Ashanty Raih Gelar Doktor, Teliti Musisi Senior Digital

Lia N. · 2 min baca · 29 hari lalu · 73 dibaca
Bisik.id
Ashanty Raih Gelar Doktor, Teliti Musisi Senior Digital

Gambar atau konten salah?

Ashanti Hastuti, yang lebih dikenal dengan nama panggung Ashanty, baru saja meraih gelar doktor (S3) dari Universitas Airlangga. Ia resmi lulus setelah mengikuti Ujian Terbuka Doktoral pada 13 Mei 2026.

Dalam wawancara yang dipublikasikan di laman Unair pada 15 Mei 2026, Ashanty mengungkapkan betapa beratnya perjalanan akademiknya. Ia mengatakan, “Jujur, saya setakut dan sepanik itu. Setiap kali mau ujian, saya sering stres seharian,” menegaskan bahwa peran sebagai ibu sekaligus praktisi musik menambah beban emosional.

Disertasi yang menjadi kunci kelulusannya berjudul Respons Adaptif Penyanyi Baby Boomers dan Generasi X terhadap Transformasi Digital di Industri Musik Indonesia. Penelitian ini juga dipublikasikan di jurnal Frontiers pada 7 April 2026 dengan judul Reconfiguring agency under platform governance: Baby Boomer and Generation X singers negotiating identity, algorithms, and monetization.

Dalam karya tersebut, Ashanty menyoroti bagaimana musisi senior—termasuk penyanyi Baby Boomer (1940‑1964) dan Generasi X (1965‑1980)—menavigasi ekonomi musik berbasis platform. Ia meneliti peran aktif mereka dalam menyesuaikan identitas generasi, logika algoritmik, dan strategi monetisasi di era digital.

Metodologi yang digunakan melibatkan wawancara naratif dan biografis dengan 12 informan. Data hasil wawancara kemudian dianalisis secara tematik, memungkinkan Ashanty untuk menggali nuansa pengalaman para musisi.

Hasil temuan menunjukkan bahwa seniman senior tidak mengalami penurunan agensi secara linier. Sebaliknya, agensi mereka dikonfigurasi ulang menjadi kapasitas strategis, praktis, dan reflektif berlapis yang beroperasi di seluruh modalitas strukturisasi signifikasi, dominasi, dan legitimasi.

Ashanty menekankan bahwa musisi senior tidak sepenuhnya tunduk pada sistem komputasi. Mereka mampu menegosiasikan logika digital dengan esensi karya seni mereka. Ia menambahkan, “Adaptasi ini sangat ditentukan oleh kemampuan seorang seniman dalam bernegosiasi antara tuntutan sistem digital saat ini. Jadi bagaimana mereka bisa adaptasi, tapi mereka juga tidak harus benar-benar mengerti teknologi yang ada saat ini.”

Berhenti pada hasil penelitian, Ashanty berencana menerapkan temuan tersebut sebagai bentuk hilirisasi riset. Ia mengingatkan, “Saya sudah berdarah-darah dan lelah berjuang sampai di titik ini. Saya tidak mau disertasi ini hanya menumpuk dan berdebu di perpustakaan. Kita harus berguna dengan apa yang sudah kita perjuangkan.”

Selanjutnya, Ashanty akan fokus pada hak cipta bagi musisi Baby Boomers. Ia menegaskan perlunya hak dan transparansi yang jelas dari lembaga. “Tapi kalau jangka pendek mungkin akan meminta pemerintah untuk hak cipta ya, karena hak cipta ini penting banget. Terutama Baby Boomers dan di atasnya, sampai hari ini memerlukan hak-hak dan transparansi dari lembaga. Bekerja sama dengan pemerintah untuk merealisasikan ini itu penting,” pungkasnya.

Secara keseluruhan, perjalanan akademis dan profesional Ashanty menunjukkan bagaimana seni dan ilmu pengetahuan dapat saling melengkapi. Penelitian yang mendalam tentang adaptasi musisi senior di platform digital tidak hanya menambah pemahaman akademis, tetapi juga membuka jalan bagi kebijakan yang lebih mendukung hak dan keberlanjutan para seniman.

AshantyS3Baby BoomerGenerasi XHak ciptaPlatform digitalMonetisasiAdaptasi

Komentar

Memuat komentar...