Bakteri Bacillus Sp Ternyata Penyebab Keracunan MBG Tulung

Bima J. · 2 min baca · 29 hari lalu · 59 dibaca
Bisik.id
Bakteri Bacillus Sp Ternyata Penyebab Keracunan MBG Tulung

Gambar atau konten salah?

Di Kecamatan Tulung, Klaten, sekitar lima ratus siswa dan guru mengeluhkan gejala keracunan setelah menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 28 April 2026. Gejala yang muncul meliputi mual, pusing, muntah, dan diare.

Setelah dilakukan pemeriksaan, Balai Besar Labkesmas menemukan bakteri Bacillus Sp pada sampel telur puyuh, galantin, dan kuah timlo. Hasil tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Klaten, Anggit Budiarto, pada Selasa, 05 Mei 2026.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan lab di Balai Besar Labkesmas kemarin sore, sampel telur puyuh, galantin, maupun kuah timlo positif mengandung Bacillus Sp,” terima kasih Anggit.

Anggit menjelaskan bahwa bakteri ini menjadi penyebab gejala yang dialami. “Jadi Bacillus Sp ini penyebab gejala-gejala mual, pusing, muntah dan diare,” sambung Anggit.

Ia juga membandingkan dengan bakteri E Coli. “Bacillus Sp, berbeda dengan bakteri E Coli. Bakteri coli bisa menyebabkan keracunan tapi cenderung terdapat pada air.”

“E coli itu ada pada air sehingga jika dimasak dengan benar bisa mati. Sedangkan Bacillus ini bisa berproses dalam udara,” tambah Anggit.

Anggit menambahkan bahwa spora Bacillus dapat bertahan dalam proses pengepakan yang tidak higienis. “Bakteri itu, ungkap Anggit, bisa terkandung saat makanan dalam proses pengepakan yang tidak baik. Sporanya bisa menyebabkan gejala keracunan.”

“Ketika bakteri Bacillus Sp ini sudah mencemari bisa meninggalkan spora, sporanya ini yang menimbulkan keracunan,” jelas Anggit.

Menurut Kepala Puskesmas Majegan, Kecamatan Tulung, Efy Kusumawati, semua pasien diduga keracunan MBG sudah membaik. Sebelumnya sembilan pasien dirawat inap dan sudah pulang.

“Alhamdulillah sudah baik semua. Yang tinggal satu pasien itu terakhir hari Sabtu sudah pulang juga, sudah tidak ada yang dirawat,” ujar Efy.

Seorang ibu, Bekti, melaporkan bahwa anaknya kelas VII C SMPN 1 Tulung tidak mau makan setelah makan sop galantin. “Anak saya kelas VII C SMPN 1 Tulung, sampai rumah itu malah tidak mau makan. Habis Maghrib kemarin mulai mual dan pusing,” ungkap Bekti.

Bekti membawa anaknya ke Puskesmas Majegan. “Pagi ini tadi saya bawa ke Puskesmas. Katanya makan sop galantin jam 10.00 WIB habis istirahat,” tambahnya.

Di tingkat administratif, Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, menegaskan bahwa laporan datang dari siswa SD dan SMP. “Kita ngyakinke (ngecek) ternyata tidak hanya enam orang tapi ada beberapa orang, makin bertambah. Di RS PKU Muhammadiyah Jatinom juga ada beberapa, kondisinya ada yang lemas, pusing dan semua diare,” kata Hamenang.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya pengawasan mutu makanan di program MBG. Meskipun program ini bertujuan menyediakan nutrisi, kejadian ini mengingatkan bahwa proses pengepakan dan penyimpanan harus tetap higienis untuk mencegah kontaminasi bakteri, khususnya spora yang tahan lama.

Bacillus SpMakan Bergizi Gratisgejala keracunanspora bakteripembinaan mutu makananBalai Besar LabkesmasPuskesmas MajeganBupati Klaten

Komentar

Memuat komentar...