UTBK 21/4 Bandung: UPI, ITB, Unpad Laksanakan Ujian Digital

Bambang W. · 6 min baca · 1 bulan lalu · 52 dibaca
Bisik.id
UTBK 21/4 Bandung: UPI, ITB, Unpad Laksanakan Ujian Digital

Gambar atau konten salah?

Hari Selasa, 21 April 2026, menjadi hari pertama ujian berbasis komputer (UTBK) di Bandung. Tiga perguruan tinggi negeri utama – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) – melaporkan tingkat kehadiran yang tinggi dan komitmen kuat terhadap pelayanan peserta disabilitas.

UPI mengadakan UTBK dalam dua sesi. Ujian diselenggarakan serentak di 13 gedung di kampus UPI, termasuk Gedung Direktorat Sistem Teknologi Informasi (DSTI), Perpustakaan, serta berbagai fakultas seperti FPMIPA, FPIPS, dan Fakultas Kedokteran.

“Pada hari pertama, peserta yang seharusnya mengikuti ujian di UPI termasuk UPI di daerah terdata sebanyak 3.160 orang dengan rincian 3.078 peserta hadir sedangkan 82 peserta lainnya tidak hadir tanpa keterangan.”, kata Kepala Kantor Komunikasi, Informasi, dan Pelayanan Publik UPI, Vidi Sukmayadi, Rabu (22 April 2026).

Untuk mendukung pelaksanaan UTBK, UPI menyiapkan total 3.169-unit komputer PC yang tersebar di enam kampus baik di Bandung serta kampus UPI di daerah.

Secara keseluruhan, menurut Vidi, pelaksanaan UTBK di UPI dijadwalkan berlangsung dari tanggal 21 April 2026 hingga 30 April 2026 dengan dua sesi per hari, kecuali hari Jumat yang hanya satu sesi. Berdasarkan data per 5 April 2026, total peserta mencapai sekitar 19.400 yang tersebar di berbagai kampus UPI di daerah. Jumlah ini relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan konsistensi minat calon mahasiswa terhadap UPI.

Dalam pelaksanaan ujian, UPI juga menerapkan sistem pengawasan ketat dengan melibatkan sekitar 275 pengawas yang tersebar di seluruh lokasi ujian. Selain itu, dilakukan pemeriksaan berlapis menggunakan detektor logam guna mencegah potensi kecurangan, termasuk penggunaan perangkat tersembunyi.

“Pelaksanaan hari pertama UTBK berjalan lancar. Kami menerapkan sistem penyaringan ganda sebelum peserta masuk ruang ujian, didukung oleh 275 pengawas serta pengamanan dan jaringan yang stabil. Indikator kelancaran kami meliputi ketepatan waktu, kesiapan infrastruktur, serta minimnya gangguan teknis,” ungkap Vidi.

Menurut Vidi, UPI juga memperhatikan aspek inklusivitas dengan memfasilitasi peserta berkebutuhan khusus, termasuk tunadaksa, tunanetra, dan low vision. Dari total 15 peserta, pada hari pertama pelaksanaan terdapat empat orang calon mahasiswa berkebutuhan khusus yang didampingi oleh petugas terlatih dari divisi inklusi UPI.

“Langkah ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk memastikan akses pendidikan yang setara. Ke depan, kami akan terus meningkatkan sistem pengawasan berbasis teknologi serta memperkuat layanan inklusif agar pelaksanaan UTBK semakin kredibel dan adaptif terhadap perkembangan modus kecurangan,” tegasnya.

Pelaksanaan UTBK-SNBT merupakan salah satu indikator penting dalam proses seleksi mahasiswa baru secara nasional. Di UPI, kelancaran ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. PT PLN (Persero) UP3 Bandung memastikan aliran listrik tetap stabil di kawasan Setiabudi, sementara TNI dan Polri bersiaga untuk pengamanan. Selain itu, Telkom Indonesia memastikan jaringan internet tetap andal selama pelaksanaan hari pertama.

“Ke depan, UPI berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, baik dari sisi infrastruktur digital, tata kelola ujian, maupun pengalaman peserta. Atas terselenggaranya kegiatan ini dengan baik, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dan mendukung penuh pelaksanaan UTBK-SNBT,” ujar Vidi.

ITB juga melaporkan pelaksanaan UTBK-SNBT yang berlangsung dalam dua sesi, yakni pukul 06.45-10.30 WIB dan 12.30-16.15 WIB, berjalan lancar, tertib, dan kondusif. UTBK 2026 di lingkungan ITB dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu ITB Kampus Ganesha, serta lokasi mitra di SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung.

Menurut data panitia di lapangan, sebanyak 2.012 peserta terdaftar mengikuti ujian pada hari pertama. Dari jumlah tersebut, 1.973 peserta hadir atau sebesar 98,06 persen, sedangkan 39 peserta atau 1,94 persen tercatat tidak hadir.

“Selama ujian berlangsung, tidak ditemukan kendala teknis yang berarti maupun kasus kecurangan. Seluruh peserta mengikuti ujian dengan tertib dan menaati ketentuan yang berlaku, sehingga suasana ujian tetap kondusif dan mendukung pelaksanaan tes secara optimal,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Irwan Meilano.

Sebagai bentuk komitmen terhadap kesetaraan akses pendidikan, ITB juga memberikan perhatian khusus kepada peserta disabilitas. Pada pelaksanaan hari pertama ini, panitia memfasilitasi tiga peserta berkebutuhan khusus, yaitu dua peserta tunarungu dan satu peserta tunadaksa.

Panitia menyediakan pendampingan serta penjelasan instruksi ujian secara komprehensif agar para peserta dapat mengikuti seluruh tahapan ujian dengan baik. “Langkah ini merupakan bagian dari komitmen ITB untuk menghadirkan layanan ujian yang ramah disabilitas sekaligus menegaskan posisi ITB sebagai kampus yang terbuka dan inklusif bagi semua kalangan,” tuturnya.

Irwan Meilano menegaskan bahwa ITB berkomitmen memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. “Prinsip utama kami adalah memastikan setiap peserta mendapatkan kesempatan yang setara untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya. Kami telah menyiapkan personel dan prosedur agar peserta dengan kebutuhan khusus tetap dapat mengikuti ujian dengan nyaman dan sesuai dengan aturan yang berlaku,” tegasnya.

Dia juga menyampaikan bahwa semangat inklusivitas menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan di ITB. “Melihat perjuangan mereka hari ini, kita berharap mereka semua mendapatkan tempat yang terbaik. ITB adalah kampus yang terbuka, ITB adalah kampus yang inklusif, termasuk bagi teman-teman disabilitas. ITB menerima mahasiswa dari berbagai golongan. Kami berharap bahwa peserta hari ini dapat sukses dan mendapatkan apa yang mereka cita-citakan,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana UTBK ITB 2026, Achmad Rochliadi, mengapresiasi kedisiplinan peserta dan kesiapan seluruh unsur pendukung pada hari pertama pelaksanaan ujian. “Kami mengapresiasi kedisiplinan para peserta dalam mengikuti ketentuan ujian hari ini. Kesiapan infrastruktur dan koordinasi yang baik di setiap lokasi ujian menjadi kunci kelancaran hari pertama UTBK 2026 di ITB,” ujarnya.

Di sesi kedua, terdapat satu peserta di lokasi ujian SMAN 3 Bandung yang mengalami gangguan kesehatan mendadak saat ujian berlangsung. Tim medis yang bertugas segera memberikan pertolongan pertama. Demi keselamatan peserta, panitia memutuskan menghentikan partisipasi yang bersangkutan, dan saat ini peserta tersebut telah mendapatkan penanganan medis lebih lanjut dalam kondisi stabil.

Hingga berakhirnya pelaksanaan ujian pada hari pertama, suasana di seluruh lokasi ujian terpantau kondusif. ITB menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, termasuk sekolah mitra, tenaga pendukung, dan aparat keamanan, yang telah membantu menjaga kelancaran pelaksanaan UTBK 2026.

Unpad, di sisi lain, menonjolkan strategi anti-joki dan penggunaan WA Blast. Di Kampus Jatinangor, tidak ada keterlambatan pada hari pertama UTBK-SNBT. Hal ini merupakan hasil sosialisasi masif melalui WA Blast dan konten edukasi di media sosial sejak H-2.

Dari total 6.632 peserta terdaftar, sebanyak 1.350 peserta dijadwalkan mengikuti ujian pada hari pertama pada Selasa, 21 April 2026, dengan 46 peserta tercatat tidak hadir, 34 orang pada sesi pagi dan 12 orang pada sesi siang.

“Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya hampir selalu ada peserta yang terlambat, tahun ini sudah tidak ada lagi keterlambatan. Kami juga berhasil meminimalisir kekurangan dokumen peserta,” kata Koordinator UTBK Unpad, Inu Isnaeni Sidiq.

Tahun ini, jumlah peserta UTBK di Unpad mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun terjadi peningkatan pada sarana dan prasarana. Penurunan ini dipengaruhi oleh perubahan sistem pemilihan lokasi ujian, di mana peserta kini hanya memilih kabupaten/kota, bukan langsung perguruan tinggi. “Bisa jadi peserta yang sebelumnya memilih Unpad karena lokasinya lebih dekat ke Bandung Timur, merasa khawatir jika memilih Kabupaten Sumedang akan terdistribusi ke PTN lain di Sumedang yang jaraknya lebih jauh,” tuturnya.

Sejak tahun lalu, Unpad telah mengintensifkan upaya sosialisasi kepada peserta UTBK dengan mengirimkan WA Blast secara berkala mulai H-2 hingga H-1 pelaksanaan ujian. Selain itu, Unpad juga aktif menyampaikan informasi teknis melalui kanal media sosial resmi Kanal Media Unpad (YouTube, TikTok, dan Instagram), guna memastikan peserta memahami dengan baik seluruh ketentuan dan persiapan yang diperlukan.

Unpad juga memastikan kesiapan infrastruktur UTBK dengan mempersiapkan seluruh sarana dan prasarana sejak jauh hari, termasuk pengecekan PC client sesuai standar pusat, kelayakan ruangan, hingga akses bagi peserta disabilitas. Unpad menyiagakan 38 teknisi ruang untuk 25 ruangan serta dukungan kelistrikan dari petugas PLN dan 5 genset di berbagai titik, sehingga potensi gangguan teknis dapat diantisipasi dengan baik. “Sejak awal, kami sudah mempersiapkan semua sarana perasaan dan pendukung ujian, sehingga (sejauh ini) tidak terjadi kendala teknis di lapangan,” ujar Inu.

Berdasarkan temuan tahun lalu, di mana lebih dari 90 persen kasus perjokian melibatkan peserta yang mendaftar ke program studi kedokteran, tim SNPMB Pusat mendorong penerapan strategi khusus. Unpad mengelompokkan mayoritas peserta program studi kedokteran pada sesi 1 dan sesi 2 guna memperketat pengawasan. Jika terindikasi kecurangan, peserta diizinkan menyelesaikan ujian, lalu diverifikasi. Apabila terbukti, akan diminta menandatangani berita acara serta dilaporkan ke Panitia Pusat.

“Bagi peserta yang dilaporkan melakukan kecurangan, hasil ujiannya tidak akan di-scoring sehingga yang bersangkutan tidak akan memperoleh sertifikat UTBK,” kata Inu.

Inu berharap pelaksanaan UTBK di Unpad dapat berjalan lancar tanpa kendala teknis yang mengganggu konsentrasi dan kenyamanan peserta. “Kami juga mengimbau sivitas akademika untuk memahami kondisi selama pelaksanaan ujian, mengingat adanya potensi interaksi dengan aktivitas kampus sehari-hari, serta turut menjaga suasana kondusif,” pungkasnya.

Pelaksanaan UTBK di tiga universitas ini menunjukkan tingkat koordinasi yang tinggi, dukungan infrastruktur, dan perhatian terhadap peserta disabilitas. Meskipun jumlah peserta di Unpad sedikit menurun, strategi sosialisasi dan pengawasan yang ketat membantu menekan keterlambatan dan kekurangan dokumen. Di UPI dan ITB, sistem pengawasan berlapis dan jumlah pengawas yang banyak memberikan rasa aman bagi peserta. Semua pihak, mulai dari PLN, TNI, Polri, hingga penyedia layanan internet, berperan penting dalam menjaga kelancaran ujian. Keseluruhan, pelaksanaan UTBK di Bandung berjalan lancar, teratur, dan inklusif, mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam menyediakan proses seleksi yang adil dan terstandarisasi.

UTBK Bandung 2026Universitas Pendidikan IndonesiaITBUnpadpeserta disabilitasWA Blastpengawasan ketat

Komentar

Memuat komentar...