Anak Muda Main Domikado Tanpa Gadget di Aloon Semarang
Gambar atau konten salah?
Semarang, sore ini di Aloon-aloon Kauman terlihat suasana yang tak biasa. Sekelompok anak muda, yang sebelumnya tidak saling mengenal, duduk melingkar di atas rerumputan sambil bermain domikado. Mereka menaruh ponsel di tengah lingkaran, menahan diri dari layar yang biasanya mengisi waktu mereka.
Gelak tawa muda-mudi terdengar riuh, menandakan kebebasan dari ketergantungan gadget. Peristiwa ini dimulai dari sebuah unggahan sederhana di media sosial, yang mengajak warga Semarang berkumpul dan bermain bersama tanpa gadget. Ide ini lahir dari rasa frustasi penggagasnya, Tata Oktawandari, yang berusia 34 tahun dan sedang menempuh studi S2 di Universitas Diponegoro.
"Ini berangkat dari keresahan bahwa kita di umur segini sudah terlalu banyak main HP. Akhirnya aku mencoba ngajak di Threads," kata Tata pada Sabtu (08 Mei 2026). Unggahan tersebut mendapat respon yang luar biasa, dengan ratusan orang menanggapi dalam hitungan hari. Mereka sepakat berkumpul di Aloon-aloon Kauman untuk mengisi sore bersama.
Tata sendiri mengaku belum memikirkan konsep acara secara detail. "Jujur belum kepikiran konsep acaranya seperti apa. Tapi beruntungnya teman-teman mau datang. Jadi kita ya sudah sekumpulnya, kita kenalan, main bareng sampai capek," ungkapnya. Suasana terasa seperti potongan masa kecil yang hidup kembali. Saat domikado dimulai, peserta yang salah langsung dihukum lari kecil mengelilingi lingkaran. Teriakan dan gelak tawa pecah tanpa canggung, meski semua baru pertama kali bertemu.
Walaupun sempat takut, Tata mengakui kekhawatirannya lebih pada potensi penyalahgunaan acara daripada ketidaktahuan peserta. "Takut karena kan kita juga nggak tahu orangnya. Tapi saya justru mengkhawatirkan isi acara ini. Karena kan yang saya colek itu milenial dan gen Z awal, range usianya cukup luas, cowok atau cewek silakan datang," ucapnya. Ia juga khawatir akan muncul oknum yang tidak sesuai. Namun, suasana yang cair membuat kekhawatirannya perlahan hilang.
Mahasiswa S2 Undip itu mengakui dirinya cukup introvert. "Fun fact-nya saya cukup introvert. Jadi effort juga memberanikan diri buat datang ke sini," katanya sambil tertawa. Satu aturan sederhana diberlakukan: peserta diminta menyimpan ponsel selama bermain. Tata menjelaskan bahwa ini memberi kesempatan untuk beristirahat sejenak dari perangkat yang kini dipakai untuk bekerja, mencari informasi, atau sekadar hiburan.
"Harapan saya selama bermain di sini kita ambil jeda dulu dari gadget. Kita simpan dulu, paling nggak 1-2 jam supaya fokus, aware dengan orang-orang yang ada di sekitar kita, nggak melulu scrolling," jelas Tata. Ia juga mengajak kedua anaknya untuk ikut bermain. Menurutnya, anaknya sering terpapar media sosial, game, dan YouTube, sehingga acara ini menjadi cara baru untuk mengurangi ketergantungan gadget.
Tata menekankan bahwa tidak ada obrolan politik atau topik berat. "Di sini juga nggak ada obrolan politik, kita lupakan semuanya, karena kita terlalu sering mendengar berita buruk. Pokoknya jangan ngomongin kerjaan atau apapun yang berat," tambahnya. Di tengah tren doomscrolling dan kesibukan media digital, sore ini terasa berbeda. Tidak ada notifikasi, tidak ada suara video pendek berseliweran.
Salah satu peserta, Ashar, berusia 23 tahun, menganggap acara ini pelarian sejenak dari rutinitas kerja yang melelahkan. Ashar, seorang engineer asal Salatiga, mengaku rela berangkat sendiri ke Semarang demi ikut bermain bersama orang asing. "Sebenarnya aku kayak cari komunitas permainan, dan kebetulan nemu Threads itu. Karena nggak percaya diri buat komentar, aku langsung DM. Terus aku langsung nurutin intrusive thoughts, jadi langsung ke sini," ucapnya.
Ia menggemari permainan seperti board game atau aktivitas lain yang bisa menjadi pelarian dari lelah pekerjaan. "Kadang kita burnout di tempat kerja. Jadi sometimes we need escape (kadang kita butuh pelarian). Salah satunya aku suka bermain. Entah itu board game atau cuma nongkrong sama teman," ujarnya. Ashar tiba di Semarang sekitar pukul 17.10 WIB setelah berangkat dari Salatiga pukul 15.30 WIB. Meski datang sendiri dan tanpa rencana lain, ia merasa puas dan bisa bernostalgia ke masa kecilnya.
"Udah lama nggak main kayak gini di umur segini. Mau ngajak orang di kantor juga pasti dikira childish banget kesannya. Jadi ini seru karena permainan zaman dulu kayak gini yang bikin nostalgia, kayak kembali ke masa kecil," tuturnya. Saat suara azan maghrib berkumandang, mereka sempat berhenti bermain dan salat bagi yang melaksanakan. Hal itu mengingatkan pada masa kecil ketika pengingat untuk berhenti bermain hanyalah suara azan.
Acara ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk menciptakan ruang sosial yang lebih manusiawi. Dengan menyimpan ponsel, peserta diberi kesempatan untuk terhubung langsung dengan sesama. Tata berharap dapat menggelar pertemuan serupa di masa depan dan membangun komunitas resmi yang mengedepankan interaksi tatap muka.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
KAI Commuter Tandai Penumpang Merokok di KRL di Palur
Kera Liar Merusak Rumah Pak Wahyu, Evakuasi 20 Menit
Prabowo Panggil Nanik S Deyang Jadi Kepala BGN, Ganti Dadan
Kekurangan Sekolah di 5 Kecamatan Semarang: Tanah Belum Tersedia
Berita Terbaru
SIM Keliling Kembali Operasi di Badung dan Buleleng Pusat
Italia 1-0 Luksemburg, Baldini Raih Kemenangan Muda
Belanda Kalah 0-1 dari Aljazair, Persiapan Piala Dunia 2026
Zodiak Cancer 4 Juni 2026: Hari Ramai Air dan Keberuntungan
Zodiak Virgo 4 Juni 2026: Hari Bintang, Peluang Romantis & Karier
Zodiak Aries 4 Juni 2026: Energi Baru dan Peluang Cinta
Zodiak Libra 4 Juni 2026: Keseimbangan Hari, Cinta, Karier & Kesehatan
Zodiak Scorpio 4 Juni 2026: Panduan Hari Terbaik Hari
Zodiak Leo 4 Juni 2026: Energi Matahari Menuntun Hari Anda
Zodiak Gemini: 4 Juni 2026, Hari Dinamika Kencan dan Karier
