15 Tahun, Alfaruq Aceh Jadi Jemaah Haji Termuda dari Aceh
Gambar atau konten salah?
Muhammad Alfaruq Addawami berusia 15 tahun, menjadi jemaah haji termuda asal Aceh. Ia bersedia menempuh perjalanan ke Tanah Suci menggantikan ayahnya yang meninggal lima tahun lalu. Alfaruq berangkat bersama ibunya, Nurhayati (51 tahun), dan masuk ke dalam kelompok terbang (kloter) 14. Santri Dayah Darul Khairat, Bireuen, tak pernah membayangkan akan berangkat haji pada usia muda.
Di Asrama Haji Kelas I Aceh, Alfaruq menyampaikan rasa syukurnya. “Alhamdulillah senang sekali. Di sana nanti ingin mendoakan orang tua agar amalnya diterima, kuburnya diluaskan dan masuk surga,” ujarnya kepada wartawan pada Selasa, 19 Mei 2026.
Alfaruq berasal dari Desa Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah. Ia masih duduk di bangku SMA, namun kebanyakan waktunya dihabiskan di pondok pesantren. Ia pulang kampung hanya pada saat puasa atau lebaran. “Cita‑cita saya menjadi ulama,” kata Alfaruq sambil tersenyum.
Nurhayati mengingatkan bahwa ia dan suaminya sudah mendaftar haji pada tahun 2012. Namun perjalanan mereka tertunda karena pandemi COVID‑19. Setelah menunggu sekitar 14 tahun, mereka akhirnya dapat menunaikan rukun Islam kelima. Guru TKIT Insan Qurani, Bener Meriah, memilih Alfaruq untuk menggantikan ayahnya setelah berbincang dengan tiga anaknya. Dua kakak Alfaruq juga sudah mendaftar haji, hanya menunggu panggilan.
Menurut Nurhayati, ia dan suaminya mengizinkan Alfaruq berhaji. Ia memilih anak ketiganya karena ingin Alfaruq menjadi pemimpin saleh. “Mudah‑mudahan abang jadi pemimpin yang saleh dan anak yang saleh. Setelah haji bisa menjadi hamba yang bersyukur dan semangat menuntut ilmu. Jadi yang terbaik untuk diri sendiri dan keluarga,” jelasnya.
Selama suaminya masih hidup, Nurhayati bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ia menekankan bahwa suaminya sudah mempersiapkan segala kebutuhan haji, termasuk pendaftaran. “Suami memang sudah mempersiapkan untuk berangkat haji termasuk mendaftar dulu,” ujarnya.
Nurhayati juga memuji pelayanan di Asrama Haji Kelas I Aceh. Ia menganggap petugas melayani dengan ramah dan masakan yang disajikan cocok di lidah. “Menu bervariasi, enak, ringan di lidah kita perjalanan jauh dengan menu tadi tidak bermasalah, Alhamdulillah. Pelayanannya bagus,” sampaikan Nurhayati.
Perjalanan Alfaruq mencerminkan tekad keluarga untuk menegakkan nilai agama. Meskipun masih remaja, ia telah mempersiapkan diri secara spiritual dan mental. Keberhasilan ini menegaskan bahwa generasi muda Aceh dapat menempuh ibadah haji dengan penuh semangat dan rasa tanggung jawab.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Gempa Magnitudo 3,1 Guncang Padangsidimpuan, Sumut
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
SIM Baru Kini Verifikasi Wajah, Mulai 1 Juli 2026 Indonesia
Jaga Kolam Ikan Rumah Bersih: Tips Pembersihan dan Nutrisi
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
