Antrean Panjang di SPBU Paleteang, Penundaan Tanker BBM

Dian P. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 40 dibaca
Bisik.id
Antrean Panjang di SPBU Paleteang, Penundaan Tanker BBM

Gambar atau konten salah?

Di wilayah Pinrang, Sulawesi Selatan, antrean kendaraan menumpuk di SPBU Paleteang. Penyebabnya adalah mobil tangki Pertamina yang bertugas menyuplai bahan bakar terlambat tiba, sehingga proses bongkar muat tidak berjalan sesuai jadwal.

Pengamatan di lokasi pada 30 Maret 2026 menunjukkan antrean motor dan mobil yang menunggu untuk mengisi pertalite mengular hingga ke jalan poros Pinrang‑Enrekang. Para pengendara motor terlihat kepanasan karena terik matahari. Beberapa di antaranya memilih berteduh dan menunggu sambil tetap menempatkan motor di barisan. Sementara itu, warga yang baru datang memilih putar balik karena panjangnya antrean.

Antrean terpanjang terjadi di jalur pengisian mobil. Jaraknya mencapai 200 meter hingga ke badan jalan. Meskipun begitu, arus lalu lintas di lokasi terpantau lancar baik dari arah Enrekang maupun dari Pinrang ke Enrekang.

Warga bernama Adnan mengaku telah menunggu selama sekitar 30 menit. Menurutnya, SPBU lambat buka dan melayani karena mobil pengangkut BBM terlambat datang untuk membongkar muatan BBM. “Tadi saya sempat ke sini pagi tapi masih belum buka. Katanya agak lambat mobil Pertamina datang makanya lambat juga buka,” kata Adnan di lokasi.

Menurut Manajer SPBU Paleteang, Risal Ashari, antrean terjadi karena mobil yang menyuplai stok BBM terlambat datang. Akibatnya, sudah banyak mobil yang menumpuk untuk mendapatkan BBM. “Kan tadi terlambat masuk mobil yang bongkar BBM jadi sudah banyak yang antre. Kalau kita bicara kuota aman‑aman saja itu 16 ton Pertalite per hari, kecuali hari raya bisa masuk sampai 24 ton,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa lonjakan antrean bukan disebabkan kelangkaan, melainkan fenomena panic buying akibat kekhawatiran masyarakat terhadap isu kenaikan harga. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada kenaikan harga maupun kelangkaan BBM. “Ini lebih karena masyarakat takut harga naik dan untuk stok. Kami imbau agar tidak panik karena BBM tidak langka dan tidak naik,” tambahnya.

Selain itu, Risal Ashari menyebutkan bahwa momentum bertepatan dengan arus balik turut memicu meningkatnya mobilitas warga. “Ini melonjak karena juga ada momentum arus balik sehabis lebaran,” terangnya. Ia menambahkan bahwa situasi antrean memang berpotensi memicu ketegangan antar konsumen. Pihak SPBU pun telah berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat untuk membantu pengawasan di lapangan. “Kami sudah minta bantuan Kapolsek untuk pengawasan, karena sempat ada konsumen yang adu mulut sampai hampir berkelahi, saling klaim antrean lebih dulu,” kata manajer.

Untuk sementara, pihak SPBU membatasi pelayanan dengan tidak melayani pengisian menggunakan jeriken. Kebijakan ini diambil untuk memprioritaskan kebutuhan kendaraan pribadi di tengah tingginya permintaan. “Kami utamakan kendaraan langsung dulu. Nanti setelah antrean normal, baru kami layani lagi pengisian jeriken karena ini kan juga di sini sudah selesai panen yang biasanya mereka pakai itu BBM untuk pertanian,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, antrean di SPBU Paleteang dipicu oleh keterlambatan mobil tangki Pertamina dan kebijakan kuota harian. Meskipun tidak ada kelangkaan atau kenaikan harga, ketakutan masyarakat terhadap kemungkinan perubahan harga memicu perilaku panic buying. Keadaan ini menambah tekanan pada layanan SPBU, yang harus menyeimbangkan antara kebutuhan kendaraan pribadi dan pengisian jeriken. Sementara itu, koordinasi dengan kepolisian membantu menjaga ketertiban di antara konsumen yang menunggu. Dengan demikian, situasi antrean di SPBU Paleteang mencerminkan dinamika pasokan BBM dan perilaku konsumen di wilayah Pinrang pada saat itu.

SPBU PaleteangAntrean kendaraanMobil tangki PertaminaPanic buyingKuota harianKepolisianArus balik

Komentar

Memuat komentar...