Warenhuis Medan Tutup Revitalisasi, Cagar Budaya Berfungsi

Teguh A. · 2 min baca · 21 hari lalu · 50 dibaca
Bisik.id
Warenhuis Medan Tutup Revitalisasi, Cagar Budaya Berfungsi

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Kota Medan baru saja menutup proses revitalisasi Gedung Warenhuis, sebuah cagar budaya yang kini menjadi tempat berkumpulnya banyak pengunjung. Sebelum direnovasi, bangunan ini tampak menyeramkan dan terbengkalai. Namun di balik nuansa gelap itu tersembunyi kisah penting tentang kejayaan ekonomi Medan pada awal abad ke‑20.

Jurnal Kajian Arsitektur Dan Sejarah Pada Bangunan Warenhuis Dan Tapak Eks Kantor Borsumij Sebagai cagar Budaya di Kota Medan menelusuri asal‑mulas kata “Warenhuis”. Istilah ini diambil dari bahasa Belanda yang berarti “tempat barang” atau “toko serba ada”. Pada tahun 1919, komunitas elit Medan mulai berbelanja di sana, seolah‑olah Deli Park atau Sun Plaza saat ini.

Gedung ini didirikan oleh perusahaan perdagangan N. V. Medan Warenhuis dan resmi dibuka pada 16 Februari 1919 dengan penempatan batu pertama oleh Wali Kota Medan yang pertama, Daniel Baron Mackay. Saat itu, gedung ini sudah menjadi pusat gaya hidup mewah, menyediakan makanan berkualitas dan perabotan rumah tangga mewah bagi masyarakat Eropa dan bangsawan setempat.

Arsitek Gerard Bos merancang bangunan dengan luas lahan sekitar 8.000 meter persegi. Fasadnya melengkung mengikuti kontur jalan, menambah keunikan visual. Posisi strategis di kawasan Kesawan menjadikan Warenhuis tempat pertemuan berbagai budaya. Medan pada masa itu sedang tumbuh pesat berkat industri tembakau Deli, dan kawasan di sekitarnya menjadi pusat interaksi antara komunitas Tionghoa, India, Eropa, dan Melayu. Keberadaan Masjid Gang Bengkok di dekat gedung menandakan keberagaman sosial yang tinggi.

Seiring waktu, peran Gedung Warenhuis berubah sesuai perkembangan zaman:

  • Era Kolonial Belanda: pusat jual beli dan kantor organisasi perdagangan.
  • Masa Transisi: gedung pertunjukan, tempat hiburan seni bagi masyarakat.
  • Setelah Kemerdekaan (Indonesia merdeka tahun 1945): gedung dialihkan menjadi kantor, kemudian ditinggalkan lama‑lama.

Setelah bertahun‑tahun terabaikan, bangunan menjadi sarang ilalang. Pemerintah Kota Medan kemudian memutuskan untuk melakukan revitalisasi. Tujuannya adalah mengembalikan fungsi gedung sebagai ruang kreatif atau pusat aktivitas publik, sambil menjaga nilai sejarahnya. Inisiatif ini tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga melestarikan identitas Kota Medan sebagai kota yang menghargai warisan masa lalu.

Gedung Warenhuis bukan sekadar struktur tua yang menyeramkan. Ia menjadi simbol kemajuan arsitektur dan ekonomi yang pernah mengangkat nama Medan ke level internasional. Sebagai warga kota, menjaga dan mendukung pelestarian bangunan bersejarah seperti ini adalah tanggung jawab bersama.

Jika Anda melewati Jalan Hindu, jangan lupa mengambil foto dan berbagi kisahnya. Bangunan ini merupakan bagian dari jiwa Kota Medan yang perlu dipertahankan dalam ingatan kita.

Video “Video: Mengenal 5 Bangunan di Indramayu yang Jadi Cagar Budaya” (20 detik) dapat menjadi referensi visual tambahan tentang bagaimana bangunan bersejarah dipresentasikan di daerah lain.

Dengan revitalisasi ini, Gedung Warenhuis kembali menjadi tempat berkumpul, belajar, dan berkreasi bagi masyarakat Medan. Ia menampilkan kembali sejarahnya sebagai pusat ekonomi dan budaya, sekaligus menjadi simbol bahwa warisan lama masih relevan di dunia modern. Kegiatan ini menegaskan bahwa pelestarian bangunan bersejarah tidak hanya soal struktur fisik, melainkan juga tentang menjaga cerita dan identitas yang melekat pada bangunan tersebut.

Gedung WarenhuisRevitalisasiCagar BudayaMedanArsitektur KolonialPerdagangan BelandaPelestarian Sejarah

Komentar

Memuat komentar...