UEA Keluar OPEC, Dampak Harga Minyak Global Pada 1 Mei 2026

Cahyo S. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 103 dibaca
Bisik.id
UEA Keluar OPEC, Dampak Harga Minyak Global Pada 1 Mei 2026

Gambar atau konten salah?

Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan bahwa ia akan keluar dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mulai 1 Mei 2026. Keputusan ini diperkirakan akan mengubah dinamika pasar minyak global dan melemahkan posisi Arab Saudi.

Menurut laporan yang diambil dari CNBC International pada 29 April 2026, langkah UEA dapat menimbulkan tekanan negatif pada harga minyak dalam jangka panjang. UEA dikenal sebagai anggota OPEC yang paling berpengaruh setelah Arab Saudi.

Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, menjelaskan bahwa UEA mengendalikan kapasitas produksi cadangan (spare capacity) dunia. Bersama Arab Saudi, keduanya memegang mayoritas total kapasitas cadangan dunia yang mencapai lebih dari 4 juta barel per hari. Kedua negara ini dapat digunakan untuk menstabilkan harga ketika terjadi krisis.

“Oleh karena itu, keluarnya UEA menghilangkan salah satu pilar utama yang menopang kemampuan OPEC dalam mengelola pasar,” kata León.

Alasan di balik keputusan UEA dikaitkan dengan serangan rudal dan drone yang berlangsung selama berminggu-minggu oleh Iran. Serangan Iran terhadap pengiriman di Selat Hormuz juga menghambat ekspor minyak dan mengancam pondasi ekonomi UEA. Namun, UEA menolak tuduhan tersebut.

Menteri Energi Suhail Al Mazrouei menyatakan bahwa keluar dari OPEC diatur sedemikian rupa untuk meminimalkan gangguan bagi produsen lain dalam kelompok tersebut. Ia menekankan bahwa pihaknya ingin memiliki kebebasan lebih dalam menentukan kebijakan produksi.

UEA menargetkan kapasitas produksi hingga 5 juta barel per hari pada tahun 2027.

Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, menilai bahwa keluarnya UEA dari OPEC disebabkan oleh ketidaknyamanan dengan aksi beberapa anggota lain, seperti Irak dan Rusia (OPEC+), yang sering melanggar kuota produksi. UEA dipaksa patuh pada pemotongan produksi demi menjaga harga tetap tinggi.

“Ketika konflik antara AS dan Iran berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali, saya memperkirakan UEA akan memproduksi minyak sebanyak mungkin dengan memanfaatkan setiap kapasitas cadangan yang mereka miliki,” ujar Lipow.

Keputusan ini menandai perubahan signifikan dalam kebijakan energi global. Dengan mengurangi pengaruhnya di OPEC, UEA membuka ruang bagi kebijakan produksi yang lebih fleksibel, meskipun hal itu dapat memicu ketidakstabilan harga minyak di pasar internasional.

Uni Emirat ArabOPECHarga minyakKapasitas cadanganSelat HormuzIran

Komentar

Memuat komentar...