Kartika D. · 2 min baca · 3 menit lalu · 2 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Gejala awal kanker sering sulit dikenali karena mirip dengan keluhan ringan sehari‑hari. Penelitian baru menunjukkan ada petunjuk penting yang selama ini mungkin luput diperhatikan: feses atau tinja. Temuan ini muncul dalam studi tentang kanker pankreas, salah satu jenis kanker yang paling sulit dideteksi pada tahap awal.

Kanker pankreas, khususnya pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC), tumbuh di saluran pankreas yang langsung terhubung ke usus kecil. Hubungan ini membuat perubahan pada pankreas dapat meninggalkan jejak biologis di saluran pencernaan, lalu muncul dalam feses.

Sampai kini, kanker pankreas biasanya baru terdiagnosis ketika pasien mengalami kelelahan berkepanjangan, gangguan metabolisme energi, penurunan kondisi tubuh, atau nyeri yang tidak jelas penyebabnya. Gejala‑gejala ini sering dianggap tidak berbahaya, sehingga banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat sudah stadium lanjut.

Peneliti menemukan bahwa bukan bentuk atau warna feses yang penting, melainkan kandungan bakteri di dalamnya. Dengan menganalisis sampel feses menggunakan teknologi sekuensing genetik 16S rRNA, ilmuwan dapat mengidentifikasi jenis dan jumlah bakteri yang hidup di usus seseorang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengidap kanker pankreas memiliki komposisi mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan orang sehat. Salah satu temuan utama adalah keragaman bakteri usus yang jauh lebih rendah pada pasien kanker pankreas. Pola bakteri ini bahkan dapat membentuk semacam 'sidik jari biologis' yang membedakan pengidap kanker dengan individu sehat.

Pada 2025, studi internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran melatih model kecerdasan buatan (AI) menggunakan pola bakteri dalam feses. Hasilnya cukup menjanjikan: sistem AI mampu mengidentifikasi pasien kanker pankreas hanya berdasarkan profil mikrobioma usus yang diperoleh dari sampel tinja.

Temuan ini membuka peluang baru bagi deteksi dini kanker yang selama ini sulit ditemukan pada tahap awal. Penelitian tentang mikrobioma usus berkembang pesat, dengan teknologi shotgun metagenomic sequencing yang memungkinkan pemetaan seluruh genom bakteri di dalam usus secara rinci.

Pendekatan ini mengubah pandangan dunia medis. Sebelumnya tubuh dianggap sebagai sistem terpisah, kini para peneliti melihat manusia sebagai ekosistem kompleks yang hidup berdampingan dengan triliunan mikroorganisme. Penelitian serupa juga mulai diterapkan pada kanker kolorektal, penyakit Parkinson, dan sejumlah penyakit kronis lainnya.

“Kita semakin memahami bahwa jawaban dari berbagai pertanyaan medis bisa saja tersembunyi dalam hal yang selama ini kita abaikan, yaitu feses,” tulis peneliti dari Quadram Institute dalam The Conversation.

Dengan mengamati mikrobioma usus melalui feses, para peneliti dapat menemukan tanda‑tanda kanker pankreas sebelum gejala berat muncul. Model AI yang dilatih pada pola bakteri ini menunjukkan potensi deteksi dini yang dapat mengubah cara kita memeriksa kanker yang selama ini terlambat terdeteksi.

kanker pankreasfesesmikrobioma ususdeteksi dinikecerdasan buatan (AI)sekuensing 16S rRNApola bakteri

Komentar

Memuat komentar...