang tidak sepenuhnya realistis menciptakan sensasi aneh namun tetap menarik. Penonton terjebak lebih lama karena ingin memahami alur cerita yang terasa janggal. Rasa penasaran ini mendorong mereka mengikuti kelanjutan cerita, meski logikanya seringkali tidak konsisten.
Dari sisi konten, penggunaan karakter buah membuat cerita terasa lebih ringan. Meski mengangkat tema sensitif, penonton cenderung menganggapnya sebagai fiksi semata karena tokohnya bukan manusia. Algoritma TikTok juga berperan besar. Konten dengan interaksi tinggi—seperti durasi tonton dan jumlah komentar—lebih sering direkomendasikan di linimasa (FYP). Akibatnya, video serupa terus diproduksi karena terbukti mampu menarik perhatian dan viral, sehingga mencapai ratusan juta penonton.
Tren ini menunjukkan bagaimana kombinasi teknologi AI, psikologi “brain rot”, dan algoritma media sosial dapat menghasilkan konten yang cepat menyebar dan menarik jutaan penonton. Keanehan visual dan alur cerita yang tidak terduga menjadi faktor kunci, sementara sistem rekomendasi platform memperkuat penyebaran fenomena ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
