ADB: Pertumbuhan Turun 5,1% 2026 atas Konflik Timur Tengah

Eko P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 133 dibaca
Bisik.id
ADB: Pertumbuhan Turun 5,1% 2026 atas Konflik Timur Tengah

Gambar atau konten salah?

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) menilai bahwa pertumbuhan ekonomi di negara‑negara berkembang Asia dan Pasifik akan menurun menjadi 5,1 % pada tahun 2026 dan 2027. Penurunan ini dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan yang terus berlangsung.

Dalam edisi April 2026 dari Asian Development Outlook (ADO), ADB menyoroti bahwa konflik di Timur Tengah menunjukkan kemungkinan tinggi akan gangguan berkelanjutan. Lingkungan global menjadi penuh tantangan dan ketidakpastian. Albert Park, Kepala Ekonom ADB, mengatakan: “Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah merupakan risiko terbesar bagi prospek kawasan ini karena dapat menyebabkan harga energi dan pangan yang terus tinggi dan kondisi keuangan yang lebih ketat.”

Menurut Park, konflik yang berkepanjangan dan meningkat di Timur Tengah dapat memengaruhi aktivitas ekonomi. Ia menambahkan, “Konflik yang berkepanjangan dan meningkat di Timur Tengah disebut dapat memengaruhi aktivitas ekonomi termasuk peningkatan harga, gangguan pengiriman dan volatilitas keuangan.”

Mayoritas perekonomian di negara berkembang Asia dan Pasifik diproyeksikan akan mengalami perlambatan pada 2026 dan 2027. Meski konsumsi swasta tetap tangguh dan permintaan kuat untuk barang‑barang terkait kecerdasan buatan, tekanan harga energi dan pangan masih menjadi faktor utama.

Proyeksi ADB untuk Indonesia berbeda. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan naik menjadi 5,2 % pada 2026 dan 2027, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 5,1 %. Kondisi ini dapat berubah jika konflik di Timur Tengah berkepanjangan dan memburuk.

Berbeda dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), di mana pertumbuhan diproyeksikan menurun menjadi 4,6 % pada 2026 dan 4,5 % pada 2027, turun dari 5 % pada 2025. Pelemahan pasar properti yang terus berlanjut dan ekspansi ekspor yang lebih lambat diperkirakan akan membebani aktivitas ekonomi di sana.

Di India, pertumbuhan diperkirakan melambat menjadi 6,9 % tahun ini, turun dari 7,6 % tahun lalu. Perekonomian di Pasifik diproyeksikan akan mengalami perlambatan paling tajam, dari pertumbuhan 4,2 % pada 2025 menjadi 3,4 % pada 2026 dan 3,2 % pada 2027.

Harga minyak diperkirakan tetap tinggi dalam jangka pendek, namun akan stabil secara bertahap jika ketegangan geopolitik mereda. Lonjakan harga energi baru‑baru ini, bersama potensi gangguan pada pupuk terkait konflik di Timur Tengah, dapat menekan inflasi harga pangan global.

Secara keseluruhan, ADB menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko utama bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia dan Pasifik. Dampak terhadap harga energi, pangan, serta ketidakpastian perdagangan akan terus memengaruhi prospek ekonomi hingga akhir dekade ini.

Pertumbuhan ekonomi Asia-PasifikKonflik Timur TengahKenaikan harga energiKenaikan harga panganAsian Development BankPasar properti TiongkokInflasi global

Komentar

Memuat komentar...