Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak setelah 2,5 Tahun

Hendra M. · 3 min baca · 1 jam lalu · 33 dibaca
Bisik.id
Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak setelah 2,5 Tahun

Gambar atau konten salah?

Ayi Solehudin, seorang pria berusia 45 tahun, kini menjadi sorotan publik setelah ditemukan di Kampung Subela, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur. Kondisinya memprihatinkan: tubuh kurus, lemas, hampir tidak sadarkan diri, dan terkapar di antara bebatuan sungai. Ia dikabarkan hilang selama 2,5 tahun sebelum akhirnya muncul di lereng Gunung Salak, Kabupaten Sukabumi.

Semua bermula ketika sebuah video amatir beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Ayi dievakuasi secara dramatis di jalur pendakian ilegal Gunung Salak. Video ini menampilkan kondisi tubuhnya yang sangat lemah, bahkan dikerumuni lalat. Warga yang menemukannya pada 25 Mei 2026 segera memanggil relawan untuk mengevakuasi.

Dalam rekaman, Ayi duduk di atas batu berlumut. Ia hanya mengenakan kemeja kotak‑kotak biru pudar dengan kancing terbuka dan sehelai kain sarung hitam yang menutupi kakinya. Dengan tenaga terakhir, ia mencoba merobek bungkus makanan ringan, yang menjadi asupan pertama yang disuapkan oleh warga untuk mengganjal perutnya yang kelaparan.

Relawan Ambulans Sukabumi Bersatu (ASB), Muh Irfan Maulana, turut turun dalam operasi penyelamatan. Ia mengonfirmasi bahwa korban bertingkah seperti orang yang linglung karena kelelahan ekstrem. “Pas ketemu di gunung awal mula dia kayak yang syok gitu ditemuin orang banyak tuh. Jadi diajak komunikasi tuh agak susah,” kata Irfan kepada detikJabar melalui sambungan telepon, 3 Juni 2026. “Seperti orang linglung. Kalau ditanya tuh ibarat jaringan nge‑lag dulu,” sambungnya mendeskripsikan kondisi korban.

Karena Ayi tidak mengantongi identitas selembar pun, relawan mengevakuasinya ke kantor Kecamatan Cicurug. Di sana, identitasnya terungkap lewat pemindaian retina mata dan sidik jari. Proses ini mengungkap bahwa pria yang ditemukan memang Ayi Solehudin, korban yang telah hilang selama 3‑4 tahun menurut pengakuan keluarga.

Setelah identitas terkonfirmasi, Ayi segera dijemput oleh keluarga. Malam itu, ia dibawa pulang ke pelukan keluarganya di Cianjur menggunakan bantuan ambulans. Keluarga mengaku sudah mencoba mencari Ayi kemana-mana, namun tak mendapat titik terang selama 2,5 tahun.

Lokasi penemuan Ayi berada di area sungai wilayah Cipari Girang, Desa Cisaat. Ketinggiannya diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Warga dan relawan merakit tandu darurat dari sebatang kayu dan sehelai kain sarung untuk mengevakuasi tubuh kurus Ayi. Belasan relawan kemudian bergantian memanggul ujung dahan pohon menyusuri lebatnya hutan.

Setelah dibawa ke rumah, Ujang Sulaeman, kakak Ayi berusia 53 tahun, menceritakan kondisi adiknya. Menurutnya, Ayi memang sudah menghilang sejak 2,5 tahun lalu. “Sehari‑hari dia tinggal di rumahnya dengan anaknya yang paling tua. Tapi tiba‑tiba pergi. Biasanya hanya pergi sekitaran kampung. Tapi saat itu tidak ditemukan, kemudian setelah 2,5 tahun ditemukan di Gunung Salak,” ungkap dia.

Ujang menjelaskan bahwa adiknya mengalami gangguan kejiwaan sehingga sering berjalan‑jalan dan berbicara sendiri. Kondisi ini sudah berlangsung selama 5 tahun. Ia juga mengaku bahwa Ayi diduga berada di kawasan Gunung Salak cukup lama dan kekurangan makanan. Sebelum hilang, kondisi badannya cukup gemuk, namun saat ditemukan sangat kurus dan lemas. “Selama hilang kurang makan, ditambah di dalam hutan juga susah cari makanan. Kalau sekarang kondisinya sudah mulai membaik, tapi masih lemas,” kata dia.

Menurut dr Tito, kepala Puskesmas Campaka, Ayi memang mengalami gangguan kejiwaan dan sempat menjalani pengobatan. “Sebelum menghilang, rutin berobat. Bahkan sempat dibawa ke rumah sakit jiwa. Sudah berhasil sembuh, tapi ada beberapa kejadian yang membuat penyakit kejiwaannya kambuh, salah satunya karena orang tuanya meninggal dunia,” jelasnya. Saat ini, Puskesmas Campaka terus memantau dan melakukan perawatan terhadap Ayi, mulai dari kondisi kejiwaan hingga fisiknya. “Petugas secara rutin mengecek kondisinya, terutama kondisi kesehatan. Karena saat ditemukan, kondisinya lemah karena kurangnya asupan makanan selama di Gunung Salak. Kami upayakan pengobatan kejiwaannya terus berlanjut agar kembali sembuh,” pungkasnya.

Setelah kembali ke rumah, Ayi dirawat di Kampung Babakansirna, Desa Sukajadi, Kecamatan Campaka, Cianjur. Setiap harinya, kakak dan adik lainnya bergantian menjaganya, terutama di malam hari. Ayi memiliki tiga anak, namun ia tinggal bersama salah satu di antaranya. Keluarga mengelola perawatan secara bergantian, berharap kondisi fisik dan mentalnya dapat membaik.

Peristiwa ini menyoroti betapa pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental dan pengawasan keluarga. Meskipun Ayi telah lama mengalami gangguan jiwa, keluarga tetap berusaha mencarikan solusi, baik melalui pengobatan maupun dukungan sosial. Penemuan di Gunung Salak, meski menegangkan, menjadi titik balik bagi Ayi dan keluarganya untuk memulai proses pemulihan. Dengan dukungan medis dan keluarga, harapan akan kesehatan dan kesejahteraan Ayi tetap terjaga, meski tantangan masih ada di depan.

Ayi SolehudinGunung Salakhilang 2,5 tahunpenyakit jiwarelawan ASBevakuasi ilegal

Komentar

Memuat komentar...