Ayi Ditemukan di Gunung Salak Setelah Hilang 2,5 Tahun
Gambar atau konten salah?
Ayi Solehudin berusia 45 tahun ditemukan di lereng Gunung Salak, Kabupaten Sukabumi, setelah hilang selama 2,5 tahun. Penemuan ini terjadi pada Senin, 25 Mei 2026, di jalur pendakian ilegal yang dikenal sering dilewati pendaki tak resmi.
Menurut kabar, Ayi berasal dari Kampung Babakansirna, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur. Ia sudah berada di Gunung Salak sekitar dua pekan sebelum ditemukan. Keluarga berusaha mencari selama periode tersebut, namun jejaknya tak terdeteksi.
Ujang Sulaeman, kakak Ayi berusia 53 tahun, mengungkapkan bahwa adiknya ditemukan dalam kondisi memprihatinkan. “Keluarga dapat informasi jika Ayi ada di Gunung Salak dari pak Kades. Yang menemukan di sana, langsung memeriksa identitas setelah evakuasi adik saya. Kemudian menginformasikan ke kami. Di hari itu juga langsung dijemput ke rumah,” ujar Ujang, Rabu, 3 Juni 2026.
Ujang menambahkan, “Sehari-hari dia tinggal di rumahnya dengan anaknya yang paling tua. Tapi tiba-tiba pergi. Biasanya hanya pergi sekitaran kampung. Tapi saat itu tidak ditemukan, kemudian setelah 2,5 tahun ditemukan di Gunung Salak,” ungkap dia. Ia juga menjelaskan bahwa Ayi memiliki gangguan kejiwaan yang membuatnya sering berjalan-jalan sendiri.
“Sudah sekitar 5 tahun mengalami gangguan kejiwaannya. Sempat sembuh, tapi kambuh lagi,” kata Ujang. Ia menilai bahwa selama hilang, Ayi tidak mendapatkan cukup makanan. “Selama hilang kurang makan, ditambah di dalam hutan juga susah cari makanan. Kalau sekarang kondisinya sudah mulai membaik, tapi masih lemas,” kata dia.
Di sisi lain, Ayi sendiri memberi gambaran singkat tentang perjalanannya di gunung. “Diajak adik ke sana. Dua Minggu di sana,” ungkap Ayi sambil terbata-bata. Ia menyebutkan bahwa selama di hutan, ia memakan apa saja yang ditemukan. “Makan nasi, makan apa saja di sana,” ujar dia.
Setelah diangkat ke puskesmas, Kepala Puskesmas Campaka, Tito, melaporkan bahwa kondisi Ayi mulai membaik. “Awalnya memang kekurangan makanan sehingga lemas. Tapi sekarang sudah membaik dan kami pantau secara rutin kondisi kejiwaan serta fisiknya,” kata Tito.
Sebelumnya, video evakuasi Ayi, yang menampilkan seorang pria kurus di lereng Gunung Salak, menjadi viral di media sosial. Video tersebut menunjukkan proses pengambilan dan penanganan Ayi setelah ditemukan.
Penemuan Ayi menegaskan pentingnya koordinasi antara warga, aparat, dan fasilitas kesehatan untuk menangani kasus hilang yang berkaitan dengan kondisi mental. Situasi ini juga menyoroti risiko kesehatan yang dapat muncul ketika seseorang terisolasi di lingkungan alam tanpa akses makanan dan perawatan medis.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
