57 Biksu Tembus Muntilan, Menuju Puncak Borobudur Indonesia
Gambar atau konten salah?
Sejumlah 57 bhikkhu, atau biksu Buddha, telah menempuh perjalanan spiritual yang dikenal dengan thudong. Perjalanan ini berlangsung lewat Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, dan mereka kini berada di Muntilan, Kabupaten Magelang. Besok siang, rencana mereka adalah melanjutkan langkah kaki menuju puncak Candi Borobudur.
Pada pukul 17.30 WIB, rombongan biksu tiba di Kelenteng Hok An Kiong di Jalan Pemuda, Muntilan. Saat memasuki halaman kelenteng, para bhante disambut dengan taburan bunga mawar. Di dalam kelenteng, mereka bertemu dengan Bupati Magelang Grengseng Pamuji, Kapolresta Magelang Kombes Herbin Garbawiyata Jaya Sianipar, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Kemenag RI, Nyoman Suriadarma, serta pejabat lainnya. Setelah penyambutan, bhante masuk ke kompleks kelenteng yang juga berfungsi sebagai Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) untuk beristirahat.
Ketua Nasional Indonesia Walk For Peace 2026, Tosin, menjelaskan bahwa total biksu yang datang adalah 50, terdiri dari 43 biksu Thailand, 4 Malaysia, dan 3 Laos. Hari ini, 7 bhikkhu tambahan bergabung, sehingga jumlah total menjadi 57 bhikkhu. Ia menginformasikan kepada wartawan di Kelenteng Hok An Kiong pada Rabu (27 Mei 2026) bahwa malam ini mereka akan bermalam di kelenteng tersebut. Besok (28 Mei 2026), rencana perjalanan mereka adalah naik ke puncak Candi Borobudur, kemudian beristirahat di Pusdiklat Catra Jinadhammo, Borobudur.
Tosin menambahkan, “Jam 6 sampai jam 7 itu makan pagi, jam 7 mereka melakukan perjalanan, besok akan menuju Vihara Mendut. Setelah Vihara Mendut menuju Candi Borobudur sampai ke puncak. Itu sebagai spirit atau tujuan mereka melakukan perjalanan mulai dari Bali hasil akhir memang ada di Candi Borobudur.” Ia juga menekankan bahwa jadwal dapat bergeser tergantung kondisi cuaca, terutama jika udara terlalu panas.
Dalam kesempatan ini, Tosin menjelaskan istilah thudong. Ia mengatakan bahwa thudong berasal dari bahasa Pali “Dutangga,” yang berarti cara hidup. Karena aktivitas ini merupakan perjalanan damai, ia menyarankan menambahkan “Indonesia Walk For Peace” agar lebih tepat. “Maka lebih ideal kita nambahkan Indonesia Walk for Peace atau jalan damai,” jelas Tosin. Ia menegaskan bahwa biksu hidup sederhana di hutan, namun perjalanan ini dikemas sebagai jalan damai, bukan sekadar pertapaan.
Selama perjalanan, para biksu tidak mengalami kendala. Sebaliknya, sambutan masyarakat sangat luar biasa. “Oh tidak ada (kendala sama sekali). Kalau sambutan sangat hangat sekali, semua elemen masyarakat apakah itu dari berbagai agama semua sambut luar biasa. Dari anak kecil, orang dewasa, orang tua bahkan orang sakit saja sampai menunggu untuk menyambut dan mereka sangat bahagia,” tambah Tosin. Ia menyoroti bahwa meski cuaca terik dan beberapa titik kehujanan, biksu tetap melanjutkan perjalanan. Kaki mereka lecet, terkadang luka, namun mereka tetap berjalan. Malam mereka bahkan jahit kaki agar tidak lepas. “Artinya besok istirahat, masih tetap jalan. Jadi kalau kita lihat kaki yang ada di telapak, bisa jadi ada 3 sampai 5 jahitan. Tapi ini luar biasa, mereka tetap mengusung spirit perdamaian ini sangat tinggi sekali,” jelasnya.
Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha Kemenag RI, Nyoman Suriadarma, menegaskan pesan utama pada tahun 2026. Ia mengatakan bahwa Direktorat Jenderal bersama masyarakat Buddha telah merumuskan satu tema Waisak: “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia.” Dalam konteks ini, rombongan bhante dikemas dengan nama Indonesia Walk For Peace, yang diharapkan dapat mendunia. “Pesan utamanya, tentunya yang saya sampaikan dan di berbagai tempat bahwa kita ingin memperlihatkan, mengumandangkan kepada semua pihak sampai seluruh dunia bahwa spirit perjalanan beliau ini menunjukkan satu pesan bahwa keharmonian, kerukunan, keakraban, kebersamaan perlu terus menerus dihadirkan. Itu terbukti dari perjalanan dan terbukti dari semua dukungan masyarakat. Oleh karena itu kondisi seperti ini dapat dilihat dan juga dapat memberikan satu vibrasi kepada dunia bahwa menghadirkan satu perdamaian untuk semua orang, semua bangsa sangat penting dan itu lahir atau dimulai dari Indonesia melalui spirit perjalanan ini,” pungkasnya.
Video “36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur” menampilkan momen perjalanan yang menegangkan namun penuh makna. Meskipun tidak ada link langsung, video tersebut menyoroti dedikasi biksu dalam menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki.
Perjalanan ini menegaskan kembali pentingnya dialog antaragama dan kerjasama lintas budaya. Biksu dari Thailand, Malaysia, dan Laos bersatu dalam satu tujuan: menyalurkan pesan perdamaian melalui langkah kaki di tanah Indonesia. Keberhasilan mereka menembus tantangan cuaca, sambutan masyarakat, dan kondisi fisik menunjukkan keteguhan hati dan tekad. Kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana spiritualitas dapat diimplementasikan dalam aksi nyata, membawa pesan damai ke publik luas.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
Harga Emas Antam Medan Turun Rp15.000 per Gram di Medan
Sekolah Jember Siapkan Lapangan Sepak Bola Internasional
Kementerian Sosial Buka 5.127 Posisi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026
BKN Tegaskan Poster CPNS 2026 Hoaks, Cek Sumber Resmi
Kementerian Lingkungan Target Turunkan Emisi CO2 15% 2025
Korea Selatan & Panama Menang Uji Coba Piala Dunia 2026
Furtasan Usulkan PTN Seleksi Mahasiswa Hanya Dua Jalur
