Bakteri Bacillus Sp Ternyata Penyebab Keracunan MBG Tulung
Gambar atau konten salah?
Di Kecamatan Tulung, Klaten, sekitar lima ratus siswa dan guru mengeluhkan gejala keracunan setelah menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 28 April 2026. Gejala yang muncul meliputi mual, pusing, muntah, dan diare.
Setelah dilakukan pemeriksaan, Balai Besar Labkesmas menemukan bakteri Bacillus Sp pada sampel telur puyuh, galantin, dan kuah timlo. Hasil tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, pada Selasa, 05 Mei 2026.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan lab di Balai Besar Labkesmas kemarin sore, sampel telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo positif mengandung Bacillus Sp,” terima kasih Anggit.
Anggit menjelaskan bahwa bakteri ini menjadi penyebab gejala yang dialami. “Jadi Bacillus Sp ini penyebab gejala-gejala mual, pusing, muntah dan diare,” sambung Anggit.
Ia juga membandingkan dengan bakteri E Coli. “Bacillus Sp, berbeda dengan bakteri E Coli. Bakteri coli bisa menyebabkan keracunan tapi cenderung terdapat pada air.”
“E coli itu ada pada air sehingga jika dimasak dengan benar bisa mati. Sedangkan Bacillus ini bisa berproses dalam udara,” tambah Anggit.
Anggit menambahkan bahwa spora Bacillus dapat bertahan dalam proses pengepakan yang tidak higienis. “Bakteri itu, ungkap Anggit, bisa terkandung saat makanan dalam proses pengepakan yang tidak baik. Sporanya bisa menyebabkan gejala keracunan.”
“Ketika bakteri Bacillus Sp ini sudah mencemari bisa meninggalkan spora, sporanya ini yang menimbulkan keracunan,” jelas Anggit.
Menurut Kepala Puskesmas Majegan, Kecamatan Tulung, Efy Kusumawati, semua pasien diduga keracunan MBG sudah membaik. Sebelumnya sembilan pasien dirawat inap dan sudah pulang.
“Alhamdulillah sudah baik semua. Yang tinggal satu pasien itu terakhir hari Sabtu sudah pulang juga, sudah tidak ada yang dirawat,” ujar Efy.
Seorang ibu, Bekti, melaporkan bahwa anaknya kelas VII C SMPN 1 Tulung tidak mau makan setelah makan sop galantin. “Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing,” ungkap Bekti.
Bekti membawa anaknya ke Puskesmas Majegan. “Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat,” tambahnya.
Di tingkat administratif, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa laporan datang dari siswa SD dan SMP. “Kita ngyakinke (ngecek) ternyata tidak hanya enam orang tapi ada beberapa orang, makin bertambah. Di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga ada beberapa, kondisinya ada yang lemas, pusing dan semua diare,” kata Hamenang.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan di program MBG. Meskipun program ini bertujuan menyediakan nutrisi, kejadian ini mengingatkan bahwa proses pengepakan dan penyimpanan harus tetap higienis untuk mencegah kontaminasi bakteri, khususnya spora yang tahan lama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Jawa Tengah Hari Ini Pada
Pria 65 Tahun di Klampok Lor Berhenti Hidup, Kembali Mati
Banjir Rob di Demak Meningkat, Warga Minta Tanggul Pantai
SPMB SMA/SMK 2026: Kuota 5% Domisili Desa dan 2% ATS Jateng
Berita Terbaru
Tim Tabur Tangkap Liauw Inggarwati dan Bastian Widjaja
Perpres No.27 2026 Turunkan Komisi Ojek Online Jadi 8%
Riquelme Tantang Perez: Janji Haaland & Beban Anggota
UEA Berhenti Ujian Internasional, Pindah Online Kini
Damri: Rute Bus Palembang–Lampung, Harga Rp 200–228 Ribu
Raffi Ahmad Operasi Benjolan Bahu Setelah Haji, Tertutup
Kementerian Agama Tetapkan 16 Juni 2026 sebagai Puasa 1 Muharram
Bom Incendiary Ditemukan dan Dimusnahkan di Sungai Ariyau, Jayapura
Peternak Sapi Perah Dusun Brau Siap Hadapi Musim Kemarau
Prabowo Luncurkan Program Makan Bergizi Gratis di Sentul
