Apel Golden Analagi: Varietas Lokal Batu Tahan Imor

Mira T. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 89 dibaca
Bisik.id
Apel Golden Analagi: Varietas Lokal Batu Tahan Imor

Gambar atau konten salah?

Rudy Mardiyanto berasal dari Kota Batu dan telah menciptakan varietas apel baru yang dinamai Golden Analagi. Ia mengembangkan buah ini melalui persilangan antara Apel Anna dan Apel Manalagi, dua varietas lokal yang terkenal di daerah tersebut.

Nama Golden diambil dari warna kulitnya yang kuning keemasan berkilau ketika matang, sementara Analagi merupakan singkatan dari kedua induknya. Dengan demikian, setiap huruf dalam nama tersebut memiliki makna historis dan ilmiah.

Rudy menjelaskan bahwa motivasinya datang dari tekanan pasar yang semakin menekan petani lokal. “Petani apel di Batu menghadapi tantangan berat beberapa tahun belakangan. Mulai dari perubahan iklim, serangan hama yang makin kebal, sampai harga jual yang fluktuatif karena kalah bersaing dengan apel impor yang tampilannya lebih mulus dan manis konstan. Dari situ saya berpikir, kita harus punya varietas lokal yang punya daya tahan lebih kuat, tapi kualitas buahnya bisa bersaing atau mengungguli apel impor,” kata Rudy pada Minggu, 24 Mei 2026.

Secara rasa dan tekstur, Golden Analagi berbeda dari pendahulunya. Varietas Manalagi biasanya manis-sepat dengan tekstur cepat mempur, sementara varietas baru ini memadukan rasa manis kuat dengan aksen segar yang seimbang. Daging buahnya sangat renyah, mengandung air melimpah, dan daya simpannya lebih lama. Ini membuatnya tidak hanya menarik bagi lidah konsumen, tetapi juga lebih praktis untuk distribusi.

Dalam budidaya, pohon Golden Analagi terbukti lebih adaptif terhadap fluktuasi cuaca ekstrem yang sering melanda Kota Batu. Yang paling penting bagi petani adalah ketahanan terhadap penyakit jamur kulit dan serangan kutu sisik. “Yang paling krusial bagi petani, varietas ini relatif kebal terhadap penyakit jamur kulit serta serangan kutu sisik,” tambah Rudy.

Proses pengembangan memakan waktu sekitar 7 tahun. “Prosesnya cukup panjang dan butuh kesabaran ekstra. Mulai dari pemilihan indukan, penyilangan, menyemai bibit hasil silangan, menunggu pohonnya tumbuh besar dan berbuah, lalu menyeleksi lagi mana yang buahnya paling konsisten kualitasnya. Banyak gagalnya di awal, tapi baru sekitar dua tahun terakhir ini hasilnya benar-benar stabil,” kenang Rudy.

Dari empat pohon indukan, Rudy telah melakukan panen sebanyak tiga kali. “Dari empat pohon indukan, Rudy mengaku sudah melakukan panen sebanyak tiga kali. Hasilnya telah dia nikmati, bagikan dan dijual melalui online. Kendati demikian, persoalan mematenkan hasil karyanya melalui Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) masih belum terselesaikan,” ujarnya.

Rudy kini fokus menyelesaikan hak paten agar Golden Analagi dapat dikenal luas sebagai buah unggulan yang lahir di Kota Batu. Setelah itu, ia berencana menyebarluaskan benih secara legal kepada petani apel lainnya. (irb/dpe)

Varietas ini menunjukkan bahwa inovasi lokal dapat menyaingi impor, sekaligus meningkatkan ketahanan dan kualitas produk pertanian. Dengan dukungan hak paten dan distribusi yang teratur, Golden Analagi berpotensi menjadi contoh sukses bagi petani di wilayah sekitarnya.

Golden Analagiapel lokalketahanan penyakitPerlindungan Varietas TanamanKota Batuadaptasi cuaca ekstrempasar impor

Komentar

Memuat komentar...