Amalan Sunah Syawal: Puasa, Pernikahan, Silaturahmi, Sedekah

Fitri A. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 75 dibaca
Bisik.id
Amalan Sunah Syawal: Puasa, Pernikahan, Silaturahmi, Sedekah

Gambar atau konten salah?

Syawal datang setelah bulan suci Ramadan, menandai hari kemenangan umat Islam yang dirayakan sebagai Hari Raya Idulfitri. Pada bulan ini, selain salat Id dan takbir, ada banyak amalan sunah yang dapat dilaksanakan.

Berikut beberapa amalan sunah di bulan Syawal yang dapat diamalkan, lengkap dengan hadits yang menegaskan keutamaan masing‑masing.

Puasa Sunah Syawal adalah amalan pertama yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Ia bersabda: “Berpuasa sebulan pada bulan Ramadan menyamai berpuasa selama sepuluh bulan. Berpuasa enam hari setelahnya menyamai puasa dua bulan. Dengan demikian, keduanya menyamai puasa satu tahun.” (HR Ibnu Majah, Ahmad an-Nasa'i, dan Ibnu Hibban dalam Shahih). Puasa enam hari ini setara dengan puasa selama satu tahun penuh.

Puasa Ayyamul Bidh juga menjadi pilihan. Rasulullah SAW mengajarkan puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya. Haditsnya berbunyi: “صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ”. Artinya: Puasa tiga hari di setiap bulannya adalah seperti berpuasa sepanjang tahun. (HR Bukhari). Selain itu, beliau menegaskan bahwa puasa Ayyamul Bidh termasuk tiga hal yang tidak pernah ditinggalkan, sebagaimana dikisahkan kepada Abu Darda: “أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ”. Artinya: Rasulullah SAW berpesan kepadaku tiga hal yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa setiap tiga hari pada setiap bulannya, mengerjakan dua rakaat salat duha, serta salat witir sebelum tidur. (HR Bukhari dan Muslim).

Puasa Senin‑Kamis juga termasuk amalan sunah yang dianjurkan. Aisyah RA mencatat haditsnya: “Rasulullah SAW sangat antusias dan bersungguh‑sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Imam Ahmad).

Menikah di Bulan Syawal menjadi amalan yang menolak kepercayaan sesat bahwa menikah di bulan ini membawa sial. Aisyah RA mengingatkan: “تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّي”. Artinya: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam menikahiku pada bulan Syawal dan berkumpul denganku pada bulan Syawal, maka siapa di antara istri‑istri beliau yang lebih beruntung dariku? (HR Muslim).

Memperkuat Silaturahmi menjadi tradisi penting di bulan Syawal. Menurut buku “Harian Orang Islam: Agenda Syar'i Muslim/Muslimah Teladan Sepanjang Tahun” karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, muslim biasanya memperbanyak kunjungan dan maaf kepada sesama muslim. Praktik saling mengunjungi dan memaafkan mempererat hubungan sosial serta menambah sukacita Hari Raya Idulfitri.

Bersedekah merupakan amalan yang dapat dilakukan kapan saja, namun bulan Syawal menjadi waktu yang tepat. Asma' binti Abi Bakr menceritakan haditsnya: “أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ”. Artinya: Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung‑hitungnya (menyimpan tanpa mau menyedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.

Amalan sunah di bulan Syawal ini menegaskan nilai spiritual dan sosial bagi umat Islam. Melalui puasa, pernikahan, silaturahmi, dan sedekah, bulan Syawal menjadi momentum memperkuat iman, mempererat tali persaudaraan, serta mengekspresikan rasa syukur atas nikmat yang diberikan.

SyawalIdulfitriPuasa SunahAyyamul BidhSenin‑KamisPernikahan SyawalSilaturahmiSedekah

Komentar

Memuat komentar...