Anak Rentan Terhadap El Nino: Risiko Penyakit Meningkat

Wati N. · 3 min baca · 15 hari lalu · 47 dibaca
Bisik.id
Anak Rentan Terhadap El Nino: Risiko Penyakit Meningkat

Gambar atau konten salah?

Indonesia sedang mempersiapkan diri menghadapi fenomena El Nino pada musim kemarau tahun ini. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak‑anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak El Nino.

Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, dr Darmawan Budi Setyanto, SpA, Subsp Respi(K), menjelaskan bahwa sistem imun tubuh pada anak belum matang. “Makin besar anaknya, remaja ini tentu sudah mendekati dewasa, sehingga tidak terlalu terdampak. Tapi, makin muda usia, makin rentan,” ujarnya dalam konferensi pers daring pada Selasa, 19 Mei 2026.

Ia menambahkan bahwa pada anak‑anak yang lebih kecil, laju napas, respirasi, dan metabolisme lebih tinggi. “Lalu pada anak-anak yang lebih kecil, laju napasnya lebih tinggi, respiratory rate-nya dan juga metabolismenya lebih tinggi, sehingga anak itu menghirup lebih banyak udara dibandingkan rasio-nya dengan berat badannya berpotensi terpajar lebih banyak polutan dibandingkan orang dewasa,” sambungnya.

Selain itu, anak tidak dapat mengatur suhu tubuh secara efisien, sehingga risiko dehidrasi dan heatstroke meningkat. Dr Darmawan juga memperingatkan beberapa masalah kesehatan yang dapat berdampak pada anak, antara lain:

  1. Diare dan Penyakit Bawaan Air (Waterborne Disease)
    Menurut dr Darmawan, kekeringan akibat El Nino dapat mencemari sumber air. “Apalagi kalau El Nino yang kuar, super El Nino atau El Nino 'Godzila'. Mekanismenya mulai dari kekurangan, kekeringan sumber air, atau sumber air tercemar oleh berbagai kuman,” katanya. “Sanitasi kemudian memburuk saat air bersih langka, lalat berkembang biak di tempat sampah dan ini meningkatkan risiko terjadinya diare oleh karena berbagai kuman tadi,” sambungnya.
  2. Pneumonia
    Pneumonia adalah peradangan pada kantung udara (alveoli) di paru‑paru yang disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau jamur. “Kekeringan ini akan meningkatkan risiko pneumonia juga,” kata dr Darmawan. Ia menekankan bahwa diare dan pneumonia menjadi dua kondisi yang bersinergi dalam meningkatkan kematian anak. “Fakta kuncinya adalah, anak-anak di bawah 5 tahun, paru‑paru masih dalam fase tumbuh kembang. Lebih rentan terhadap kerusakan permanen,” tambahnya.
  3. Dehidrasi
    Cuaca panas ekstrem dapat meningkatkan risiko dehidrasi ringan, sedang, hingga berat pada anak. “Iya ini merupakan keadaan gawat darurat,” ujar dr Darmawan. Ia menegaskan bahwa bila tidak ditangani, risiko kematian juga meningkat.
  4. Demam Berdarah dan Malaria
    Penyakit yang ditularkan melalui vektor, seperti nyamuk, dapat meningkat. “Dalam hal ini nyamuk, yaitu demam berdarah dan malaria juga akan mengalami peningkatan,” kata dr Darmawan. Ia menjelaskan bahwa kelangkaan air menciptakan tempat yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. “Karena kelangkaan air, maka seperti kita tahu, mengenai nyamuk‑nyamuk vector pembawa penyakit ini, baik demam berdarah maupun malaria, itu untuk berkembang biak menyukai tempat yang terisolasi, yang bening,” sambungnya.

Dengan pemahaman ini, keluarga diharapkan dapat mengambil langkah preventif. Menjaga kebersihan lingkungan, memastikan anak minum cukup air, dan memantau suhu tubuh secara rutin menjadi hal penting. Pemerintah daerah juga diharapkan memperkuat sanitasi dan distribusi air bersih, serta meningkatkan penyuluhan tentang cara mengurangi paparan vektor.

Perkiraan dampak El Nino di Indonesia menuntut perhatian khusus terhadap kesehatan anak. Menurut data, anak di bawah lima tahun paling rentan karena paru‑paru masih berkembang. Penyakit seperti diare, pneumonia, dehidrasi, demam berdarah, dan malaria dapat menambah beban kematian. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan edukasi menjadi kunci untuk melindungi generasi muda dari risiko yang meningkat.

El Ninoanak rentandehidrasipneumoniademam berdarahmalariasanitasi

Komentar

Memuat komentar...