Tumpukan Sampah Pasar Baleendah Mengganggu Jalan Kota Bandung
Gambar atau konten salah?
01 Juni 2026 di kota Bandung, tumpukan sampah menumpuk kembali di kawasan Pasar Baleendah. Bau tidak sedap menguar, mengganggu aktivitas warga dan pedagang yang beroperasi di sekitar pasar.
Pantauan di lokasi menunjukkan sampah menumpuk di depan Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Baleendah. Volume sampah yang terus bertambah membuat tumpukan meluas hingga menutupi sebagian badan jalan menuju dan keluar area pasar.
Mayoritas sampah yang menumpuk berasal dari sisa sayuran, buah-buahan, dan limbah organik hasil perdagangan di pasar. Kondisi tersebut memunculkan aroma menyengat yang dikeluhkan warga dan pedagang.
Salah seorang pedagang, Kodari (50), mengatakan sampah di lokasi tersebut sebelumnya sempat diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada akhir April lalu. Namun, dalam sebulan terakhir sampah kembali menumpuk dan belum diangkut.
"Satu bulan lebih kemarin sudah diangkut pas rame-rame sampah, nah sekarang belum. Iuran mah tetep jalan da kalau telat mah beres dagangan," ujar Kodari.
Menurutnya, tumpukan sampah tidak hanya menimbulkan bau tidak sedap, tetapi juga memunculkan belatung yang terkadang masuk ke area kios pemotongan ayam. "Jadi dari sampah itu ada juga belatung yang kadang masuk ke kios pemotongan ayam," katanya.
Kodari menuturkan bahwa sampah saat ini ditumpuk di luar bangunan TPS sehingga memakan sebagian badan jalan. Ia menyebut di dalam TPS terdapat fasilitas pengolahan sampah yang hingga kini belum beroperasi secara optimal. "Iya, di dalam TPS itu ada alat untuk daur ulang sampah katanya. Tapi sampai saat ini juga belum berfungsi. Tadinya katanya buat pemilahan sampah organik," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menyebabkan akses keluar-masuk pasar menjadi terganggu, terutama pada jam-jam sibuk. "Kalau kami sebagai pedagang ingin ada solusi yang konkret. Kalau pagi-pagi jalan sudah sempit, ditambah sampah yang menutupi hampir setengah jalan," ujarnya.
Ketua Pengelola TPS Pasar Baleendah, Indra Sukoco, membenarkan bahwa sampah di lokasi kembali mengalami penumpukan. "Informasi di TPS Pasar Baleendah, sampah kembali menumpuk lagi," kata Indra saat dikonfirmasi.
Ia menyebut kondisi saat ini cukup memprihatinkan karena tumpukan sampah hampir menutupi akses jalan di sekitar TPS. "Kondisinya sudah mau menutupi jalan. Diperkirakan volumenya setara sekitar enam truk tronton," ujarnya.
Menurut Indra, volume sampah akan terus bertambah apabila tidak segera dilakukan pengangkutan. "Situasi dua hari lalu, pada hari Jumat, sampah sudah menumpuk sekitar enam tronton. Apabila tidak diangkut, setiap hari volumenya terus bertambah," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung, Ruli Hadiana, mengakui TPS Pasar Baleendah kembali mengalami penumpukan sampah. Kondisi tersebut diketahui setelah pihaknya melakukan pemantauan ke lokasi.
"Kemarin sudah kami monitor. Keterkaitannya dengan belum optimalnya pengolahan sampah di Pasar Baleendah," ujar Ruli.
Menurutnya, terdapat persoalan internal antara himpunan pedagang pasar dan pengelola TPS yang menyebabkan pengelolaan sampah belum berjalan maksimal. "Sebenarnya keduanya memiliki niat baik. Namun ketika tempat pengolahan sampah ditutup sementara karena ada mesin biodigester, sampah akhirnya disimpan di luar," katanya.
Ruli juga mengakui masih terdapat berbagai kendala dalam pengelolaan sampah, termasuk kebiasaan sebagian masyarakat yang membuang sampah sembarangan. "Mungkin juga ada masyarakat yang sambil berbelanja sekalian membuang sampah. Ditambah ketika hujan, ada yang membuang sampah ke sungai," ujarnya.
Ia menyayangkan kondisi tersebut kembali terjadi, mengingat sebelumnya pemerintah telah mengangkut sekitar 370 ton sampah dari Baleendah ke TPA Sarimukti. "Sayang sekali, karena sebelumnya kami sudah mengangkut sampai 370 ton sampah dari Baleendah ke Sarimukti," tegasnya.
Ruli menambahkan, pemerintah akan terus mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya melalui pemilahan dan pengolahan di tingkat lingkungan. "Kalau penyediaan TPS3R memang efektif untuk mengurangi sampah, tetapi itu solusi jangka panjang. Yang paling penting, warga mulai memilah sampah dari rumah, kemudian diolah di tingkat RT, RW, hingga desa," pungkasnya.
Situasi ini menyoroti tantangan pengelolaan sampah di pasar tradisional, di mana limbah organik dan limbah rumah tangga seringkali tidak terpisah. Tanpa sistem pemilahan yang berfungsi, tumpukan sampah dapat menutupi akses jalan, menimbulkan bau, dan menambah risiko kesehatan bagi pedagang dan warga. Penanganan yang terkoordinasi antara pihak pengelola TPS, pedagang, dan dinas lingkungan hidup menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini secara berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz