AS Fokus Timur Tengah, Potensi Kurang Peran di ASEAN

Dewi M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 56 dibaca
Bisik.id
AS Fokus Timur Tengah, Potensi Kurang Peran di ASEAN

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, para pengamat menilai bahwa Amerika Serikat (AS) saat ini lebih memusatkan perhatian pada krisis di Timur Tengah. Menurut mereka, pergeseran fokus ini dapat membuat AS mengurangi peranannya di Asia Tenggara. “Fokus Amerika Serikat ke krisis di Timur Tengah dinilai berpotensi mengurangi perannya di Asia Tenggara.” (02 Mei 2026)

Forum Sinologi Indonesia (FSI) mengamati bahwa penurunan perhatian AS dapat memengaruhi dinamika kawasan, termasuk ketegangan di Laut China Selatan. Ketegangan ini berdampak langsung pada stabilitas ekonomi ASEAN. “Kondisi ini disebut bisa membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruh, termasuk di sektor ekonomi kawasan ASEAN.” (02 Mei 2026)

Ketua FSI, Johanes Herlijanto, menegaskan bahwa China selama dua dekade terakhir menunjukkan sikap asertif terhadap negara-negara di Asia Tenggara seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina. Ia menambahkan, “China telah bersitegang dengan sejumlah negara ASEAN terkait klaim wilayah Zona Ekonomi Eksklusif yang didasarkan pada konsep sembilan garis putus-putus.” (02 Mei 2026)

Herlijanto menjelaskan bahwa klaim tersebut sering dianggap bertentangan dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) oleh negara-negara di kawasan. Menurutnya, strategi China tidak hanya melalui pendekatan keamanan, tetapi juga ekonomi dan diplomasi bilateral. “China cenderung meningkatkan kedekatan dengan negara yang sedang menjabat sebagai ketua ASEAN untuk memengaruhi arah kebijakan organisasi.” (02 Mei 2026)

Ratih Kabinawa, peneliti mitra FSI, menyoroti kemungkinan China memanfaatkan sektor energi sebagai pintu masuk kerja sama ekonomi. Ia menyebutkan, “Jika tidak hati-hati, hal itu bisa menghambat penyelesaian COC yang selama ini menjadi prioritas ASEAN.” (02 Mei 2026)

Ahmad Shaleh Bawazir, Direktur Kerja Sama Politik Keamanan ASEAN, menilai hubungan China dan ASEAN berjalan intensif, terutama di sektor ekonomi. Namun ia menekankan bahwa tingkat kepercayaan masih belum memadai. “Hubungan China dan ASEAN sangat intensif dalam berbagai sektor, tetapi di sisi lain tingkat kepercayaan masih belum memadai.” (02 Mei 2026)

Menurut Ahmad, ketegangan di Laut China Selatan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi hubungan tersebut. Ia tetap optimis bahwa peluang penyelesaian Code of Conduct (COC) masih terbuka. Klaus Heinrich Raditio, akademisi hubungan internasional, menilai bahwa penyelesaian COC dalam waktu dekat masih menghadapi tantangan. Ia mengatakan, “Posisi China di Laut China Selatan sudah cukup kuat, sementara dinamika global juga memengaruhi proses negosiasi.” (02 Mei 2026)

Raditio menambahkan bahwa soliditas negara-negara ASEAN menjadi faktor penting dalam menghadapi dinamika tersebut, termasuk dalam menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Ia juga menilai Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan di ASEAN. “Indonesia diharapkan mampu menjadi penggerak utama dalam menjaga persatuan ASEAN di tengah dinamika geopolitik global.” (02 Mei 2026)

Secara keseluruhan, pergeseran fokus AS dan kebijakan China di kawasan menimbulkan ketidakpastian. Namun, ASEAN, khususnya Indonesia, tetap memiliki peluang untuk memimpin dialog dan menjaga stabilitas di tengah dinamika geopolitik global.

AS fokus Timur TengahLaut China SelatanChina ASEANCode of Conduct (COC)ASEAN stabilitas ekonomiIndonesia penggerak utamapergeseran kebijakan AS

Komentar

Memuat komentar...