Astronot China Tanam Tomat di Tiangong dengan Aeroponik
Gambar atau konten salah?
Di stasiun antariksa Tiangong, para astronaut China berhasil menanam tomat dengan sistem aeroponik, sebuah metode yang menyemprotkan kabut nutrisi langsung ke akar tanpa tanah. Keberhasilan ini menandai langkah penting dalam pengembangan pertanian luar angkasa untuk misi jangka panjang.
Tomat tersebut ditanam di area khusus yang disebut healing corner di dalam Tiangong. Astronaut Zhang Hongzhang menunjukkan bagaimana tanaman tersebut tumbuh subur di lingkungan mikrogravitasi. “Sistem ini menggunakan spektrum cahaya LED khusus yang sangat meningkatkan efisiensi energi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa kombinasi aeroponik dan pencahayaan LED membuat tanaman tetap berkembang meski berada di luar angkasa.
Perangkat penanaman dikirim ke Tiangong lewat wahana kargo Tianzhou‑9 pada tahun 2025. Tujuannya menguji teknologi penting untuk budidaya tanaman secara efisien di lingkungan tanpa gravitasi. Eksperimen ini menjadi bagian dari upaya besar menciptakan sistem pendukung kehidupan berbasis biologi, yang nantinya akan sangat dibutuhkan dalam misi luar angkasa jangka panjang.
Selain nilai ilmiah, tanaman ini juga memberikan dampak psikologis positif bagi para astronaut. Kehadiran hijau di tengah lingkungan ekstrem membantu menjaga kondisi mental kru. “Melihat warna hijau yang hidup di luar angkasa sangat menenangkan,” kata Zhang Lu, astronaut lain dalam misi tersebut.
Astro Wu Fei menambahkan bahwa tomat yang tumbuh di orbit bahkan memiliki aroma segar yang khas. “Setiap kali melewati area ini, saya ingin menarik napas dalam dan menikmati aromanya,” ujarnya. Data yang dikumpulkan dari eksperimen ini akan dipakai untuk memahami bagaimana tanaman tumbuh di luar angkasa, termasuk produktivitas, efisiensi, dan perawatan optimal.
China berencana memperluas eksperimen ini dengan menanam tanaman lain seperti gandum, wortel, hingga tanaman obat. Jika terus berkembang, teknologi ini bisa menjadi kunci bagi manusia untuk hidup lebih lama di luar Bumi, termasuk misi ke Bulan dan Mars.
Eksperimen ini menampilkan potensi pertanian mikrogravitasi yang praktis dan dapat diandalkan. Dengan kombinasi aeroponik, pencahayaan LED, dan sistem penanaman khusus, para peneliti dapat menguji cara menanam tanaman di luar angkasa secara berkelanjutan. Hasilnya menunjukkan bahwa tanaman tidak hanya tumbuh, tetapi juga memberikan manfaat psikologis bagi kru, menambah nilai penting bagi misi luar angkasa masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Paula Hurd & Bill Gates Bersinergi di Breakthrough Prize 2026
Praearcturus Gigas: Kalajengking Raksasa 1 Meter di Era Devon
Jack Ma di Moskow: Tantang Mahasiswa Hadapi Ketakutan
Satria-1 Tambah 154 Titik Akses Sangihe-Sitaro, 50‑150 Mbps
Kaspersky: Phishing QR Teks ASCII Menambah Serangan 5x
Nanik Deyang Jadi Kepala BGN, Fokus Gizi Anak Nasional
Berita Terbaru
Kebakaran 4 Ha di Bangka Barat Padam dalam 1 Jam pada 3 Juni
Khutbah Jumat Akhir Tahun: Refleksi dan Muhasabah 1447 H
Curacao masuk Piala Dunia 2026, Chong satu pemain asli
Beasiswa AGRTPS 2026: 5 Slot Buka, Pendaftaran Hingga 18 Juni
BGN Digeledah, Pimpinan Baru Fokus Perbaikan Tata Kelola
AS Pasang Tarif 10‑12,5% ke Barang Indonesia dan 59 Negara
