23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di 9 Provinsi, Kemenkes

Teguh A. · 3 min baca · 24 hari lalu · 75 dibaca
Bisik.id
23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di 9 Provinsi, Kemenkes

Gambar atau konten salah?

Kemenkes mencatat 23 kasus hantavirus tersebar di 9 provinsi, menandai penyebaran virus yang masih terbatas. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa virus ini belum meluas secara nasional, namun tetap menjadi perhatian serius bagi otoritas kesehatan.

Di Surabaya, Dinkes memastikan tidak ada kasus hantavirus. Meskipun belum ada kasus, Dinkes tetap waspada dan menegaskan pentingnya pencegahan di tingkat lokal.

Masyarakat diminta tetap waspada namun tidak panik, menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa kecemasan berlebihan. Hal ini diharapkan dapat mencegah penyebaran informasi yang salah dan menurunkan tingkat stres di masyarakat.

Kepala Dinkes Surabaya, dr Billy Daniel Messakh, menegaskan bahwa hantavirus bukan penyakit baru, melainkan sudah lama dikenal di dunia medis. Ia menekankan bahwa pengetahuan tentang virus ini sudah cukup luas, namun masih perlu disebarkan kepada publik.

Hantavirus ini sebenarnya bukan penyakit baru. Sudah lama ada dan penularannya dari tikus. Sampai sekarang di Surabaya juga belum ada kasus yang terbukti positif,” kata dr Billy, Minggu (10/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa gejala hantavirus sering menyerupai flu biasa atau common cold, sehingga masyarakat diminta tetap waspada tanpa perlu merasa khawatir berlebihan. Gejala seperti demam, batuk, dan nyeri otot dapat muncul dalam beberapa hari setelah terpapar. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Sebagai bentuk antisipasi, Dinkes Surabaya mendorong pemeriksaan suhu tubuh di pintu masuk transportasi publik, termasuk bandara, pelabuhan, dan jalur transportasi darat, menggunakan alat pemindai suhu elektronik. Langkah ini bertujuan untuk mengidentifikasi orang yang mungkin terinfeksi sebelum mereka dapat menularkan virus ke orang lain.

Kalau ada yang terdeteksi suhu tubuhnya di atas normal, tentu harus segera dipantau atau dilakukan langkah pengawasan lebih lanjut,” ujarnya.

Masyarakat juga diimbau kembali menerapkan kebiasaan hidup sehat: menjaga pola makan, istirahat cukup, dan memakai masker saat berada di ruang tertutup atau keramaian. Kebiasaan sehat ini dapat memperkuat sistem imun, sehingga tubuh lebih mampu melawan infeksi.

Dokter Billy menyebut sejumlah negara di Eropa juga mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit menular dengan kembali menggunakan alat pelindung diri seperti saat pandemi Covid‑19. Langkah ini menegaskan bahwa meskipun pandemi telah berangsur berkurang, ancaman penyakit menular tetap ada.

Di sisi lain, pemerintah daerah masih menunggu arahan teknis dari pemerintah pusat terkait mekanisme skrining hantavirus. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin telah meminta panduan resmi kepada WHO terkait pelaksanaan skrining tersebut. Panduan ini diharapkan akan mencakup prosedur skrining, protokol isolasi, dan strategi pencegahan.

Kami masih menunggu guidance dari Kementerian Kesehatan terkait screening. Namun Pemkot Surabaya tetap aktif berkoordinasi dan menyiapkan langkah antisipasi,” jelasnya.

Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas di luar rumah jika tidak mendesak. Namun, bila harus beraktivitas, warga diminta tetap menjaga kebugaran tubuh dan menggunakan perlindungan diri. Langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko paparan virus.

Yang paling penting masyarakat tetap menjaga daya tahan tubuh. Olahraga rutin, makan bergizi, dan kalau berada di keramaian atau ruang tertutup sebaiknya menggunakan masker,” katanya.

Bagi warga yang akan bepergian ke luar negeri, Dinkes Surabaya mengingatkan pentingnya melengkapi vaksinasi meningitis, influenza, dan pneumonia sebagai perlindungan tambahan selama perjalanan. Vaksinasi ini dapat mengurangi risiko komplikasi serius yang dapat terjadi jika terinfeksi virus atau penyakit lain.

Vaksinasi tersebut juga dapat diakses masyarakat di RSUD Dr Soewandhie Surabaya. Untuk warga yang bepergian ke luar negeri, vaksinnya harus dilengkapi. Itu penting sebagai perlindungan,” pungkasnya.

Hantavirus tetap menjadi perhatian serius, meski belum ada kasus di Surabaya. Langkah antisipasi terus dijalankan, menekankan pentingnya deteksi dini, kebiasaan sehat, dan vaksinasi bagi warga yang bepergian ke luar negeri. Dengan tindakan ini, pemerintah daerah berharap dapat mencegah penyebaran hantavirus dan melindungi kesehatan masyarakat.

hantavirusSurabayapenularan tikusdeteksi dinivaksinasiWHOmaskerskrining

Komentar

Memuat komentar...