Yogyakarta Juara Pemberdayaan Ekonomi Digital 2026

Dani L. · 4 min baca · 3 bulan lalu · 110 dibaca
Bisik.id
Yogyakarta Juara Pemberdayaan Ekonomi Digital 2026

Gambar atau konten salah?

Jakarta – Pada malam Jumat, 17 April 2026, Hotel Sultan menjadi tempat berlangsungnya acara Apresiasi Konektivitas Digital 2026 yang dipersembahkan oleh Bakti Komdigi dan Detikcom. Acara ini dirancang agar individu, komunitas, dan lembaga dapat memamerkan kontribusi mereka dalam memperkuat konektivitas dan literasi digital di wilayah masing-masing.

Di penghargaan tersebut, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dinobatkan sebagai Pemenang Provinsi Pendorong Ekonomi Digital. Pengakuan ini menegaskan peran Yogyakarta sebagai contoh bagi provinsi lain dalam memanfaatkan teknologi demi pertumbuhan ekonomi.

Yogyakarta menempuh pendekatan unik dengan menggabungkan teknologi modern dan nilai budaya melalui konsep Jogja Smart Province (JSP). Inisiatif ini bertujuan menjadikan Yogyakarta sebagai provinsi yang lebih terhubung, inovatif, dan berbudaya.

Visi gubernur DIY adalah mewujudkan Pancamulia Masyarakat Jogja melalui reformasi kalurahan, pemberdayaan kawasan selatan, serta pembangunan budaya inovasi dan pemanfaatan teknologi. Misi tersebut dijabarkan dalam empat komponen: reformasi kalurahan agar lebih inklusif, dukungan infrastruktur dan peningkatan SDM di kawasan selatan, peningkatan budaya inovasi melalui teknologi informasi, serta pelestarian lingkungan dan warisan budaya.

JSP, berdasarkan Pergub DIY Nomor 32 Tahun 2024, menjadi rencana induk pengembangan ekosistem digital dengan enam dimensi: Smart Branding, Smart Government, Smart Economy, Smart Living, Smart Society, dan Smart Environment. Semua dimensi ini terintegrasi melalui data untuk memudahkan pengambilan keputusan.

Implementasi kebijakan terlihat lewat SiBakul Jogja, sebuah market hub digital untuk UMKM. SiBakul menyediakan pendataan, klasterisasi, pembinaan, kurasi, pemasaran digital, subsidi ongkir, akses internet bagi UMKM, UMKM difabel, dan tempat wisata. Selain itu, program ini menawarkan pendampingan e-bisnis, literasi digital berkelanjutan, bantuan bandwidth untuk desa/kalurahan, dan penyediaan coworking space melalui Diskominfo sebagai Pusat Literasi Digital.

Regulasi juga diperkuat melalui Perda dan Pergub terkait industri kreatif, kewirausahaan, TIK, SPBE, pembinaan usaha kecil, serta pembentukan TP2DD untuk mempermudah elektronifikasi transaksi. Kebijakan ini bertujuan menciptakan lingkungan hukum yang mendukung ekosistem digital.

Secara kelembagaan, Diskominfo DIY menjadi sektor utama. Dukungan datang dari PLUT‑KUMKM, kolaborasi dengan komunitas dan perguruan tinggi, TP2DD bersama Bank Indonesia dan BPD DIY, serta kerja sama dengan Badan Otorita Borobudur untuk destinasi wisata digital. Hasilnya, indeks literasi digital DIY menduduki peringkat pertama di Indonesia.

Performa ekonomi Yogyakarta juga mengesankan. Pada 2025, DIY menempati peringkat ke‑5 dalam eks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) dengan skor 51,13, melewati rata‑rata nasional 44,53. Infrastruktur digital kuat (69,73) dan kompetensi digital masyarakat menjadi pendorong utama. Pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 5,49 % pada 2025, lebih tinggi dari rata‑rata nasional dan Jawa. Sektor Informasi dan Komunikasi memberikan kontribusi 0,64 %, dan proyeksi 2026 berada di kisaran 5,1‑5,9 %.

Ekosistem kreatif Yogyakarta juga berkembang pesat. Pada 2025, lebih dari 7.500 permohonan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) diajukan, dengan hak cipta 5.537 dan merek 1.668. Digitalisasi UMKM sangat meluas, tercatat 987.737 merchant QRIS (59 % usaha mikro) dan 980.591 pengguna. Nilai transaksi QRIS mencapai Rp41,09 triliun per September 2025, tumbuh 237,19 % YoY.

Yogyakarta menjadi pionir QRIS berbasis NFC melalui QRIS TAP di Trans Jogja dan QRIS Andong Wisata di Malioboro. Inisiatif ini memperluas inklusi keuangan hingga sektor tradisional, memudahkan pembayaran bagi pelaku usaha kecil.

Data BPS DIY Februari 2026 menunjukkan kontribusi signifikan sektor digital terintegrasi, seperti akomodasi, makan minum, dan industri pengolahan, terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja. Angka-angka ini menegaskan bahwa ekosistem digital tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja.

Keberlanjutan ekosistem digital dijaga melalui pelembagaan SiBakul sebagai sistem berkelanjutan. Layanan logistik gratis dan market hub digital mempercepat SPBE, memudahkan tata kelola yang efisien dan transparan. Infrastruktur fiber optic diperluas hingga desa/kalurahan dan sekolah melalui program Free Wi‑Fi publik.

Pengembangan SDM dilakukan lewat pelatihan kolaboratif bersama Kementerian Komdigi, perguruan tinggi, komunitas startup, AI, animasi, komik, UMKM, MASDJO, dan PAIJO. Literasi digital rutin disediakan bagi pelaku usaha tradisional, sementara creative hub dioptimalkan sebagai ruang inkubasi startup dan kreator konten.

Keberlanjutan juga diperkuat sinergi pentahelix bersama Bank Indonesia dan BPD DIY dalam program Jogja QRIStimewa. Kerja sama dengan Google, Shopee, dan Grab menyediakan pelatihan UMKM agar dapat naik kelas dan bersaing global. Kemitraan akademisi dalam riset kebijakan berbasis data menambah fondasi ilmiah bagi ekosistem digital Yogyakarta.

Wawancara lapangan mengungkap bahwa JSP adalah program strategis yang dikembangkan secara bertahap sejak 2017. Pada fase pertama, fokus utama adalah digitalisasi keistimewaan daerah. Fase kedua (2022‑2027) beralih ke pembangunan ekosistem human‑centric, di mana teknologi menjadi alat, bukan tujuan. Hingga tahun keempat fase kedua, capaian program mencapai sekitar 80 % dari 168 inisiatif yang ditargetkan.

Namun, pemerintah daerah mulai menggeser fokus dari sekadar pencapaian output ke pengukuran dampak nyata. Umpan balik langsung dari masyarakat menjadi kunci untuk menilai manfaat layanan digital. Salah satu temuan penting adalah pemanfaatan teknologi untuk tata kelola data terintegrasi, khususnya dalam penanganan kemiskinan. Melalui platform Menunggal Raharja, data yang sebelumnya tersebar kini terstandarisasi, memudahkan penyaluran bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.

Di sektor ekonomi digital, SiBakul menjadi contoh konkret pembangunan ekosistem UMKM berbasis digital. Platform ini tidak hanya menyediakan layanan teknis, tetapi juga pelatihan, akses pembiayaan, dan penguatan jejaring usaha. Pendekatan ini diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat, yang pada akhirnya diharapkan menurunkan angka kemiskinan.

Namun, tantangan tetap ada. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap teknologi masih beragam, sehingga adopsi inovasi belum merata. Upaya mendorong penggunaan sistem pembayaran digital memerlukan pendekatan edukasi yang lebih spesifik dan berkelanjutan. Keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi multipihak, mengingat kompleksitas persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata.

Secara keseluruhan, Jogja Smart Province menunjukkan perkembangan progresif baik dari sisi implementasi maupun arah kebijakan. Optimalisasi dampak program masih memerlukan penguatan literasi digital, perluasan kolaborasi, serta konsistensi dalam mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan langkah-langkah tersebut, Yogyakarta dapat terus memperkuat posisinya sebagai provinsi digital yang inklusif dan berbudaya.

YogyakartaJogja Smart Provincedigital ekonomiSiBakulQRISliterasi digitalinfrastruktur digital

Komentar

Memuat komentar...