4 SD di Ponorogo Hanya Kebagian 2 Murid Baru
Gambar atau konten salah?
Empat sekolah dasar di Kabupaten Ponorogo hanya kebagian dua murid baru di tahun ajaran 2026. Dinas Pendidikan setempat mencatat, jumlah anak usia sekolah di wilayah itu memang menipis.
Farida Nuraini, Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo, menyebutkan keempat sekolah tersebut adalah SDN Nailan, SDN Setono, SDN Pomahan, dan SDN Tempuran. "Ada empat yang sudah update ke kami, yaitu Nailan, Setono, Pomahan, dan Tempuran," ujarnya pada Senin, 13 Juli 2026.
Hasil pemetaan di lapangan mengungkap tiga penyebab utama. Pertama, potensi siswa di daerah itu sudah habis. Kedua, belum bisa dipastikan apakah program Keluarga Berencana ikut berpengaruh — data riilnya belum ada. Ketiga, jumlah lulusan TK di empat wilayah tersebut tahun ini memang sangat sedikit.
Dinas Pendidikan tidak tinggal diam. Mereka sudah menjalin koordinasi dengan pemerintah desa dan pemangku kepentingan setempat. "Kami berkolaborasi dengan kepala desa, perangkat desa, dan stakeholder lainnya agar potensi anak-anak di desa itu bisa masuk ke SD yang ada," jelas Farida.
Opsi regrouping atau penggabungan sekolah mulai dikaji. Khususnya bagi sekolah yang bertahun-tahun tidak kebagian murid baru. SDN Setono, misalnya, sudah dua tahun tidak menerima satu pun siswa. "Kami sudah melakukan survei lapangan untuk melihat kemungkinan dilakukan regrouping," ungkap Farida.
Keputusan menggabungkan sekolah tidak bisa diambil sembarangan. Ada tiga aspek yang harus dipastikan: pengelolaan aset sekolah, hak belajar siswa, dan nasib tenaga pendidik. Guru-guru tidak boleh kehilangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) mereka. "Kalau regrouping dilakukan, asetnya harus jelas, siswanya harus dipindahkan ke sekolah lain agar hak belajarnya tetap terpenuhi, dan tenaga pendidiknya juga harus dipetakan supaya hak TPP mereka tetap aman," tegas Farida.
SDN Nailan juga sudah mengajukan usulan regrouping. Tapi usulan itu masih dievaluasi ulang. Pasalnya, sekolah tersebut baru saja mendapat tambahan dua siswa. "Nailan juga mengajukan regrouping. Tapi update hari ini Nailan sudah mendapat dua siswa, sehingga proposal yang diajukan akan kami monitoring kembali," pungkas Farida.
Kondisi ini mencerminkan tantangan demografis yang dihadapi daerah-daerah dengan angka kelahiran rendah. Sekolah-sekolah kecil di pedesaan menjadi yang paling terdampak. Penggabungan sekolah, meski rumit secara administratif, tampaknya menjadi jalan keluar yang paling mungkin untuk menjaga mutu pendidikan dan efisiensi anggaran.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
MPLS Lamongan Fokus Cegah Bullying
Pelajar SMP Berduaan di Toilet, Digiring ke Polsek
Sidak Subandi ke Proyek Bluru Kidul, Anggaran Dialihkan
Hanya Dua Siswa Baru, Guru Patungan Demi Sekolah Tetap Buka
Tarif Listrik Juli 2026 Dipastikan Tidak Naik
Satgas Khusus Awasi MPLS Jatim Tahun Ajaran 2026/2027
Berita Terbaru
4 SD di Ponorogo Hanya Kebagian 2 Murid Baru
Spanyol Tak Gentar Hadapi Prancis di Semifinal Piala Dunia
Mauro Zijlstra Cedera Lagi, Tinggalkan TC Timnas
Danantara Garap 26 Proyek Hilirisasi Rp225 Triliun
BEI: Politik Tak Lagi Pengaruhi IHSG
Tiga Ruang Kelas SD di Boyolali Disangga Bambu, Atap Nyaris Roboh
Suhu -5 Derajat Celsius, Petani Kentang Dieng Gagal Panen
MPLS Lamongan Fokus Cegah Bullying
