266 Dapur Sukabumi Tanpa IPAL, Target Pasang Agustus
Gambar atau konten salah?
266 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sukabumi belum dilengkapi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) sesuai standar. Kondisi ini menjadi perhatian utama saat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mempercepat operasionalnya.
Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Sukabumi, Sandi Ibnu Aziz, menjelaskan bahwa dari total 356 dapur SPPG, hanya sekitar 90 atau sekitar 40 persen yang sudah memiliki IPAL. Sisanya, 266 dapur, masih dalam proses pemenuhan fasilitas tersebut.
Dari 356 SPPG, baru sekitar 90 (dapur) atau sekitar 40 persen yang sudah memiliki IPAL sesuai standar, kata Sandi kepada wartawan. Rabu, 6 Mei 2026.
Menurut Sandi, pemasangan IPAL tidak dapat dilakukan secara instan karena setiap lokasi memiliki kondisi berbeda. Faktor lahan dan struktur bangunan menjadi tantangan utama dalam proses instalasi.
Pemasangan IPAL ini tidak mudah. Bisa memakan waktu satu sampai dua minggu, bahkan sampai sebulan untuk satu lokasi, ujarnya.
Keberadaan IPAL sangat penting untuk memastikan limbah dapur tidak mencemari lingkungan. Air limbah sisa pengolahan harus diolah terlebih dahulu agar aman saat dibuang ke saluran umum.
BGN menargetkan seluruh dapur SPPG di Kabupaten Sukabumi sudah memiliki IPAL standar pada Agustus 2026. Saat ini, percepatan terus dilakukan dengan mendorong para mitra segera memenuhi kewajiban tersebut.
Target kami Agustus 2026 semua sudah terpasang. Kami terus dorong mitra agar segera memenuhi standar ini, tegasnya.
Selain itu, BGN juga berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta Komisi IV DPRD Kabupaten Sukabumi untuk mempercepat pemenuhan standar lain, termasuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Upaya ini merupakan bagian dari komitmen menjaga keseimbangan antara pelayanan gizi dan kelestarian lingkungan.
Secara keseluruhan, situasi menunjukkan bahwa meski sudah ada kemajuan, masih banyak dapur yang menunggu fasilitas pengolahan limbah. Pencapaian target akhir tahun 2026 akan menjadi indikator penting bagi keberlanjutan program gizi di Sukabumi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
