Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak 3 Tahun Hilang

Rizki W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 79 dibaca
Bisik.id
Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak 3 Tahun Hilang

Gambar atau konten salah?

Ayi Solehudin, seorang warga Kabupaten Cianjur berusia 50 tahun, hilang selama tiga tahun sebelum ditemukan di lereng Gunung Salak. Penyelamatan yang berlangsung pada Senin, 25 Mei 2026, menjadi momen dramatis bagi relawan dan warga setempat.

Ketika Ayi ditemukan, tubuhnya tampak kaku, dingin, dan hampir tidak mampu berjalan. Video amatir yang beredar menunjukkan evakuasi dilakukan dengan alat seadanya. Warga dan relawan Ambulans Sukabumi Bersatu (ASB) merakit tandu darurat dari sebatang kayu dan sehelai kain sarung. Tubuh kurus Ayi dibungkus sarung tersebut sebelum dibawa keluar.

Tim ASB, bersama relawan lainnya, memanggul ujung dahan pohon sambil menelusuri hutan lebat. Penemuan Ayi terjadi di area sungai wilayah Cipari Girang, Desa Cisaat, pada ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Relawan ASB, Muh Irfan Maulana, mengungkapkan betapa beratnya rintangan yang harus dihadapi. “Sampai proses evakuasi itu, kita tersulitnya karena akses jalan. Kalau misalnya ditarik (dievakuasi) lewat sungai lagi ke bawah, kita susah,” kata Irfan pada Rabu, 3 Juni 2026. Ia menambahkan, “Akhirnya target kita bikin jalur baru dulu, kita buka akses jalan baru.”

Medan darurat yang dilalui tim sangat curam dan berbahaya. Relawan harus membabat rimbunnya semak belukar basah di atas pijakan tanah berlumpur yang licin. Selain ASB, Relawan Sosial Tangan Peduli, warga setempat, dan Pemerintah Desa (Pemdes) Cisaat turut berpartisipasi dalam proses evakuasi.

Instruksi dan seruan terus terdengar di lapangan. Beberapa relawan terpaksa berjalan merunduk untuk menghindari dahan pohon melintang. Upaya membuka jalan setapak harus dilakukan secepat mungkin. Irfan menyebut korban terancam hipotermia akibat suhu dingin kaki Gunung Salak. “Kalau kurang dari 24 jam saja di Gunung Salak (tanpa perlengkapan), bisa-bisa hipotermia kalau tidak meninggal. Kondisinya saat itu memang sudah sangat lemas,” ungkap Irfan.

Setelah bekerja membabat vegetasi hutan selama kurang lebih tiga jam, tim berhasil mencapai target. Mereka tiba di permukiman warga dengan selamat pada pukul 13.00 WIB.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya persiapan dan koordinasi dalam evakuasi di daerah terpencil. Keterlibatan relawan lokal dan pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan. Kesadaran akan risiko hipotermia di ketinggian juga menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terlibat.

Ayi SolehudinGunung Salakevakuasirelawan ASBhipotermiaKabupaten Cianjur

Komentar

Memuat komentar...