5 Restoran Tertua Indonesia Selama Lebih Dari Seabad
Gambar atau konten salah?
Di tengah hiruk‑huruk kota metropolitan, masih ada beberapa tempat makan yang sudah berdiri lebih dari satu abad. Mereka tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kuliner Indonesia, mulai dari masa kolonial hingga era modern.
Berikut ini lima restoran tertua di Indonesia yang masih beroperasi hingga kini. Setiap tempat punya cerita unik dan menu khas yang membuat pelanggan tetap setia.
-
Warung Tinggi Tek Sun Ho (01 Januari 1878)
Warung Tinggi Tek Sun Ho adalah kedai kopi tua yang terletak di Jalan Molenvliet Oost, sekarang dikenal sebagai Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Pendirinya, Liaw Tek Soen, membuka kedai ini pada 01 Januari 1878. Awalnya, tempat ini menjadi pertemuan para pecinta kopi di Batavia. Keunikan Warung Tinggi terletak pada racikan kopi tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dua menu paling terkenal adalah kopi jantan dan kopi betina. Seiring waktu, nama kedai berubah menjadi Koffie Warung Tinggi. Saat ini, Warung Tinggi menawarkan sekitar 200 jenis racikan kopi, tetap menjadi ikon kopi legendaris Jakarta meski sudah hampir satu setengah abad beroperasi.
-
Toko Oen (01 Januari 1910)
Toko Oen, yang terkenal dengan es krim klasik dan suasana nostalgia, pertama kali dibuka pada 01 Januari 1910. Pada masa lalu, Toko Oen memiliki cabang di Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Malang. Kini, hanya dua cabang yang masih bertahan, yakni di Semarang dan Malang. Toko Oen tetap menjaga resep es krim warisan keluarga Oen, yang telah digunakan selama puluhan tahun. Menu favorit meliputi tutti frutti, peach melba, banana split, domino, dan sonny boy. Selain es krim, pelanggan dapat menikmati hidangan Indonesia dan Eropa, seperti bistik sapi, nasi goreng spesial, dan pasta. Suasana klasiknya membuat pengunjung merasa kembali ke masa lampau.
-
Braga Permai (01 Januari 1918)
Braga Permai, yang berdiri pada 01 Januari 1918, adalah restoran bersejarah di Bandung. Awalnya bernama Maison Bogerijen, tempat ini menjadi favorit kalangan elite pada masa kolonial Belanda. Terletak di Jalan Braga No. 58, bangunan ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Meskipun suasana klasiknya masih terjaga, Braga Permai juga dikenal dengan sajian pastry, kue khas Belanda, dan es krim dengan berbagai varian rasa. Hingga kini, Braga Permai tetap menjadi tujuan wisata kuliner bagi wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menikmati nuansa Bandung tempo dulu.
-
Wong Fu Kie (01 Januari 1925)
Wong Fu Kie adalah restoran China legendaris yang berdiri pada 01 Januari 1925 di kawasan Roa Malaka, Jakarta Barat. Restoran ini menyajikan masakan Hakka autentik, dengan resep yang tetap dipertahankan hingga generasi ketiga. Nama Wong Fu Kie diambil dari pendirinya, Oeij Phoe Kie. Ciri khas masakannya adalah rasa gurih dengan sentuhan manis yang seimbang. Bahan seperti bawang putih, arak, tape ketan merah, dan tepung sagu menjadi elemen penting dalam berbagai hidangannya. Meski sudah berusia satu abad, Wong Fu Kie tetap menjadi destinasi kuliner favorit bagi pencinta masakan China tradisional.
-
Sumber Hidangan (01 Januari 1929)
Sumber Hidangan, toko roti legendaris di Bandung, terletak di Jalan Braga. Didirikan pada 01 Januari 1929, toko ini sebelumnya dikenal dengan nama Het Soephuis, yang berarti Rumah Manis. Selama hampir satu abad, Sumber Hidangan tidak pernah berpindah lokasi. Pengunjung masih dapat menikmati roti klasik seperti croissant, bitterballen, roti tawar, hingga chocolates rotsjes. Daya tarik lain terletak pada bangunan bergaya Belanda dengan jendela besar, etalase tua, mesin kasir lawas, dan interior yang hampir tak berubah sejak dahulu. Tempat ini menjadi ikon kuliner sekaligus sejarah Kota Bandung.
Kelima tempat ini tidak hanya menawarkan hidangan lezat, tetapi juga memegang peranan penting sebagai pelestari budaya kuliner Indonesia. Setiap kunjungan ke salah satu restoran ini memberi kesempatan untuk merasakan sejarah yang hidup, sekaligus menikmati cita rasa yang telah terjaga selama puluhan, bahkan lebih dari satu abad. Mereka menjadi contoh nyata bahwa tradisi kuliner dapat bertahan dan tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Galbitang: Sop Iga Korea, Menu Sederhana Menikmati Keluarga
Sambal Bawang Bu Rudy: Pedas Nendang, Mudah Dibuat di Rumah
Kopi Selai Kacang: Minuman Sehat, Creamy, Mudah Dibuat
Warung Nasi Goreng Salatiga Viral karena Timun Utuh
Jagakarsa: 7 Tempat Kuliner Tradisional yang Harus Dicoba
Gading Serpong: Pusat Kafe Favorit Warga BSD dan Tangerang
Berita Terbaru
Yonathan Baskoro Ketua PBPI Denpasar, Fokus Padel Turisme
ONIC vs BTR, Final MPL ID S17: Siapa Juara? Semangat Penuh
Probiotik Manis: Gula Tinggi, Risiko Diabetes, Konsumen
5 Restoran Tertua Indonesia Selama Lebih Dari Seabad
KAI Access: Subkelas Ekonomi Berbeda, Harga Tergantung Kode
Onic vs BTR: Grand Final MPL ID 2026, Hadiah Rp5 Miliar
Transmart Full Day Sale: Diskon 50%+20% Hingga 22.00 WIB
