Waisak 2026: Peringatan Penuh Lampion di Borobudur
Gambar atau konten salah?
Hari Raya Waisak diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Setiap tahun, perayaan ini menarik perhatian banyak orang karena tradisi dan acara yang digelar di Candi Borobudur. Namun masih banyak yang belum mengetahui apa sebenarnya Waisak.
Waisak adalah perayaan yang sudah berlangsung lama. Hari raya ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan Pangeran Siddhartha Gautama, sang Buddha. Hari Raya Waisak 2026 akan dilaksanakan pada Minggu, 31 Mei 2026. Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, Waisak termasuk hari besar nasional dan menjadi hari libur nasional. Puncak peringatan biasanya diadakan di kawasan Candi Borobudur.
Sejarah perayaan Waisak sulit ditelusuri dengan pasti. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tradisi ini sudah ada sejak abad ke‑5 hingga ke‑6 Masehi. Perayaan semacam ini juga tercatat dalam perjalanan seorang Buddhis asal Tiongkok bernama Faxian, yang datang ke India pada abad ke‑5 Masehi. Ribuan tahun kemudian, perayaan Waisak di era modern dimulai di Sri Lanka. Meski di bawah tekanan pemerintahan kolonial Inggris, Hari Raya Waisak tetap dirayakan setiap tahun. Para biksu hanya menggelar acara peringatannya di kuil atau wihara dalam lingkup yang terbatas.
Seiring berjalannya waktu, muncul dorongan agar Waisak dapat dijadikan hari besar. Salah satu tokoh teosofis, Henry Steel Olcott, turut berperan. Ia mendorong petisi agar Waisak dapat diakui sebagai hari besar. Sejak 1844, pemerintah kolonial Sri Lanka menjadikan Waisak sebagai hari libur resmi. Penetapan ini membuat perayaan Waisak menjadi lebih meriah dan meluas ke berbagai belahan dunia. Di Indonesia, meski memiliki banyak kuil dan candi beraliran Buddha, perayaan Waisak belum terlalu masif.
Perayaan Waisak di Indonesia dimulai pada tahun 1929‑1930, ketika Himpunan Teosofi Hindia Belanda melakukan praktik perayaan. Sejak 1953, perayaan Waisak menjadi gelaran rutin setiap tahun di Indonesia.
Waisak bukan hanya hari besar semata. Ada tiga peristiwa suci yang berkaitan dengan kehidupan Sang Buddha, yang dikenal sebagai Tri Suci Waisak. Diyakini bahwa ketiga peristiwa ini terjadi pada purnama di Bulan Waisak.
Peristiwa pertama adalah kelahiran Pangeran Siddhartha, sekitar 600 tahun sebelum masehi. Kelahirannya menandai era yang kelak memberi pencerahan kepada dunia. Peristiwa kedua adalah pencapaian penerangan. Ketika Pangeran Siddhartha melihat banyak hal di luar istana—seperti orang sakit, orang tua, orang lapar, dan kematian—ia bermeditasi. Di bawah pohon Bodhi, ia mendapatkan pencerahan dan kebenaran sejati. Peristiwa ketiga adalah wafatnya Sang Buddha pada usia 80 tahun. Ia meninggal dalam keadaan Parinibbana, yaitu kondisi terbebas mutlak dari siklus kelahiran dan kematian.
Tri Suci Waisak kini diperingati secara luas. Di Indonesia, peringatan Waisak biasanya terpusat di Candi Borobudur. Kuil Buddha terbesar di dunia ini menjadi pusat acara dan dihadiri ribuan umat serta masyarakat dari berbagai tempat. Secara umum, acara dimulai dengan kegiatan sosial beberapa minggu sebelumnya. Menjelang hari perayaan, tradisi pengambilan api dan air suci dilakukan. Api suci diambil dari sumber api abadi di Mrapen, sementara air suci berasal dari Umbul Jumprit, Temanggung. Kedua elemen alam tersebut dibawa ke kawasan Borobudur.
Puncak perayaan biasanya diikuti kirab dari candi mendut menuju ke Candi Borobudur. Prosesi ini berlangsung selama satu hari, diikuti dengan pelepasan ribuan lampion pada malam hari. Lampion-lampion tersebut melambangkan harapan dan harapan umat Buddha untuk kebaikan dunia.
Perayaan Waisak di Candi Borobudur menjadi ajang bagi masyarakat Indonesia untuk mengenang sejarah Buddha dan merayakan nilai-nilai spiritual. Meskipun perayaan ini masih belum sepopuler perayaan agama lain, namun kehadiran ribuan pengunjung setiap tahun menunjukkan bahwa Waisak tetap menjadi bagian penting dalam kalender keagamaan Indonesia.
Dengan sejarah yang panjang, tradisi yang kaya, dan perayaan yang meriah, Waisak tetap menjadi hari yang dihormati oleh umat Buddha di Indonesia dan di seluruh dunia. Perayaan ini mengajak semua orang untuk merenungkan nilai kebaikan, pencerahan, dan kedamaian yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
