Aktivitas Matahari Bisa Memicu Gempa Bumi, Penelitian Baru

Fandi R. · 2 min baca · 29 hari lalu · 43 dibaca
Bisik.id
Aktivitas Matahari Bisa Memicu Gempa Bumi, Penelitian Baru

Gambar atau konten salah?

Badai Matahari, yang selama ini lebih dikenal karena aurora yang memukau, kini menjadi fokus penelitian yang menyingkap kemungkinan hubungan dengan gempa bumi. Peneliti dari Kyoto University mengembangkan model teoretis yang menunjukkan aktivitas Matahari dapat memengaruhi kondisi patahan di kerak Bumi.

Model ini menyoroti peran ionosfer, lapisan atas atmosfer yang dipenuhi partikel bermuatan. Ketika terjadi peristiwa seperti solar flare, jumlah elektron di ionosfer dapat meningkat drastis. Lonjakan muatan ini berpotensi membentuk lapisan bermuatan negatif di ionosfer. Melalui proses yang disebut electrostatic coupling, muatan tersebut dapat menghasilkan medan listrik yang menjalar hingga ke zona patahan di dalam kerak Bumi.

Di area patahan yang sudah rapuh, celah-celah kecil di dalam batuan sering terisi air dengan suhu dan tekanan tinggi. Kondisi ini dapat membuat zona tersebut berfungsi seperti kapasitor, menyimpan muatan listrik. Medan listrik yang terbentuk kemudian menimbulkan tekanan elektrostatik pada rongga-rongga tersebut. Perhitungan ilmuwan menunjukkan bahwa besarnya tekanan ini bisa setara dengan pengaruh gaya pasang surut atau gravitasi, yang selama ini diketahui berperan dalam kestabilan patahan.

Jika kondisi patahan sudah berada di titik kritis, tambahan tekanan kecil dari mekanisme ini berpotensi menjadi pemicu terjadinya gempa bumi. Fenomena ini menjelaskan mengapa beberapa anomali ionosfer sering muncul sebelum gempa besar. Para ilmuwan telah lama mengamati perubahan tidak biasa pada ionosfer, seperti peningkatan kepadatan elektron, penurunan ketinggian ionosfer, dan perubahan pola gelombang di atmosfer atas.

Biasanya, anomali tersebut dianggap sebagai akibat tekanan yang meningkat di dalam kerak Bumi sebelum gempa terjadi. Namun model baru ini menawarkan sudut pandang tambahan: kemungkinan adanya interaksi dua arah antara proses di Bumi dan kondisi di atmosfer atas. Dengan kata lain, aktivitas geologi di dalam Bumi dapat memengaruhi ionosfer, sementara gangguan di ionosfer juga dapat memberi umpan balik ke kerak Bumi.

Peneliti mencontohkan beberapa gempa besar di Jepang, termasuk gempa Semenanjung Noto pada 2024, yang terjadi tidak lama setelah periode aktivitas matahari yang intens. Meski demikian, mereka menegaskan bahwa hubungan waktu tersebut belum membuktikan sebab‑akibat.

Ke depan, ilmuwan berencana menggabungkan pengamatan ionosfer berbasis satelit dengan data cuaca antariksa dan pengukuran geologi. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu memahami lebih dalam bagaimana gempa bumi bisa dipicu oleh kombinasi faktor dari dalam Bumi dan dari luar angkasa.

Hasil studi ini dipublikasikan di jurnal International Journal of Plasma Environmental Science and Technology pada 3 Februari 2026 dengan judul "Possible mechanism of ionospheric anomalies to trigger earthquakes - Electrostatic coupling between the ionosphere and the crust and the resulting electric forces acting within the crust".

Secara keseluruhan, penelitian ini menambah pemahaman tentang potensi pengaruh aktivitas Matahari terhadap kestabilan patahan di Bumi. Meskipun masih belum ada bukti langsung bahwa flares matahari memicu gempa, model ini membuka jalan bagi studi lebih lanjut yang menggabungkan data satelit, cuaca antariksa, dan geologi untuk mengidentifikasi pola yang mungkin memprediksi peristiwa seismik di masa depan.

Badai Matahariionosfergempa bumielectrostatic couplingflares mataharipatahansatelit

Komentar

Memuat komentar...