Angkot Sukabumi Hemat Rp40.000 per Hari Pakai LPG Sekarang
Gambar atau konten salah?
Di jalan Terminal Sukaraja menuju Kota Sukabumi, sebuah angkot berderak dengan suara mesin biasa. Namun, tak semua tenaga kendaraan itu berasal dari bensin. Di balik kap mesin, terpasang tabung elpiji 3 kilogram yang kini menjadi sumber tenaga alternatif. Pemandangan ini baru saja menjadi perbincangan di media sosial.
Angkot dengan trayek 01 dikemudikan oleh Hendra Irawan, sopir berusia 53 tahun yang telah mengaspal di Sukabumi selama puluhan tahun. Ia menjelaskan bahwa keputusan beralih ke elpiji tidak datang begitu saja. “Awalnya ikut teman saja. Dia sudah pakai duluan, saya tanya-tanya dulu soal keluhan dan kendalanya. Setelah dipertimbangkan, akhirnya saya pasang juga,” ujarnya pada 13 April 2024.
Perubahan ini secara perlahan mengubah pengeluaran harian. Kini Hendra dapat menghemat biaya operasional Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari dibandingkan ketika masih memakai bensin. Dalam satu hari ia menghabiskan sekitar dua tabung gas. Satu tabung elpiji dapat dipakai hingga empat kali perjalanan (rit). Jika dibandingkan dengan bensin, selisih biayanya terasa cukup jauh.
“Kalau pakai bensin, empat rit bisa habis sekitar Rp 50 ribu. Sekarang satu tabung gas hanya Rp 19 ribu,” katanya. Dulu, Hendra mengaku membutuhkan sekitar 9 liter bensin per hari dengan biaya mencapai Rp 90 ribu. Kini, cukup dengan dua tabung elpiji, pengeluarannya turun menjadi sekitar Rp 38 ribu. “Alhamdulillah sangat terbantu, jadi ada sisa dari penghasilan,” ucapnya.
Selama sekitar tujuh bulan menggunakan elpiji, Hendra tidak merasakan kendala berarti pada mesin. Ia menyebut kondisi mesin tetap standar tanpa perlu penyesuaian khusus, bahkan pembakaran dinilai lebih bersih. “Karburator aman, tidak ada servis tambahan. Pembakaran juga bagus, busi tidak cepat kotor seperti sebelumnya,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui tenaga kendaraan sedikit berkurang, terutama saat melintasi tanjakan. Namun, kondisi tersebut dapat diatasi dengan cepat karena sistem bahan bakar masih bisa dialihkan ke bensin. “Kalau nanjak memang agak kurang tenaganya, tapi bisa langsung pindah ke bensin, tinggal cabut selang saja,” tambahnya.
Untuk menekan biaya lebih jauh, Hendra biasanya membeli elpiji langsung dari agen agar mendapatkan harga yang lebih murah. Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun sebagai sopir angkot, ia melihat penggunaan elpiji sebagai solusi alternatif di tengah tingginya biaya operasional. “Yang penting kendaraan tetap jalan dan ada sisa. Sekarang terasa lebih ringan di biaya,” pungkasnya.
Perubahan ini menunjukkan bahwa meski elpiji tidak sepenuhnya menggantikan bensin, ia dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis bagi pengemudi angkot. Dengan penghematan harian dan tidak memerlukan perawatan tambahan, elpiji menawarkan solusi praktis bagi mereka yang ingin menekan biaya operasional tanpa mengorbankan kinerja kendaraan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
Jadwal Sholat Bandung 04 Juni 2026: Subuh 04:35, Zuhur 11:51
Jawa Barat Raih Opini WTP ke-15 Berturut‑turut 2025
624 Pendaftar Sekolah Maung Tampil Meski Sosialisasi Singkat
Sukabumi Bentuk Pokja BSAN, Fokus Kurangi Kekerasan Sekolah
Berita Terbaru
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Pelantikan DPW IAEI Jambi, Gubernur Tekankan Ekonomi Syariah
Bayi Ditemukan Telantar di Sungai Cibinong, Cibogo
Vlahovic Lepas dari Juventus, Cari Klub Baru Luar Italia
Raymond-Indra dan Nikolaus-Joaquin Kalah, Fokus Tampil
BMKG: Hujan Ringan di Way Kanan, Lampung Sore Hari
Zamzam: Air Suci Terus Mengalir Meski Dipompa 24 Jam
Tanggal 04 Juni 2026 Dapat Dihitung 18 Dzulhijjah 1447 H
Terowongan Tijuana‑Otay, 1.000 kg Kokain Ditangkap Besar
