Telur Omega‑3: Pakan Khusus, Harga Tinggi, Label Harus Sah

Cahyo S. · 2 min baca · 20 jam lalu · 35 dibaca
Bisik.id
Telur Omega‑3: Pakan Khusus, Harga Tinggi, Label Harus Sah

Gambar atau konten salah?

Telur ayam tetap menjadi bahan pokok di meja makan banyak keluarga di Indonesia. Namun, kini konsumen dapat memilih telur dengan klaim nutrisi tambahan, salah satunya telur omega‑3. Produk ini dapat ditemukan di supermarket maupun toko daring. Dibandingkan telur biasa, telur omega‑3 biasanya dijual dengan harga lebih tinggi dan dilengkapi label yang menampilkan kandungan gizi tertentu.

Perbedaan utama antara telur omega‑3 dan telur biasa sering menimbulkan kebingungan. Apakah perbedaannya terletak pada jenis ayam, cara pemeliharaan, atau faktor lain yang tidak terlihat? Jawaban singkatnya: telur omega‑3 dan telur biasa berasal dari ayam petelur yang sama. Perbedaan terletak pada pakan yang diberikan.

Menurut Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang di bawah naungan Kementerian Pertanian, telur yang mengandung omega‑3 dihasilkan dari ayam yang diberi pakan berisi sumber omega‑3, seperti minyak ikan. Omega‑3 sendiri adalah kelompok asam lemak tak jenuh yang dibutuhkan tubuh. Nutrisi ini sering dikaitkan dengan kesehatan jantung, fungsi otak, dan proses penting lainnya.

Temuan ini didukung oleh ulasan yang dipublikasikan dalam jurnal Poultry Science pada tahun 2023. Judulnya A Review of Recent Studies on the Enrichment of Eggs and Poultry Meat with Omega‑3 Polyunsaturated Fatty Acids: Novel Findings and Unanswered Questions. Peneliti menjelaskan bahwa kandungan omega‑3 pada telur dapat ditingkatkan melalui modifikasi pakan ayam petelur. Beberapa sumber omega‑3 yang umum dipakai antara lain:

  • minyak ikan
  • biji rami (flaxseed)
  • mikroalga

Ketika ayam mengonsumsi pakan kaya omega‑3, sebagian nutrisi tersebut tersimpan dalam telur. Inilah sebabnya kadar omega‑3 pada telur menjadi lebih tinggi dibanding telur biasa. Karena pakan khusus ini, harga telur omega‑3 cenderung lebih mahal di pasaran.

Warna cangkang telur tidak menjadi indikator yang dapat membedakan telur omega‑3 dari telur biasa. Warna cangkang dipengaruhi oleh faktor genetik atau ras ayam, bukan kandungan gizinya. Dari segi penggunaan, kedua jenis telur dapat diolah dengan cara yang sama: direbus, diceplok, diorak-arik, atau dimasak dalam berbagai hidangan.

Penggunaan label "Mengandung Omega 3" pada kemasan tidak boleh dicantumkan sembarangan. Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa produk yang mengklaim "Mengandung Omega 3" harus mencantumkan jumlah omega‑3 serta informasi nilai gizi tertentu. BPOM juga mengatur pengawasan klaim pada label dan iklan pangan olahan melalui Peraturan BPOM Nomor 1 Tahun 2022. Dalam aturan tersebut, omega‑3 termasuk zat gizi yang dapat menjadi dasar pencantuman klaim gizi pada pangan. Untuk klaim perbandingan seperti lebih tinggi, diperkaya, atau sejenisnya, kandungan zat gizi yang diklaim harus meningkat minimal 25 persen dibanding produk pembanding.

Dengan demikian, label omega‑3 pada kemasan pangan harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan. Konsumen yang mencari telur dengan kandungan omega‑3 dapat memeriksa label untuk memastikan bahwa klaim tersebut didukung oleh data yang sah.

Secara umum, telur omega‑3 menawarkan nilai tambah nutrisi dibandingkan telur biasa, namun perbedaan utamanya terletak pada pakan ayam. Harga yang lebih tinggi mencerminkan biaya tambahan pakan khusus. Meskipun demikian, telur tersebut dapat dimasak dan dinikmati dengan cara yang sama seperti telur biasa. Informasi pada label menjadi kunci bagi konsumen untuk membuat pilihan yang tepat.

telur omega‑3pakan omega‑3klaim giziBPOMharga tingginutrisi jantungmikroalga

Komentar

Memuat komentar...