Trump dan Xi Fokus AI, Bawa Harapan Pelonggaran Chip
Gambar atau konten salah?
Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, diperkirakan tidak akan membahas perang dagang yang masih berlangsung. Fokus utama akan AI atau Artificial Intelligence.
Menurut Reuters, kedua pemimpin dapat membicarakan kemungkinan pelonggaran pembatasan ekspor chip asal China yang selama ini diberlakukan AS. Namun, wacana ini terasa kontras dengan fluktuasi harga aset China, yang dipengaruhi sentimen perang dagang dan kebijakan tarif.
Kondisi tersebut paling terlihat pada pergerakan yuan yang terus menguat sepanjang tahun terakhir hingga menyentuh level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Investor saat ini menganggap pertemuan tersebut lebih fokus pada prospek pertumbuhan sektor teknologi China ketimbang isu sensitif seperti perang AS-Israel dengan Iran, Taiwan, logam tanah jarang, hingga senjata nuklir.
Menjelang pertemuan, sejumlah saham pada indeks Shanghai Composite (SSEC) tercatat pada level tertinggi dalam 11 tahun dengan pertumbuhan ekspor yang meningkat pesat berkat gelombang pesanan yang didorong oleh AI.
Bahkan surplus perdagangan China yang melebar tidak membuat khawatir tentang putaran tarif AS yang baru. Pada pelaku industri disebut telah mengalihkan portofolionya ke arah swasembada AI buatan China.
“Situasinya telah berbalik. China hanya ingin membahas sedikit hal dengan Trump,” kata wakil manajer umum Tongheng Investment, Yang Tingwu, dikutip dari Reuters, 12 Mei 2026.
Ia menambahkan, perang yang belum terselesaikan antara AS dan Iran melemahkan posisi Trump dalam persaingan sektor AI. Kondisi tersebut tercermin dari tingkat investasi pada saham China Mobile dan China Telecom yang memperoleh eksposur terhadap bisnis pusat data milik Tiongkok tersebut.
Pertemuan ini juga mencerminkan berkurangnya ketegangan hubungan AS-China. Pengadilan AS telah membatalkan sebagian besar hambatan tarif awal Trump. Data perdagangan menunjukkan barang-barang Tiongkok tetap sampai ke AS melalui Asia Tenggara.
Seiring dampak dari perang Iran, China terus berupaya memperkuat rantai pasokannya. Para investor pun memperhitungkan ketegangan AS-China sebagai katalis yang mendorong pengembangan teknologi Tiongkok. Negeri Tirai Bambu ini dianggap berhasil berinvestasi di sektor infrastruktur AI.
Investor pun berharap hubungan AS‑Tiongkok stabil hingga kunjungan lanjutan Xi Jinping ke AS.
“China telah membuat kemajuan besar dalam teknologi, mengembangkan ekonomi baru, memperluas pengaruh globalnya, dan meningkatkan daya tawarnya dalam persaingan kekuatan global,” kata Wen Xu.
“Setelah kunjungan Xi ke AS, kedua negara mungkin akan memasuki tahap persaingan selanjutnya, tetapi saat ini situasinya relatif damai,” tambahnya.
Pertemuan ini menandai langkah kecil menuju stabilitas, menyoroti minat bersama pada teknologi AI dan mengurangi fokus pada isu-isu sensitif. Investor melihat potensi pertumbuhan di sektor teknologi China, sementara hubungan AS‑China tampak lebih tenang meski masih ada ketegangan tersisa.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
SKK Migas Catat 1,500 BOPD Saat Ini, Target 20,000 BOPD
Produksi Minyak Nasional 576k BOPD, Masih Di Bawah Target
BBM Subsidi Tetap Stabil, Harga Tidak Naik Meski Minyak Naik
Kimia Farma Menunggu Arahan Bio Farma, Danantara Siap Pisahkan
KAI Siap Luncurkan Kereta Wisata Premium Nusantara Explorer
Berita Terbaru
Grab Tegaskan Tidak Keluar Indonesia, Tetap Komitmen Lanjut
Wakil Bupati Iwan Tuaji Laporkan Harta Rp 6,7 Miliar
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Air Kelapa 15 Hari: Hidrasi, Pencernaan, Berat Badan
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
