38 Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci, 1 di Surabaya

Arif S. · 4 min baca · 1 bulan lalu · 84 dibaca
Bisik.id
38 Jemaah Haji Meninggal di Tanah Suci, 1 di Surabaya

Gambar atau konten salah?

Surabaya, 3 Juni 2026 – Berita duka datang dari Debarkasi Surabaya. Jumlah jemaah haji yang meninggal di Tanah Suci kini mencapai tiga puluh delapan.

Ketua PPIH Debarkasi Surabaya, Mohammad As'adul Anam, mengungkapkan informasi tersebut pada hari Rabu. Ia menyatakan, (Wafat) di Arab Saudi 38 jemaah haji. Sementara itu, satu jemaah wafat di RS Haji Surabaya.

Anam menjelaskan bahwa mayoritas kematian di Tanah Suci disebabkan oleh cardiogenic shock dan penyakit jantung. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menjadi penyebab utama di antara para jemaah.

Kasus kematian di RS Haji Surabaya terkait nama Tini Atmin, berusia 56 tahun, berasal dari Kloter 43 Kabupaten Gresik. Ia meninggal pada 11 Mei 2026 setelah mengalami serangan jantung selama perawatan di RSUD Haji Surabaya.

Berikut daftar lengkap jemaah haji Debarkasi Surabaya yang meninggal di Arab Saudi, lengkap dengan nama, usia, kloter, asal daerah, tanggal kematian, dan kota di mana kematian terjadi:

  1. Kamariyah Dul Tayib, 85 tahun, Kloter 8 Kabupaten Pasuruan, meninggal 26 April 2026 di Madinah.
  2. Abd Wachid, 71 tahun, Kloter 7 Kabupaten Pasuruan, meninggal 7 Mei 2026 di Makkah.
  3. Fajar Puja Sasmita, 53 tahun, Kloter 11 Kota Malang, meninggal 7 Mei 2026 di Makkah.
  4. Sibiatun Saji, 72 tahun, Kloter 33 Kabupaten Lamongan, meninggal 8 Mei 2026 di Madinah.
  5. Mustika Rajim D, 75 tahun, Kloter 47 Kabupaten Gresik, meninggal 8 Mei 2026 di Madinah.
  6. Suyono Reso, 58 tahun, Kloter 62 Kabupaten Jombang, meninggal 9 Mei 2026 di Makkah.
  7. Dumaiyah Gopur, 67 tahun, Kloter 6 Kabupaten Pasuruan, meninggal 13 Mei 2026 di Makkah.
  8. Asraf Sudam, 65 tahun, Kloter 1 Kabupaten Probolinggo, meninggal 14 Mei 2026 di Makkah.
  9. Tarni Talikah Kastamun, 66 tahun, Kloter 55 Kabupaten Sidoarjo, meninggal 15 Mei 2026 di Makkah.
  10. Samanu Linggan, 85 tahun, Kloter 16 Kabupaten Malang, meninggal 16 Mei 2026 di Makkah.
  11. Ngatiyah Marijo, 62 tahun, Kloter 91 Kabupaten Jember, meninggal 16 Mei 2026 di Makkah.
  12. Mat Sahid, 79 tahun, Kloter 30 Kabupaten Lamongan, meninggal 17 Mei 2026 di Makkah.
  13. Rohmat Ridwan, 64 tahun, Kloter 41 Kabupaten Bojonegoro, meninggal 19 Mei 2026 di Madinah.
  14. Fatkhurohman M. Marjuki Sastro Dikromo, 59 tahun, Kloter 14 Marjuki Kota Malang, meninggal 22 Mei 2026 di Makkah.
  15. Suhadi Suh Anwar, 58 tahun, Kloter 6 Kabupaten Pasuruan, meninggal 23 Mei 2026 di Makkah.
  16. Jamari Supriyo Cokro, 67 tahun, Kloter 14 Kabupaten Malang, meninggal 23 Mei 2026 di Makkah.
  17. Ahkmad Suryani, 61 tahun, Kloter 20 Kabupaten Magetan, meninggal 26 Mei 2026 di Makkah.
  18. Subagyo Praptowiharjo, 66 tahun, Kloter 104 Kabupaten Tulungagung, meninggal 26 Mei 2026 di Makkah.
  19. Yuwkno Soewaliadi, 66 tahun, Kloter 99 Kabulaten Lumajang, meninggal 29 Mei 2026 di Syariah.
  20. Jani Marni, 66 tahun, Kloter 103 Kabupaten Tulungagung, meninggal 27 Mei 2026 di Syariah.
  21. Mohid Ahmad Tamsir, 86 tahun, Kloter 103 Kabupaten Tulungagung, meninggal 28 Mei 2026 di Syariah.
  22. Subiti Supardi Said, 69 tahun, Kloter 38 Kabupaten Tulungagung, meninggal 29 Mei 2026 di Makkah.
  23. Abd Aziz, 86 tahun, Kloter 79 Kabupaten Sumenep, meninggal 28 Mei 2026 di Makkah.
  24. Maljunah Sadirmo, 69 tahun, Kloter 70 Kabupaten Gianyar, meninggal 29 Mei 2026 di Makkah.
  25. Fathor Rahman, 59 tahun, Kloter 99 Kabupaten Situbondo, meninggal 29 Mei 2026 di Makkah.
  26. Mohadi Saderi, 86 tahun, Kloter 107 Kabupaten Blitar, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  27. Patonah Mat Yasir, 72 tahun, Kloter 82 Kabupaten Banyuwangi, meninggal 30 Mei 2026 di Syariah.
  28. Komarodin Kusni, 86 tahun, Kloter q07 Kabupaten Blitar, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  29. Djurianto Amat Saelan, 72 tahun, Kloter 22 Kota Madiun, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  30. Siti Jen, 85 tahun, Kloter 67 Kabupaten Mojokerto, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  31. Rubiansih Sumorejo Sukro, 69 tahun, Kloter 1 Kabupaten Jombang, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  32. Suprayono Tasliman, 67 tahun, Kloter 37 Kabupaten Lamongan, meninggal 30 Mei 2026 di Makkah.
  33. Ahmad Tarsim, 86 tahun, Kloter 113 Kabupaten Nganjuk, meninggal 31 Mei 2026 di Makkah.
  34. Ibrahim Mujab, 76 tahun, Kloter 77 Kabupaten Buleleng, meninggal 31 Mei 2026 di Makkah.
  35. Agung Setiawan, 62 tahun, Kloter 38 Kabupaten Bojonegoro, meninggal 1 April 2026 di Makkah.
  36. Mistari Kastomo, 85 tahun, Kloter 99 Kabupaten Lumajang, meninggal 1 April 2026 di Makkah.
  37. Supandi Arjad, 60 tahun, Kloter 90 Kabupaten Jember, meninggal 1 April 2026 di Makkah.
  38. Multazamahmoh Zaid, 67 tahun, Kloter 108 Kabupaten Blitar, meninggal 1 April 2026 di Makkah.

Jumlah total kematian di Tanah Suci mencapai tiga puluh delapan, sementara satu kematian terjadi di RS Haji Surabaya. Data ini mencerminkan risiko kesehatan yang tinggi bagi jemaah haji, terutama terkait kondisi jantung.

Keadaan ini menambah beban emosional bagi keluarga dan komunitas haji. Kematian di Tanah Suci seringkali disebabkan oleh faktor medis yang tidak terduga, meski sudah dilakukan persiapan kesehatan sebelum keberangkatan.

Ketua PPIH Debarkasi Surabaya, Mohammad As'adul Anam, menegaskan pentingnya peningkatan pemantauan kesehatan selama perjalanan haji. Ia mengajak semua pihak untuk memperhatikan kondisi fisik jemaah, terutama yang berusia lanjut.

Berbagai lembaga kesehatan di Surabaya dan di Tanah Suci telah berkoordinasi untuk memberikan penanganan medis yang cepat. Namun, kasus-kasus cardiogenic shock masih menjadi tantangan yang sulit diatasi.

Selain itu, faktor lingkungan di Tanah Suci, seperti suhu tinggi dan aktivitas fisik yang intens, dapat memperburuk kondisi jantung. Masyarakat haji diingatkan untuk menjaga hidrasi dan istirahat yang cukup.

Data ini juga mencerminkan pentingnya program edukasi kesehatan bagi jemaah haji. Pihak berwenang di Surabaya berencana memperluas program pemeriksaan kesehatan sebelum keberangkatan, serta menyediakan fasilitas medis yang memadai di Tanah Suci.

Di sisi lain, keluarga jemaah yang kehilangan anggota keluarga di Tanah Suci mengalami kesedihan mendalam. Mereka berharap agar pihak terkait dapat meningkatkan upaya pencegahan agar tidak terjadi lagi.

Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang kesiapan sistem kesehatan bagi jemaah haji. Pihak berwenang diharapkan dapat meninjau kembali prosedur medis dan kebijakan kesehatan yang ada.

Dengan jumlah kematian yang terus bertambah, penting bagi semua pihak untuk bekerja sama guna mengurangi risiko kesehatan. Ini termasuk peningkatan fasilitas medis, edukasi kesehatan, dan koordinasi antar lembaga.

Berita ini menyoroti realitas bahwa perjalanan haji tidak hanya melibatkan ibadah, tetapi juga tantangan kesehatan yang serius. Kematian jemaah di Tanah Suci menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan medis dan dukungan sosial bagi para jemaah haji.

hajikematiancardiogenic shockSurabayaTanah SuciPPIH Debarkasikesehatan

Komentar

Memuat komentar...