16 Biksu Thudong ke Candi Sewu, Tema Walk for Peace

Ayu W. · 2 min baca · 9 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
16 Biksu Thudong ke Candi Sewu, Tema Walk for Peace

Gambar atau konten salah?

16 biksu melakukan perjalanan thudong dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten pada 25 Mei 2026. Mereka sempat bersilaturahmi di Kantor Gubernuran Jawa Tengah di Kecamatan Semarang Selatan, lalu melanjutkan perjalanan ke Vihara Tanah Putih di Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

Rombongan memulai perjalanan dari kantor gubernur melalui Jalan Sriwijaya di Kecamatan Candisari. Setelah itu, mereka menuruni Jalan Dr. Wahidin menuju wihara. Perjalanan menuju Vihara Tanah Putih memakan waktu sekitar 1 jam. Di sana, para biksu disambut hangat oleh para Atthasilani dan umat Buddha lainnya.

Para Atthasilani mengenakan jubah putih, sementara biksu memakai jubah oranye. Di dalam wihara, beberapa pengunjung Buddha turut menyambut kedatangan rombongan. Suasana terasa damai, namun penuh semangat kebersamaan.

“Intinya kami silaturahmi ya kan, terus kemudian kita bincang‑bincang ya kan, memberikan nasihat. Karena kebetulan di sini ada pelatihan, ada program pembinaan kepada Atthasilani seperti itu,” ungkap Aggacitto Thera dari Candi Sima kepada detikJateng di Vihara Tanah Putih hari ini. Ia menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan silaturahmi dan juga untuk memberikan nasihat.

Perjalanan ini mengusung tema Walk for Peace. “Perjalanan dari thudong ini pastinya menyenangkan, seru di luar dari ekspektasi kami ya. Seperti yang memang sudah kami gaungkan Thudong Walk for Peace, mengangkat tema tentang jalan damai,” jelasnya. Ia menekankan bahwa perjalanan 11 hari tersebut membawa rasa damai bagi semua yang terlibat.

“Ya, kalau yang namanya capek itu wajar namanya manusia tetapi capek bukan menjadi alasan untuk tidak melangkah kita. Kita tetap melangkah sampai akhir,” katanya. Ia menyoroti pentingnya mental dan semangat kuat, meski lelah tetap menjadi bagian dari perjalanan spiritual.

Selama perjalanan, Aggacitto menyaksikan toleransi beragama yang kuat. Ia juga terkesan dengan antusiasme anak‑anak yang menonton perjalanan. “Anak‑anak tuh histeris gitu, teriak‑teriak dan pengin ngejar kita. Jadi ini sukacita mereka. Nah, ini ini itu juga jadi obat vitamin kita dalam langkah ini. Rasa capek kita terobati saat melihat mereka,” ungkapnya.

Para biksu hanya membawa sepasang alas kaki yang biasa dipakai sehari‑hari. “Kalau alas kaki kita satu set cukup. Nggak habis itu,” sebutnya. Ia menegaskan bahwa satu set alas kaki sudah memadai untuk perjalanan 11 hari.

Wakil Ketua Karakasabha Vihara Tanah Putih, Agghadhammo Warto, menyatakan senang menyambut rombongan. “Kita menyampaikan selamat datang. Kemudian juga menyampaikan ikut sukacita, ikut berbahagia, atas kedatangan Bante Thudong yang melakukan perjalanan spiritual dari Candi Sima Jepara yang akan menuju ke Candi Sewu di Klaten,” kata Warto. Ia menekankan pentingnya memberi semangat kepada para Atthasilani yang sedang berlatih kehidupan spiritual.

“(Para biksu di Vihara Tanah Putih) Memberi nasihat pada para Atthasilani, memberi semangat, memberi penguatan pada para Atthasilani yang saat ini berlatih untuk menjalani kehidupan spiritual sebagai umat Tuhan,” pungkasnya. Kunjungan ini menegaskan komitmen semua pihak untuk memelihara nilai damai dan spiritualitas di tengah masyarakat.

Perjalanan thudong ini menampilkan kesatuan antara tradisi, kebersamaan, dan semangat damai. Melalui interaksi dengan masyarakat, anak-anak, dan para Atthasilani, rombongan biksu berhasil menyalurkan pesan damai sekaligus memperkuat tali persaudaraan antar umat beragama. Kegiatan ini menjadi contoh sederhana bagaimana perjalanan spiritual dapat mempengaruhi kehidupan sehari‑hari dan mempererat hubungan sosial di daerah tersebut.

Biksu ThudongCandi Sima JeparaVihara Tanah PutihWalk for PeacesilaturahmiAtthasilanikebersamaantoleransi beragama

Komentar

Memuat komentar...