B50 Biodiesel Uji Cukup Baik di Alat Berat Pertambangan

Jaka M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 63 dibaca
Bisik.id
B50 Biodiesel Uji Cukup Baik di Alat Berat Pertambangan

Gambar atau konten salah?

Di Jakarta, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja menyelesaikan uji coba penggunaan B50—biodiesel 50%—pada alat berat di sektor pertambangan. Hasilnya menunjukkan performa baik secara operasional maupun teknis.

Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan kinerja yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin. Ini menjadi indikasi positif bahwa biodiesel dapat mendukung operasional sektor industri,” kata Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) pada Selasa, 07 April 2026.

Uji coba tersebut mencakup pengujian kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, dan stabilitas penyimpanan. Hingga 31 Maret 2026, pengujian ketahanan dinamis telah mencapai lebih dari 900 jam operasional tanpa indikasi gangguan pada mesin yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar.

Program ini merupakan bagian dari kebijakan mandatori biodiesel nasional. B50 terdiri dari 50% B100 berbasis minyak nabati—misalnya minyak kelapa sawit—dan 50% bahan bakar solar (B0). Tujuannya meningkatkan pemanfaatan energi baru sekaligus mengurangi ketergantungan impor BBM solar.

Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” tambah Eniya.

Di lapangan, PT Harmoni Panca Utama (HPU) telah melakukan pengujian langsung dengan membandingkan B40 dan B50 pada unit alat berat. Rochman Alamsjah, General Manager Plant HPU, mengungkapkan:

Saat ini kita sudah berjalan kurang lebih 1000 jam dengan membandingkan performa dua unit HD785 Komatsu yang satu mengkonsumsi B40 dan yang lainnya mengkonsumsi B50. Sejauh ini hingga mendekati hour meter 1000 jam performa mesin tidak menjadi masalah meskipun ada beberapa catatan kecil berupa konsumsi bahan bakar masih menekan lebih tinggi 1-3% untuk B50,” ujarnya.

Rochman menegaskan tidak ada kendala berarti pada kinerja mesin selama pengujian berlangsung. Meski ada sedikit peningkatan konsumsi bahan bakar—sekitar 3,12% dibandingkan B40—hasilnya masih dalam batas wajar dan tidak mempengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan.

Selain itu, pengujian menunjukkan bahwa B50 memenuhi spesifikasi teknis yang disepakati pemangku kepentingan. Parameter seperti kandungan udara, stabilitas oksidasi, dan kandungan FAME sudah sesuai. Ini menandakan kesiapan teknis B50 untuk diterapkan pada sektor non-otomotif dengan beban kerja tinggi, seperti pertambangan.

ESDM berencana melanjutkan rangkaian pengujian B50 di sektor lain—transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian—untuk memastikan kesiapan implementasi secara lebih luas. Hasil pengujian ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan serta standar implementasi teknis B50 secara nasional.

Eniya menegaskan bahwa pengembangan biodiesel hingga B50 merupakan bagian dari transformasi sistem energi nasional menuju energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan berdaulat. Uji coba di lapangan menunjukkan tren yang sejalan dengan tujuan tersebut.

Uji B50 di sektor pertambangan menunjukkan bahwa biodiesel dapat dipakai tanpa gangguan operasional, menandai langkah penting menuju energi bersih. Dengan data positif ini, pemerintah dan industri dapat melangkah lebih jauh dalam mengadopsi bahan bakar nabati skala besar.

B50 biodieselKementerian Energi dan Sumber Daya MineralUji coba pertambanganKebijakan mandatori biodieselEnergi bersih dan berkelanjutanKemandirian energi nasionalPengujian FAME dan stabilitas oksidasi

Komentar

Memuat komentar...