5 Langkah Praktis Memulihkan Pola Makan Pasca Lebaran
Gambar atau konten salah?
Setelah libur Lebaran yang panjang, banyak orang merasakan perubahan drastis pada pola makan mereka.
Makanan tinggi lemak, santan, kalori, camilan manis, dan kebiasaan makan berlebihan selama Lebaran sering membuat tubuh terasa lelah dan sulit kembali ke rutinitas sehat.
Para ahli gizi menegaskan bahwa kondisi ini wajar setelah periode hari raya atau liburan panjang, namun tetap perlu diatasi secara perlahan agar tidak berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Dilansir dari Forbes (24 Maret 2026), berikut lima langkah yang disarankan oleh para ahli gizi untuk mengatur kembali pola makan setelah Lebaran.
-
Hindari diet ekstrem dan detoks berlebihan
Ahli gizi Emilie Berry menjelaskan bahwa banyak orang merasa harus melakukan langkah ekstrem untuk memperbaiki pola makan setelah perayaan atau liburan panjang. Padahal menurutnya, "diet ketat justru tidak sehat dan sulit dipertahankan." Miranda Galati, pendiri Real Life Nutritionist, juga mengingatkan bahwa "diet ekstrem hanya akan memperburuk hubungan seseorang dengan makanan." Emilie Berry menyarankan agar seseorang kembali ke rutinitas makan biasa dan membangun pola makan sehat secara bertahap. Cara ini dinilai lebih realistis dan tidak membuat tubuh mengalami tekanan berlebihan setelah periode makan tidak teratur.
-
Utamakan protein dan serat
Miranda Galati menyarankan kembali membangun pola makan seimbang dengan memprioritaskan protein, serat, dan lemak sehat. Etosha Farmer, ahli gizi terdaftar di New York, menyebutkan asupan serat sekitar 25 hingga 30 gram per hari dapat membantu memperbaiki kondisi tubuh setelah liburan. Serat dapat diperoleh dari sayuran hijau, kacang-kacangan, hingga biji-bijian. Kombinasi protein dan serat membantu tubuh merasa kenyang lebih lama, sekaligus memperbaiki sistem pencernaan yang mungkin terganggu akibat pola makan berlebihan selama masa liburan.
-
Boleh konsumsi makanan favorit
Emilie Berry menyebut bahwa memperbaiki pola makan tidak berarti seseorang harus berhenti total mengonsumsi makanan favorit. Ia menyarankan agar seseorang tetap memilih satu makanan yang ingin dinikmati saat berkumpul atau makan di luar, lalu menyeimbangkannya dengan pilihan yang lebih sehat. Miranda Galati turut merekomendasikan menyimpan camilan favorit di freezer agar tetap bisa dinikmati sesekali setelah liburan berakhir. Tujuan utama memperbaiki pola makan bukan dengan melarang makanan tertentu, tetapi menemukan keseimbangan agar kebiasaan makan sehat dapat dijalani dalam jangka panjang tanpa rasa tertekan.
-
Perbanyak minum air dan kembali ke jadwal makan teratur
Etosha Farmer menyarankan meningkatkan asupan air putih setelah pola makan tak teratur atau setelah liburan. Menurutnya, minum air yang cukup membantu tubuh memproses karbohidrat dengan lebih baik sekaligus mengurangi rasa kembung akibat kelebihan garam. Haylie Pomroy, ahli gizi dan penulis buku Cooking for a Fast Metabolism, menyarankan agar orang-orang tidak melewatkan sarapan. Ia menekankan pentingnya makan dalam waktu 30 menit setelah bangun tidur agar tubuh tidak merasa terlalu lapar di kemudian hari. Kebiasaan makan teratur dinilai lebih efektif dibandingkan perubahan drastis yang sulit dipertahankan.
-
Perbanyak makanan segar dan kembali aktif bergerak
Etosha Farmer merekomendasikan kembali fokus menu makanan alami seperti buah dan sayur, serta mengurangi makanan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Haylie Pomroy menambahkan bahwa sayuran seperti mentimun, seledri, dan paprika dapat membantu tubuh kembali lebih segar karena kaya serat. Selain itu, penting agar orang-orang kembali aktif bergerak dengan olahraga ringan seperti berjalan kaki atau yoga. Menurut para ahli, langkah sederhana ini cukup efektif untuk membantu tubuh pulih setelah masa liburan tanpa harus melakukan perubahan yang terlalu berat.
Dengan mengikuti lima langkah sederhana ini, seseorang dapat secara perlahan mengembalikan pola makan yang sehat dan seimbang setelah periode Lebaran. Fokus pada protein, serat, hidrasi, dan aktivitas fisik ringan membantu tubuh menyesuaikan diri tanpa tekanan berlebihan. Pendekatan bertahap dan konsisten menjadi kunci agar kebiasaan sehat dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Influencer Jakarta Viral Cosplay Disabilitas, Kontroversial
Tendon Achilles Menjadi Penanda Kolesterol Tinggi Kesehatan
Anak 7 Tahun di India Berhasil Hindari Dialisis Dari CAKUT
Kasus Katup Jantung Naik di Indonesia, Deteksi Awal Penting
Tantangan Menemukan Angka Tersembunyi dalam Foto 7 Soal
Operasi Benjolan Bahu Raffi Ahmad, Dorong Pemeriksaan Rutin
Berita Terbaru
Busan: Tujuh Tempat Wisata Wajib bagi Para Turis 2026
UTM Dapat Izin Buka Dua Program Kedokteran, Mulai 2026/2027
PT PP & Kemen Pekerjaan Umum Selesaikan 69 SPPG dalam 37 Hari
Gubernur Bengkulu Minta BPKAD Cepat Pencairan Gaji ke-13 ASN
USU Buka Proses Banding UKT, Mahasiswa Bisa Perbaiki Tarif
PLN Junivaganza: Voucher Rp10.000 untuk Token Listrik
Gaji Tertinggi Pelatih Tim Nasional: Ancelotti Rp 182,2 M
Telkom Luncurkan AIcosystem: Ekosistem AI Jakarta Nusantara
