21 Kantong Sampah Ditemukan di SMP Wisata Sanur 2026
Gambar atau konten salah?
21 kantong sampah berukuran besar ditemukan di area SMP Widya Sastra Taruna (Wisata) Sanur, Denpasar, pada hari Senin, 13 April 2026. Temuan ini menambah daftar kasus pembuangan sampah sembarangan di wilayah yang baru saja menutup Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Suwung.
Kepala SMP Wisata Sanur, Ida Ayu Krisna Ari, menjelaskan bahwa ia sedang melakukan pemeriksaan proyek pemilahan sampah di area kebun sekolah ketika menemukan kantong plastik ungu gede. “Kemarin saya lagi ngecek proyek pemilahan sampah di belakang. Saya lagi jalan-jalan di kebun, saya melihat kantong plastik ungu gede sekitar 10 bungkus di dalam sekolah,” ujarnya pada 14 April 2026.
Ari menambahkan bahwa pembuangan sembarangan kemungkinan disebabkan oleh kebingungan bahwa area kebun sekolah dianggap lahan kosong. “Kemungkinan malam atau subuh. Karena Minggu jam 19.00 Wita malam, tukang kebun masih siram tanaman belum ada sampah. Jadi ada pagar, dekatnya ada halte bypass. Depan pagar ada sampah, mungkin ini yang kelempar ke dalam,” jelasnya.
Sampah yang ditemukan dibungkus rapi dalam kresek plastik ungu dan hitam. Sekolah belum membuka kresek tersebut karena takut proses pemilahan akan terganggu. “Kami nggak berani bongkar, saya suruh untuk tidak dibongkar, karena kalo gitu sama saja kita yang milah,” kata Ari.
Ia mengaku bingung bagaimana menangani sampah tersebut. Sekolah sudah melaporkan kejadian ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar, namun belum mendapat respons. “Jadi setelah viral, bingung juga solusinya bagaimana. Ya saya kembalikan lagi ke jalan. Tukang kebun yang saya suruh. Nanti biar pemerintah gimana, mau diangkut apa bagaimana,” ungkapnya.
Sementara itu, Kelurahan Sanur sudah memeriksa tumpukan sampah dan berkoordinasi dengan DLHK untuk pengangkutan sampah liar. “Ini kan sampah liar, jadi kami kalau tidak punya angkutan jadi untuk sementara kami menunggu dari DLHK, karena sifatnya sampah liar, jadi mungkin bisa diangkut DLHK,” kata Lurah Sanur, Ida Bagus Made Windhu Segara, pada 14 April 2026.
Lurah Segara menyatakan bahwa kejadian ini bukan pertama kalinya ditemui, bahkan dengan volume sampah lebih besar. Kelurahan Sanur bekerja sama dengan Perlindungan Masyarakat (Linmas) dan Kepala Lingkungan (Kaling) setempat untuk melakukan patroli di titik rawan pembuangan sampah liar pada pukul 00.00-01.00 Wita.
Untuk mengatasi masalah ini, Kelurahan Sanur juga menginstal CCTV di area pembuangan. “Kami di kelurahan, alatnya mobile sudah datang kemarin, kalau diperlukan mungkin bisa dipasang di sini, yang penting ada listriknya. Karena mobile, kami bisa pantau juga. Tapi kami di kelurahan kan dana nggak ada. Kami cuma dapat satu, kalau diperlukan akan dipasang di sini,” terang Segara.
Ia mengakui bahwa Kelurahan Sanur belum memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Dalam upaya mengatasi masalah, kelurahan berkolaborasi dengan Desa Sanur Kauh. “Kami di Kelurahan Sanur harapannya bisa dibantu untuk pengangkutan. Kami nggak punya lahan, nggak punya dana untuk pengolahan sampah. Kami sudah koordinasi dengan Sanur Kauh, sudah diberikan keputusan, boleh. Tapi sementara masih penuh, jadi kami masih menunggu. Untuk swakelola akan kami evaluasi ulang,” ucap Segara.
SMP Wisata Sanur telah menempatkan dua tempat sampah di setiap kelas. Tempat sampah hijau dan kuning digunakan untuk pemilahan sampah organik dan nonorganik. Pemilahan ini melibatkan seluruh warga sekolah. “Kami sudah tempel instruksi pemilahan di depan ruang kelas. Kita sudah edukasi, kalau makan itu dihabiskan. Kalau nggak habis, sisa nasi dibuang ke organik, mikanya dibuang ke nonorganik. Itu dah, kalau misal nggak buat PR atau terlambat, hukumannya ya pilah sampah,” jelas Kepala SMP Wisata Sanur, Ida Ayu Krisna Ari.
Ia menambahkan bahwa seharusnya ada empat kategori pemilahan: organik, anorganik, B3, dan residu. Namun, saat ini hanya dua kategori yang dipisah. “Ada organik, anorganik, B3, dan residu. Tapi dua aja dulu milahnya, itu saya buatkan bak penampungan di belakang. Yang penting kita proses pembelajaran dulu,” kata Ari.
Selain itu, sekolah memiliki empat teba modern dan lubang biopori. Sampah organik dipilah dan diubah menjadi kompos untuk perawatan tanaman di lingkungan sekolah. Sampah nonorganik dibedakan, di mana sampah daur ulang dijual ke bank sampah sedangkan sampah residu diangkut keluar. “Dulu kami angkat sampah sebelum dipilah itu satu truk sampai Rp 800 ribu. Kami sudah pilah tapi ujung-ujungnya dicampur lagi. Akhirnya kami hanya pilah sampah residu saja,” tutur Ari.
Dengan ekstrakurikuler hidroponik dan pertamanan, SMP Wisata Sanur berhasil panen dan menjual hasilnya. Keuntungan tersebut dikembalikan ke kas sekolah dan digunakan kembali, misalnya untuk kebutuhan lomba. “Kita nanam sayur di belakang. Kebetulan sudah panen semuanya. Sebelum H-1 panen saya sudah buat story, banyak yang keep sekian kilo,” kata Ari.
Sekolah menanam tanaman hidroponik seperti pokcoy, kangkung, dan selada. Selain itu, mereka juga menanam tanaman pada media tanah seperti cabai dan terong. Proses ini tidak hanya menambah ketahanan pangan, tetapi juga menjadi contoh praktik pengelolaan sampah dan sumber daya alam bagi siswa.
Keberadaan 21 kantong sampah di area sekolah menyoroti pentingnya pengelolaan sampah yang terstruktur. Meskipun sekolah sudah memiliki sistem pemilahan, kejadian ini menunjukkan bahwa masih ada potensi kebocoran dan kesalahpahaman mengenai area pembuangan. Kerja sama antara sekolah, kelurahan, dan dinas lingkungan menjadi kunci untuk menanggulangi masalah ini.
Dengan adanya CCTV, patroli malam, dan rencana kolaborasi dengan desa tetangga, diharapkan pembuangan sampah liar dapat dikurangi. Sementara itu, sekolah terus menekankan edukasi pemilahan kepada siswa, menambah jumlah kategori pemilahan, dan memanfaatkan hasil kompos serta produk pertanian untuk mendukung kegiatan sekolah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Penurunan Wisnus Bali 4,14% Tahun Ini, 2,03% Bulanan
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Cuaca cerah berawan Bali, hujan ringan Badung Denpasar
Kamis 04 Juni 2026: Hari Ala Ayuning Dewasa, Waktu Lahan
Badung Bangun Tempat Penampungan Sampah B3 di Mengwitani
SMPN 5 Pupuan, Disdik Tabanan Atasi Rendahnya Siswa
Berita Terbaru
Lirik Lagu Timur: Rindu dan Harapan di Jarak Jauh Menyusuri
Gaji Ke-13 2026: Mulai Bayar ASN, TNI, Polri, Pensiunan
Bloom Putih Anggur: Lapisan Lilin Alami, Bukan Jamur
Surabaya Target 250 Medali Emas Porprov Jatim 2027
Hanya 8 Tim Piala Dunia 2026 Punya Pemain Lokal, 310 Luar Negeri
SPMB Jakarta 2026: Daftar Sekolah dengan Skor UTBK 2022
KAI Butuh Rp1,2 Triliun & 8.000 Petugas Perlintasan Sebidang
Dolar AS Beruat Rp 18.000, Rupiah Terdampak Kuat Pada Hari
