Anak 1 Menit Memakan Tanaman: Tantangan Keluarga Di Cianjur
Gambar atau konten salah?
Video berdurasi satu menit yang beredar di media sosial menampilkan seorang anak bernama Mohammad Rizki bermain di rerumputan lalu mengunyah tanaman yang ia cabut dari tanah dan pohon. Video tersebut diambil di Kampung Babakan Cianjur, RT 04/07 Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat.
Dalam rekaman, Rizki terlihat menelan dedaunan dengan riang, sementara orang tua dan neneknya berada di latar belakang. Menurut narasi yang melampirkan video, anak tersebut telah lama ditinggalkan sang ibu, sehingga ia tinggal bersama ayah dan neneknya.
Ayah Rizki, Asep Setiawan, menjelaskan bahwa kebiasaan memakan dedaunan ini disebabkan oleh gangguan kejiwaan dan tunawicara yang dialami anaknya. Ia menambahkan bahwa faktor ekonomi juga turut berperan. "Memang ada dua faktor, jadi yang pertama karena kondisi mentalnya terus yang kedua karena faktor ekonomi," ujar Asep saat dikonfirmasi pada 29 April 2026.
Asep tidak memiliki pekerjaan tetap karena ia sibuk merawat anaknya. Ia berharap Rizki dapat mendapatkan pengobatan atau terapi. "Saya mau anak saya dapat pengobatan atau terapi, soalnya kalau mandiri saya enggak punya uang. Saya enggak kerja, karena anak saya enggak bisa ditinggal. Kalau pergi sendiri, nanti anaknya bisa tersesat," kata Asep.
Menurut Asep, kebiasaan ini diketahui sejak Rizki berusia empat tahun. Saat itu, Asep masih bekerja sebagai penjual sandal keliling. Anak tersebut tinggal di kontrakan bersama neneknya di daerah Bunisari, Desa Gadobangkong. "Jadi waktu itu saya lagi jualan, cuma karena lapar akhirnya saya pulang. Ternyata anak saya di rumah itu lagi makan daun talas, dia bawa dari luar. Saya cek masih banyak di sakunya," ungkapnya.
Walaupun kebiasaan memakan dedaunan tidak dapat dihentikan, Asep mengatakan bahwa Rizki dapat membedakan tanaman beracun dan aman. "Tapi dia tahu mana yang beracun dan tidak. Makanya saya minta supaya ada perhatian dari pemerintah buat anak saya dan saya pribadi," tambah Asep.
Video ini menyoroti kondisi keluarga yang sederhana namun penuh tantangan. Keinginan Asep untuk mendapatkan dukungan medis dan perhatian pemerintah menunjukkan betapa pentingnya intervensi bagi anak dengan kebutuhan khusus. Kesadaran masyarakat terhadap situasi ini dapat membuka peluang bagi upaya rehabilitasi yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
