Bali Dapat 5.000 Dosis Vaksin ASF, 20.360 Dosis CSF

Bima J. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Bali Dapat 5.000 Dosis Vaksin ASF, 20.360 Dosis CSF

Gambar atau konten salah?

DenpasarPemerintah Provinsi Bali mendapat alokasi 5.000 dosis vaksin African Swine Fever (ASF) dari pemerintah pusat. Tambahan dosis ini dimaksudkan sebagai upaya pencegahan penyebaran virus demam babi afrika pada ternak babi di Bali.

“ASF menjadi perhatian serius karena penularannya cukup cepat dan dapat menyebabkan kematian pada ternak babi. Karena itu, kewaspadaan harus terus ditingkatkan oleh seluruh peternak,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali, I Wayan Sunada, Sabtu (30/5/2026).

Ribuah vaksin tersebut akan digelontorkan pemerintah pusat pada Juni mendatang. Setelah itu, vaksin akan didistribusikan ke kabupaten/kota di Bali pada Juli. “Pemerintah pusat saat ini sedang melakukan proses pengadaan vaksin ASF. Setelah distribusi dilakukan ke daerah, kami akan menyiapkan langkah teknis pelaksanaan vaksinasi sesuai sasaran yang telah ditetapkan,” imbuhnya.

Sunada menjelaskan bahwa vaksinasi ASF akan menyasar babi jantan dan indukan. Ternak babi penggemukan tidak menjadi prioritas karena pola pemeliharaannya relatif singkat sebelum dijual atau dipotong untuk konsumsi. “Babi pejantan dan indukan menjadi prioritas karena memiliki nilai penting dalam keberlanjutan produksi dan pembibitan ternak babi,” imbuhnya.

Selain itu, Pemprov Bali juga akan menerima vaksin Classical Swine Fever (CSF) sebanyak 20.360 dosis. CSF dikenal juga sebagai penyakit kolera babi yang mudah menular hingga dapat merugikan peternak babi.

Sunada menekankan pentingnya penerapan biosekuriti pada peternakan babi. Menurutnya, biosekuriti bukan sekadar tentang kebersihan kandang. Ia juga terkait pengaturan keluar masuk area peternakan hingga penggunaan disinfektan secara rutin. “Penerapan biosekuriti sangat efektif apabila dilakukan secara disiplin dan konsisten oleh peternak. Virus ASF dapat menyebar melalui berbagai media, sehingga perlindungan kandang harus dilakukan secara menyeluruh,” terang Sunada.

Dinas Pangan Bali mengimbau para peternak agar meningkatkan kewaspadaan ketika hewan ternak mulai menunjukkan gejala penyakit. Mulai dari demam, penurunan nafsu makan, tubuh lemas, perubahan warna kulit, hingga kematian mendadak. “Terapkan biosekuriti secara konsisten dan segera laporkan apabila ada gejala penyakit atau kematian tidak normal pada ternak. Dengan kerja sama yang baik, kita berharap kesehatan ternak babi di Bali tetap aman dan produktivitas peternakan masyarakat dapat terus berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Dengan alokasi vaksin dan penekanan pada biosekuriti, pemerintah Bali berusaha menjaga kesehatan ternak babi dan melindungi industri peternakan lokal.

Vaksin ASFPenularan VirusPeternakan BabiBiosekuritiDistribusi VaksinPemerintah Provinsi BaliTernak BabiKewaspadaan Peternak

Komentar

Memuat komentar...