5 Restoran Bersejarah di Jakarta, Sajikan Hidangan dalam Bangunan Kolonial

Lia N. · 4 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
5 Restoran Bersejarah di Jakarta, Sajikan Hidangan dalam Bangunan Kolonial

Gambar atau konten salah?

Jakarta baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-499. Di tengah hiruk-pikuk kota dengan gedung-gedung tinggi menjulang, masih ada tempat-tempat makan yang menyimpan cerita masa lalu. Bangunan-bangunan tua peninggalan zaman kolonial Belanda, yang usianya sudah puluhan bahkan ratusan tahun, kini berfungsi sebagai restoran dan kafe.

Tempat-tempat ini tidak sekadar menjual makanan. Mereka menawarkan pengalaman bersantap yang berbeda. Pengunjung bisa menikmati hidangan sambil merasakan atmosfer sejarah. Ada yang berlokasi di kawasan museum, ada yang menjadi restoran mewah, dan ada juga yang menjadi ikon di kawasan Kota Tua. Semuanya punya cerita sendiri.

Berikut lima restoran unik di Jakarta yang menempati gedung-gedung bersejarah peninggalan era kolonial.

1. Jajaghu Restaurant

Bagi yang ingin merasakan suasana bersejarah sambil makan, House of Tugu di kawasan Kota Tua Jakarta layak dikunjungi. Tempat ini baru dibuka pada November 2024. Dulunya, bangunan ini milik seorang saudagar Tionghoa bernama Oei Tiong Ham. Bangunan itu sempat digunakan sebagai gudang gula dan kantor. Sekarang, bangunan bersejarah ini telah dipugar menjadi hotel bintang lima. Di dalamnya juga ada destinasi kuliner dengan koleksi ratusan benda antik dari abad ke-19.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Jajaghu Restaurant. Restoran ini mengusung konsep kejayaan Kerajaan Majapahit. Interiornya penuh dengan nuansa budaya dan sejarah Indonesia. Menu makanannya beragam. Ada udang goreng hingga soto ayam khas Lamongan. Harganya mulai dari Rp100.000 lebih. Restoran ini juga punya cocktail bar, private dining room, dan lounge. Tempat-tempat ini cocok untuk bersantap atau menggelar acara spesial.

2. Cafe Batavia

Tidak jauh dari House of Tugu, tepat di depan Museum Fatahillah, ada Cafe Batavia. Tempat ini menjadi salah satu ikon kuliner di kawasan Kota Tua Jakarta. Restoran ini menempati bangunan peninggalan Belanda yang sudah berdiri sejak tahun 1805. Bangunan ini sempat terbengkalai sebelum akhirnya dipugar. Setelah beberapa kali berganti kepemilikan, gedung ini akhirnya diubah menjadi restoran dan dibuka untuk umum pada tahun 1993.

Interiornya bergaya kolonial. Dipadukan dengan koleksi foto-foto lawas. Suasana ini menghadirkan nuansa nostalgia Jakarta tempo dulu. Menu yang ditawarkan memadukan cita rasa lokal dengan pengaruh Belanda. Ada rujak kepiting, nasi goreng roa, putri mandi, hingga ronde. Harganya mulai sekitar Rp80.000 per porsi.

3. Plataran Menteng

Plataran Menteng menjadi pilihan lain bagi pencinta kuliner. Restoran ini ingin menikmati hidangan Indonesia di bangunan bersejarah. Tempat ini dibuka sejak tahun 2017. Bangunan yang ditempati dulunya adalah bekas asrama mahasiswa Universitas Indonesia. Bangunannya megah dan kokoh.

Bangunan ini kemudian dibeli oleh Dokter Lukito Husodo. Lalu, dijual lagi ke pihak lain. Setelah itu, bangunan dipugar tanpa mengubah karakter aslinya. Plataran Menteng tidak mengubah apa pun dari bangunan ini. Bahkan, pohon mangga tua yang sudah berusia lebih dari 8 dekade tetap dipertahankan. Pohon itu menjadi bagian dari identitas tempat tersebut.

Interiornya memancarkan kesan klasik. Tempat ini nyaman untuk bersantap bersama keluarga atau tamu bisnis. Pilihan menunya beragam. Ada lumpiang Gang Lombok, salad terong cincang ayam, pindang serani, nasi goreng rengginang, rendang ayam Batu Sangkar, hingga tumis ciciwis Cianjur. Harganya mulai dari Rp100.000 per hidangan.

4. Bunga Rampai

Restoran Bunga Rampai berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Tempat ini menempati rumah bergaya kolonial yang sudah berdiri sejak awal tahun 1900-an. Sebelum menjadi restoran, bangunan ini pernah digunakan sebagai lokasi pertemuan para pejabat negara. Puluhan tahun kemudian, bangunan ini direnovasi menjadi restoran pada tahun 2007. Renovasi ini dilakukan oleh desainer interior Agam Riadi. Bentuk asli bangunan tetap dipertahankan. Nuansa klasiknya masih sangat terasa.

Interior Bunga Rampai memadukan gaya kolonial dengan sentuhan budaya Tionghoa peranakan. Perpaduan ini terlihat elegan. Di sisi kuliner, Bunga Rampai dikenal dengan beragam masakan Nusantara. Ada tumis pare telur asin, sayur lodeh gedongan, ayam tangkap khas Aceh, udang kenari, hingga sate maranggi. Sebagian menu dibanderol sekitar Rp200.000. Makanan ini bisa dinikmati bersama-sama.

5. Tugu Kunstkring Paleis

Tugu Kunstkring Paleis berdiri di sebuah bangunan megah peninggalan kolonial. Bangunan ini sudah ada sejak tahun 1914 di Jakarta Pusat. Dulu, tempat ini dikenal sebagai Bataviasche Kunstkring. Gedung ini kemudian dihidupkan kembali sebagai restoran dan galeri seni pada tahun 2013.

Suasana klasik dengan dekorasi artistik membuat pengalaman bersantap terasa berbeda. Tempat ini cocok bagi pencinta sejarah dan seni. Salah satu sajian unggulannya adalah Betawi Rijsttafel. Sajian ini menampilkan aneka hidangan dalam satu rangkaian. Pengunjung juga bisa menikmati menu lain. Ada Kippen Batavia Tangkar, bistik sapi ala Indonesische Biefstuk, sate ayam Madura, opor bebek, hingga kari ikan barramundi. Harganya mulai dari Rp100.000 per porsi.

Kelima restoran ini menunjukkan bahwa Jakarta tidak melulu soal gedung-gedung baru. Kota ini juga menyimpan warisan sejarah yang bisa dinikmati, termasuk melalui makanan. Setiap tempat punya cerita sendiri, dari bangunan yang pernah menjadi gudang, asrama mahasiswa, hingga tempat pertemuan pejabat. Kini, bangunan-bangunan itu kembali hidup sebagai tempat bersantap.

restoran bersejarahJakartagedung kolonialKota Tuakulinerbangunan tuaatmosfer sejarah

Komentar

Memuat komentar...