Arus Peti Kemas 6,42 Juta TEU, Logistik Nasional Maju

Lia N. · 5 min baca · 1 bulan lalu · 92 dibaca
Bisik.id
Arus Peti Kemas 6,42 Juta TEU, Logistik Nasional Maju

Gambar atau konten salah?

Di awal tahun 2026, aktivitas ekonomi nasional menampilkan sinyal positif. Hal ini terlihat dari peningkatan pergerakan barang melalui pelabuhan, khususnya arus peti kemas yang menjadi indikator penting bagi produksi, perdagangan, konsumsi, investasi, dan distribusi di Indonesia.

Hingga 01 April 2026, arus peti kemas yang dilayani oleh PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencapai 6,42 juta TEU. Angka ini naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,99 juta TEU. Pertumbuhan ini menandakan bahwa logistik nasional tetap bergerak positif di tengah dinamika ekonomi global.

Menurut Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, peningkatan arus peti kemas tidak hanya berasal dari ekspor-impor, tetapi juga dari distribusi barang domestik. “Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11 persen, dengan ekspor tumbuh 10 persen dan impor naik 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4 persen, dengan aktivitas bongkar meningkat 5 persen dan muat naik 4 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (29 Mei 2026).

Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan luar negeri Indonesia tetap berjalan baik, sementara distribusi barang antarpulau juga kuat dalam mendukung konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi daerah. Peningkatan arus ekspor dan impor mencerminkan daya tahan perdagangan Indonesia di tengah ketidakpastian global, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah dan perlambatan ekonomi di beberapa negara.

Struktur perdagangan Indonesia masih banyak bergerak di kawasan intra‑Asia, terutama Tiongkok dan ASEAN. Dalam distribusi perdagangan nasional, kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen ekspor Indonesia dan 56,5 persen impor Indonesia. Struktur ini memberi bantalan bagi Indonesia karena sebagian besar arus barang masih bergerak dalam kawasan yang memiliki hubungan dagang kuat, stabil, dan saling terintegrasi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas mencatat pertumbuhan positif. Komoditas tersebut antara lain lemak dan minyak hewan/nabati yang tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 4,9 persen, serta berbagai produk kimia 12,27 persen. Pertumbuhan ekspor ini menunjukkan bahwa aktivitas industri pengolahan dan perdagangan komoditas bernilai tambah masih terus berjalan, menandakan sinyal positif bagi keberlanjutan manufaktur dan perdagangan nasional.

Di sisi impor, peningkatan terutama terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, mesin dan perlengkapan elektrik 17,91 persen, instrumen optik 20,8 persen, serta berbagai produk kimia 36,31 persen. Struktur impor ini menegaskan kebutuhan terhadap barang modal, mesin produksi, komponen industri, dan bahan pendukung manufaktur yang masih kuat. Kondisi tersebut berkaitan erat dengan aktivitas investasi, peningkatan kapasitas produksi, dan agenda hilirisasi nasional.

Arus peti kemas juga terlihat di sejumlah pelabuhan utama yang melayani ekspor dan impor nasional, antara lain Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Emas di Semarang, dan Tanjung Perak di Surabaya. Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan utama tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok dan distribusi perdagangan nasional tetap aktif. Peningkatan throughput internasional di berbagai terminal utama juga menandakan adanya penguatan aktivitas logistik dan perdagangan pada kawasan industri utama di Indonesia.

Di arus domestik, peningkatan distribusi barang menuju kawasan timur Indonesia menjadi sinyal penting bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya bergerak di wilayah barat. Pelabuhan Tanjung Priok mencatat pertumbuhan domestik sekitar 8 persen, didorong oleh meningkatnya pengiriman peti kemas menuju pelabuhan-pelabuhan di Indonesia bagian timur. Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Perak tumbuh sekitar 2 persen, didukung oleh peningkatan layanan menuju Makassar, Kendari, dan Berau. Pelabuhan Makassar juga mencatat pertumbuhan sekitar 7 persen, ditopang oleh pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija seiring meningkatnya aktivitas ekonomi di Sulawesi Selatan dan kawasan sekitarnya.

Pertumbuhan arus domestik tersebut sejalan dengan masih kuatnya konsumsi rumah tangga dan aktivitas manufaktur nasional sebagai penopang utama perekonomian Indonesia. Distribusi barang antarpulau yang tetap tumbuh menunjukkan bahwa konektivitas logistik nasional berjalan baik dalam mendukung kebutuhan masyarakat, aktivitas industri, dan pemerataan ekonomi antarwilayah. Dengan tren pertumbuhan tersebut, penguatan layanan pelabuhan menjadi semakin penting. Produktivitas terminal, digitalisasi layanan, kesiapan peralatan, keandalan fasilitas, serta integrasi rantai pasok nasional perlu terus ditingkatkan agar arus barang tetap lancar, efisien, dan kompetitif.

Konektivitas logistik yang andal menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, perdagangan internasional, distribusi domestik, investasi, hilirisasi industri, serta pemerataan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.

Di sisi pemerintah, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan, Muhammad Masyhud menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong Badan Usaha Pelabuhan untuk meningkatkan kapasitas dan layanan peti kemas. “Salah satu langkah yang dilakukan adalah penerbitan rekomendasi teknis penetapan terminal peti kemas dari fasilitas yang sebelumnya berstatus multipurpose. Selanjutnya, terminal tersebut ditetapkan sebagai terminal peti kemas oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan atau KSOP sebagai penyelenggara pelabuhan, sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 50 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut,” ujarnya.

Pada periode 2025 hingga 01 April 2026, sebanyak 12 lokasi terminal telah ditetapkan, termasuk di antaranya Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebagai terminal peti kemas. Pemerintah juga telah menetapkan standar kinerja pelayanan operasional, termasuk kinerja bongkar muat peti kemas dan kinerja peralatan yang digunakan. Evaluasi terhadap standar tersebut dilakukan secara berkala untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga.

Di sisi lain, pertumbuhan arus peti kemas juga direspons melalui penguatan pembangunan dan modernisasi infrastruktur pelabuhan nasional. Pada periode 2025‑2026, pemerintah bersama BUMN kepelabuhanan dan dukungan APBN mendorong peningkatan kapasitas pelabuhan eksisting melalui pengembangan terminal peti kemas, pendalaman alur pelayaran, peningkatan kapasitas tambatan dan lapangan penumpukan, modernisasi alat bongkar muat, serta percepatan digitalisasi layanan kepelabuhanan. Masyhud menjelaskan, dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik pemerintah telah dilakukan di 74 lokasi di seluruh Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan pelabuhan hub and spoke, mengembangkan pelabuhan pengumpul dan pengumpan di kawasan timur Indonesia, mengintegrasikan pelabuhan dengan kawasan industri dan hilirisasi, serta memperkuat konektivitas logistik nasional. “Penguatan infrastruktur tersebut juga diarahkan untuk menopang pertumbuhan perdagangan intra‑Asia dan agenda transformasi ekonomi nasional. Dengan kapasitas dan kualitas layanan yang semakin baik, pelabuhan Indonesia diharapkan mampu mengimbangi peningkatan arus peti kemas internasional maupun domestik yang diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan,” pungkas Masyhud.

Secara keseluruhan, data arus peti kemas menunjukkan bahwa aktivitas logistik nasional tetap berkembang. Peningkatan kapasitas terminal, digitalisasi layanan, dan modernisasi infrastruktur pelabuhan menjadi kunci untuk menjaga kecepatan dan efisiensi distribusi barang. Dengan dukungan kebijakan pemerintah dan kolaborasi antara pelabuhan, sektor swasta, dan lembaga keuangan, Indonesia dapat mempertahankan posisi strategisnya sebagai hub logistik di kawasan intra‑Asia, sekaligus memperkuat distribusi domestik yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan pemerataan antarwilayah.

Arus peti kemasPelabuhan Indonesialogistik nasionalekspor‑imporintra‑Asiadigitalisasi layananinfrastruktur pelabuhankapasitas terminal

Komentar

Memuat komentar...