UPF Tinggi, Otot Paha Berlemak: Risiko Osteoarthritis di Indonesia

Tika M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 60 dibaca
Bisik.id
UPF Tinggi, Otot Paha Berlemak: Risiko Osteoarthritis di Indonesia

Gambar atau konten salah?

Studi terbaru yang memanfaatkan data 615 MRI dari Osteoarthritis Initiative di Amerika Serikat menampilkan gambar yang menyerupai potongan daging bermarbling tinggi. Namun gambar tersebut bukan makanan, melainkan hasil pencitraan otot paha seorang wanita berusia 62 tahun yang 87 persen kalori harian berasal dari ultraprocessed food (UPF).

"Pola makan peserta ini sebagian besar terdiri dari sereal, permen cokelat atau batangan, minuman bersoda, atau minuman manis dalam kemasan," ujar Zehra Akkaya, peneliti dan konsultan di kelompok riset pencitraan muskuloskeletal klinis dan translasional di University of California San Francisco, dikutip dari CNN.

Garis-garis lemak tersembunyi di antara serat otot dapat menandakan masalah kesehatan serius. Akkaya menegaskan bahwa lemak intramuskular dapat memicu kenaikan berat badan, obesitas, kanker, penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, depresi, dan bahkan dapat memperpendek harapan hidup.

Data CDC menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen kalori orang dewasa di Amerika Serikat berasal dari UPF, dan pada anak-anak angka tersebut mencapai 62 persen.

Studi tersebut juga mencatat seorang wanita berusia 61 tahun yang memiliki lemak otot paha, meski tidak separah kasus pertama. Ia mengonsumsi sekitar 29 persen makanan ultra-proses dalam setahun.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena individu-individu ini, yang saat menjalani CT Scan belum menunjukkan tanda osteoarthritis lutut, sudah mengalami penurunan kualitas otot," tambah Akkaya.

Lemak otot melemahkan serat otot, menghambat pertumbuhan dan regenerasi. Otot yang lemah menjadi faktor utama penyebab osteoarthritis lutut, penyakit sendi yang paling umum di dunia dengan lebih dari 375 juta orang terpengaruh. Studi terbaru menunjukkan lebih dari setengah kasus baru terjadi pada orang di bawah 55 tahun, kemungkinan besar dipicu oleh peningkatan obesitas global.

"Otot paha sangat penting untuk stabilitas sendi lutut. Jika kekuatan atau tonusnya menurun, tekanan mekanis pada sendi meningkat, terutama pada individu obesitas," jelas Akkaya.

Miriam Bredella dari NYU Langone Health menegaskan bahwa kondisi ini bersifat sistemik. "Ini bukan hanya terjadi di paha. Otot lain seperti betis, bahu, dan perut juga bisa mengalami kondisi serupa," ujarnya.

"Pada pasien rumah sakit, kelemahan otot bisa memperpanjang masa rawat. Pada pasien operasi, ini menjadi prediktor buruk untuk hasil pengobatan," tambah Bredella. Ia juga mengaitkan kondisi ini dengan komplikasi operasi, kambuhan tumor, dan risiko lain pada pasien kanker.

Hasil analisis rata-rata peserta berusia 60 tahun dengan BMI 27 menunjukkan hubungan yang kuat: semakin tinggi konsumsi UPF, semakin tinggi kadar lemak intramuskular pada paha. Menariknya, jumlah kalori tidak berpengaruh signifikan. Thomas Link menegaskan, "Semakin tinggi konsumsi makanan ultra-proses Semakin tinggi kadar lemak dalam otot paha Menariknya, jumlah kalori tidak berpengaruh signifikan."

Walaupun studi belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, para peneliti menilai hubungan tersebut cukup kuat. Bredella menyatakan bahwa kondisi ini masih dapat diperbaiki. "Jika seseorang mulai berolahraga dan makan lebih sehat, kualitas otot bisa membaik," ia katakan. Namun, perbaikan lebih mudah terjadi pada orang yang lebih muda dibandingkan lansia.

Studi ini menyoroti dampak tersembunyi dari pola makan tinggi UPF pada kesehatan otot dan sendi. Menurunnya kualitas otot dapat memicu osteoarthritis, memperpanjang masa rawat di rumah sakit, dan menurunkan hasil operasi. Intervensi sederhana seperti olahraga teratur dan perbaikan diet dapat mengurangi akumulasi lemak intramuskular, terutama pada populasi muda.

lemak intramuskularmakanan ultra-prosesosteoarthritis lututobesitasotot pahadiet sehatolahraga teratur

Komentar

Memuat komentar...