17 April: Umat Katolik Makassar Kenang Mukhijat Sehari‑hari

Fitri A. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 64 dibaca
Bisik.id
17 April: Umat Katolik Makassar Kenang Mukhijat Sehari‑hari

Gambar atau konten salah?

17 April 2026 menjadi hari di mana umat Katolik di Makassar diingatkan bahwa mukhijat Tuhan masih terjadi di tengah kehidupan sehari‑hari. Dalam renungan ini, penulis mengajak pembaca membuka hati dan melihat karya Tuhan yang terus bekerja, baik dalam peristiwa besar maupun kecil.

Renungan dimulai dengan bacaan Kitab Suci. Pada 17 April 2026, umat membaca Kisah 5:34‑42, Mazmur 27:1,4,13‑14, dan Yohanes 6:1‑15. Setiap bacaan membawa pesan tentang kehadiran Tuhan dan bagaimana manusia dapat mengenali tanda‑tanda-Nya.

Dalam Kisah, seorang Farisi bernama Gamaliel, seorang ahli Taurat yang dihormati, memanggil orang banyak untuk keluar sebentar. Ia berkata: “Hai orang-orang Israel, pertimbangkanlah baik‑baik, apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang‑orang ini!” Gamaliel menegaskan bahwa orang yang berbuat baik karena Tuhan akan tetap hidup, sedangkan yang berbuat karena manusia akan lenyap.

Selanjutnya, Mazmur 27 menegaskan kepercayaan kepada Tuhan sebagai terang dan benteng. Daud menulis: “TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” Ia mengajak pembaca untuk tetap menunggu dan mempercayai kebaikan Tuhan.

Bacaan Injil Yohanes 6:1‑15 membawa kisah Yesus memberi makan lima ribu orang. Yesus menanyakan kepada Filipus, “Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?” Filipus menjawab bahwa roti seharga dua ratus dinar tidak cukup. Andreas, saudara Simon Petrus, menyatakan, “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Yesus memerintahkan, “Suruhlah orang‑orang itu duduk.” Ia mengambil roti, mengucap syukur, dan membagikannya. Setelah makan, Yesus berkata, “Kumpulkanlah potongan‑potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Dua belas bakul penuh potongan roti terisi.

Orang banyak menyaksikan mukhijat itu dan berkata, “Dia ini adalah benar‑benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” Mereka menganggap Yesus sebagai nabi yang dijanjikan, mengingat nubuat Musa tentang seorang nabi seperti dia.

Renungan menyoroti bahwa mukhijat tidak hanya terjadi di masa lampau. Beberapa orang percaya bahwa mukhijat sudah berhenti setelah zaman rasul, namun Yesus sendiri menegaskan bahwa tanda‑tanda akan terus menyertai orang percaya. Bahkan, dalam kanonisasi orang kudus Gereja Katolik, terjadinya mukhijat menjadi salah satu syaratnya.

Contoh modern mukhijat muncul dalam kisah seorang teman yang mengalami krisis moneter pada 1997. Ia meminjam uang dengan bunga 16% per tahun, menempatkan rumahnya sebagai agunan. Saat krisis melanda, suku bunga melonjak menjadi 56% per tahun. Ia panik, memikirkan bencana, dan memohon bantuan melalui Novena Tiga Salam Maria. Ketika ia menyelesaikan pesanan barang perabot kayu, kurs dolar naik dari Rp. 2.500 per USD menjadi Rp. 12.500 per USD. Alih‑alih rugi, ia memperoleh untung berlipat. Ia meyakini bahwa mukhijat terjadi melalui doa kepada Bunda Maria.

Renungan menekankan bahwa Tuhan hadir dalam setiap situasi, bahkan dalam bencana. Ia mengubah keadaan buruk menjadi berkat bagi yang berharap. Ini mengajak pembaca untuk selalu menyadari kehadiran Tuhan.

Doa penutup diucapkan: “Ya Tuhan, sadarkanlah diri kami, bahwa Engkau selalu hadir dalam peristiwa hidup kami, bahkan dalam situasi yang sulit dan berat yang aku alami. Amin.”

Melalui bacaan, kisah, dan doa, renungan ini mengajak umat untuk melihat mukhijat sebagai bagian dari kehidupan sehari‑hari. Ia menegaskan bahwa kehadiran Tuhan tidak terbatas pada peristiwa besar; ia juga hadir dalam momen kecil yang penuh makna. Dengan demikian, setiap orang dapat memperdalam iman dan mempercayai bahwa Tuhan selalu berada di sisi mereka, bahkan ketika dunia tampak gelap.

mukhijat TuhanMakassarKitab SuciYohanes 6Novenakrisis moneter 1997Bunda Maria

Komentar

Memuat komentar...