Agus P. · 2 min baca · 1 jam lalu · 22 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Media sosial kini menjadi sumber utama bagi banyak orang yang mencari informasi tentang diet. Dari intermittent fasting hingga diet rendah karbohidrat, semua dapat ditemukan hanya dengan beberapa ketukan layar. Namun, tidak semua metode diet menghasilkan efek yang sama bagi setiap orang.

Hasil yang berbeda sering muncul meski seseorang mengikuti pola makan yang sama dengan temannya. Ada yang menurunkan berat badan dengan cepat, sementara yang lain tidak merasakan perubahan apa pun meski menjalankan pola makan yang identik. Fenomena ini sering terlihat di ruang praktik klinis, di mana pasien sering bertanya mengapa diet yang berhasil bagi temannya tidak bekerja bagi mereka.

“Sering kali pasien datang dengan pertanyaan yang sama, mengapa diet yang berhasil pada teman atau anggota keluarganya justru tidak memberikan hasil yang serupa pada dirinya,” ujar dr Yaze, spesialis gizi klinik. Ia juga aktif membuat konten di Instagram dengan akun @dr.yaze.spgk.

Menurut dr Yaze, jawabannya terletak pada tubuh masing‑masing, khususnya pada faktor genetik atau DNA. “Dua orang dapat mengonsumsi makanan yang sama dan menjalani pola hidup yang mirip, tetapi respons tubuhnya belum tentu identik. Faktor genetik menjadi salah satu hal yang turut berperan dalam proses tersebut,” jelas dr Yaze.

DNA berfungsi menyimpan informasi yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk cara tubuh memproses nutrisi. Perbedaan susunan genetik dapat memengaruhi bagaimana tubuh merespons metabolisme karbohidrat, lemak, kafein, dan aktivitas fisik. Karena itu, pola makan yang optimal bagi satu orang belum tentu optimal bagi orang lain.

Perbedaan ini menandai pentingnya kebutuhan nutrisi yang tidak dapat disamaratakan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa karakteristik biologis setiap individu turut menentukan bagaimana tubuh merespons makanan yang dikonsumsi.

Bidang ilmu yang mempelajari hubungan antara gen dan nutrisi dikenal sebagai nutrigenomik. Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memahami mengapa respons tubuh terhadap makanan dapat berbeda. Nutrigenomik juga membantu menjelaskan variasi respons terhadap karbohidrat, lemak, protein, kafein, maupun aktivitas fisik tertentu.

Hasil penelitian nutrigenomik mendorong lahirnya konsep personalized nutrition atau nutrisi yang dipersonalisasi. Pendekatan ini berupaya menyesuaikan pola makan dengan karakteristik masing-masing individu, bukan hanya berdasarkan rekomendasi umum.

Meski faktor genetik memiliki peran penting, DNA bukan satu-satunya penentu kesehatan. Gaya hidup tetap menjadi fondasi utama yang memengaruhi kondisi tubuh sehari‑hari. “Banyak orang mengira DNA menentukan segalanya, padahal gaya hidup tetap memegang peranan yang sangat besar. Pola makan seimbang, aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup, serta pengelolaan stres tetap menjadi fondasi utama kesehatan,” kata dr Yaze.

Praktik pola makan yang baik, aktivitas fisik rutin, tidur yang cukup, dan kemampuan mengelola stres tetap menjadi faktor yang berpengaruh besar terhadap kesehatan. Faktor genetik dapat membantu memahami kebutuhan tubuh, tetapi kebiasaan sehari‑hari tetap memengaruhi hasil akhirnya.

Perkembangan personalized nutrition menandai arah baru dalam dunia diet. “Ke depan, kita mungkin tidak lagi bertanya diet apa yang paling populer, tetapi diet apa yang paling sesuai dengan tubuh kita sendiri,” pungkasnya dr Yaze.

Dengan pemahaman tentang peran DNA, jelas bahwa tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua. Alih‑alih mengikuti tren, pendekatan yang lebih personal dapat membantu menemukan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan lebih mudah dijalankan dalam jangka panjang.

dietgenetiknutrigenomikpersonalized nutritiongaya hidupDNAintermittent fasting

Komentar

Memuat komentar...